
Shatya masih duduk di sofa ruang tamu sambil menyeruput teh hijau kesukaannya, tak lama Ryo tiba di apartemen dan melihat tuannya duduk seorang diri di sofa.
"Tuan dimana Nona Soo Hyun? saya datang untuk menjemputnya," tanya Ryo dan ikut duduk di sofa.
"Dia akan menginap disini malam ini,"
"Apa tuan sudah bisa menerima nona Kim Soo Hyun sebagai adik tuan?" Tanya Ryo merasa penasaran.
"Setelah aku merenungi, Soo Hyun tidak bersalah, dia tidak tau apa-apa. Lahir dari pasangan itu bukan berarti dia sengaja melakukan kesalahan. Kami berdua memiliki nasib yang sama aku harusnya tak boleh menyalahkannya.."Jawab Shatya.
"Aku senang mendengarnya tuan, semoga kalian berdua selalu saling menyayangi Sebagai kakak adik." Ryo senang mendengar jawaban Shatya, ia tau ada seseorang yang berperan penting dalam setiap perubahan Shatya yang tak lain adalah Sofiah.
"Hmm. Aku akan terus belajar menerima dia sebagai adikku dan menjadi kakak yang baik untuknya."
"Anda sangat luar biasa tuan semua ini pasti karna nona sofiah."
"Hahaha enak saja kau bicara, Aku memang memiliki hati yang baik."
"Tapi benar kan tuan?" ucap Ryo menggoda Shatya.
"Ah sudahlah aku mau mandi, jika tak ada lagi yang ingin kau bicarakan pulanglah Sanah." Ucap Shatya dan bangkit dari duduknya untuk pergi ke kamarnya.
"Baiklah tuan, telepon aku jika anda butuh sesuatu.."
"Ya ya aku tau sanah pergilah," ucap Shatya sambil berjalan menaiki anak tangga. Ryo hanya tersenyum melihat tuannya yang sedang salah tingkah kemudian ia segera meninggalkan apartemen.
Di dalam kamar, Sofiah dan Soo Hyun sibuk berbincang-bincang.
"Kakak ipar, waktu itu di acara ulang tahun ibuku kau bilang kau akan menceritakan padaku tentang mengapa kau bisa tinggal disini apa kau ingat?" tanya Soo Hyun yang duduk manis di atas ranjang bersama Sofiah.
"Oh ya..?" gumam sofiah pura-pura lupa.
"Ayolah kakak ipar ceritakan padaku," bujuk Kim Soo Hyun.
"Iya baiklah-baiklah, tapi jangan panggil aku kakak ipar."
"Ya ampun okey-okey sepertinya kau sangat dimanjakan. Sekarang aku akan ceritakan mengapa aku bisa ada disini, Waktu itu aku.. bla.. bla.. bla..." Sofiah mulai menceritakan kisahnya pada Soo Hyun mengapa dia bisa sampai tinggal di apartemen kakaknya. Mendengar kisah Sofiah mata Soo Hyun mulai Berkaca-kaca.
"Lalu apakah sampai sekarang kau belum bertemu temanmu yang jahat itu?" tanya Soo Hyun merasa iba dan kesal terhadap teman Sofiah setelah selesai mendengar penjelasan dari Sofiah.
"Belum. Tapi sekarang aku mengerti dia tidak jahat hanya saja dia sedang jatuh cinta."
"Kau bahkan masih membelanya padahal dia sudah berbuat begitu padamu, jika aku jadi dirimu ketika bertemu dengannya lagi aku pasti akan menjambak rambutnya sampai botak." Soo Hyun terdengar kesal dan sedih.
"Ya ampuun kau sangat galak rupanya ya mirip seperti kakakmu," ucap Sofiah tertawa kecil, Soo Hyun yang merasa iba langsung memeluk Sofiah.
"Hei tak apa. Lagipula jika dia tidak melakukan utu padaku, aku pasti tidak akan bertemu denganmu ya kan?" Sofiah tersenyum membujuk Soo Hyun.
"Baiklah kakak ipar, sepertinya tuhan memang sudah merencanakan ini semua agar kau bertemu dengan aku dan kakakku dan juga harus menghadapi ayahku yang galak itu." Ucap Soo Hyun dan melepaskan pelukannya. Kata-kata Soo Hyun barusan membuat sofiah termenung.
"Apa benar yang di katakan Soo Hyun?"
"Hei kakak ipar ada apa?" tanya Soo Hyun yang menyadari sofiah tengah melamun.
"Ah tidak apa-apa, sudah pukul 21.30 ayo sanah mandi, kita gantian okey?"
"Tapi kakak ipar aku tidak membawa pakaian, bolehkah aku pinjam pakaianmu?"
"Tentu saja sayangku." Jawab Sofiah membuat mereka berdua tertawa..
"Baiklah aku pergi mandi ya," ucap Soo Hyun beranjak dari tempat tidur.
"Ya mandilah dengan tenang.."
"Siap kakak ipar," teriak Soo Hyun karena sudah berada di dalam kamar mandi, Dari luar kamar mandi Sofiah tertawa kecil dan Bergumam pelan. "kakar ipar apanya, Soo Hyun ada-ada saja."
Sofiah merebahkan dirinya di atas kasur sambil bermain handphone sebentar untuk beristirahat sebelum pergi membersihkan diri.