
"Siapa namamu dan katakan mengapa kau bisa berada disana?" tanya Shatya pada gadis malang itu sekaligus meminta penjelasan mengapa dia berada di tepi jalan dan menangis disana. Mereka duduk di sofa ruang tamu apartemen bersama Ryo. Gadis Itu diam sejenak bingung harus memulainya dari mana, ia meremas jari-jari tangannya merasa malu jika harus menceritakan Kebodohan ini.
"Hei apa kau mendengar ku?" Shatya mencoba mengembalikan kesadaran gadis itu yang entah sudah kemana.
"Ah ya, Namaku Sofiah." Ia akhirnya memperkenalkan namanya. "dan aku berada di sini karena," terasa berat mengucapkan sepatah kata namun ia akhirnya memberanikan diri menceritakan semuanya.
"Seorang teman sepertinya menipuku, dia mengajak aku ikut bersamanya ke Korea untuk bekerja disebuah perusahaan ternama dengan gaji yang mahal. Aku yang tergiur dengan gaji yang dikatakannya akhirnya setuju dan ikut bersamanya disini, tapi ternyata dia datang kesini bukan untuk bekerja melainkan untuk menemui kekasihnya dan aku hanya dimanfaatkan untuk menemaninya dalam perjalanan karena dia tidak berani pergi sendirian." Sofiah menghentikan kata-katanya, dadanya mulai sesak dan rasanya dia ingin menangis, sakit sekali rasanya dikhianati teman sendiri yang sangat dipercayai.
"Lalu...?" dengan tenang Shatya masih terus meminta keterangan yang jelas dari Sofiah.
"Lalu... di tepi jalan tadi, dia meninggalkanku sendiri dan pergi bersama kekasihnya itu. Aku mencoba mengejar mobil yang mereka tumpangi tapi akhirnya aku tidak bisa dan aku pun putus asa lalu memilih menangis disana karena aku sangat bingung dan ketakutan." Iapun akhirnya menangis.
"Aku tidak percaya mengapa dia bisa Setega itu padaku, padahal kami sudah bersahabat sejak lama. Aku tidak tau bagaimana harus menjelaskan pada orang tuaku bahwa aku sudah tertipu oleh temanku sendiri." Sathya dan Ryo hanya bisa diam sambil menatap gadis itu dengan tatapan iba. Shatya menghela nafas panjang.
"Sudahlah jangan menangis. Kau tidak perlu menangisi yang sudah terjadi, lagi pula sekarang kau baik-baik saja. Pergilah istrahat kau boleh tidur di kamar lantai atas tepat di depan kamarku, Ryo akan mengantarmu." Mendengar namanya disebut Ryo segera bangkit dari duduknya.
"Mari nona saya akan mengantarmu ke kamar anda," ucap Ryo sambil mempersilahkan Sofiah.
"Hmm baiklah, sekali lagi terimakasih tuan," ucap Shofiah lalu mengusap air matanya dan mengikuti Ryo dari belakang. Sementara Shatya, ia hanya menatap kepergian kedua orang tersebut.
"Mengapa seseorang bisa memiliki cerita hidup Seperti Itu? rupanya gadis itu bisa di bodohi temannya karena sepertinya dia memang bodoh," ucap Shatya bingung memikirkan kebodohan Sofiah setelah dua orang itu menghilang dari pandangannya.
"Anda bisa tidur disini nona," ucap Ryo setelah pintu kamar itu terbuka.
"iya, terimakasih banyak. Saya akan segera menemukan teman saya dan meninggalkan tempat ini sehingga saya tidak akan merepotkan anda dan tuan anda lagi."
"Saya permisi dulu," pamit Ryo. "beristirahatlah dengan nyaman," katanya menambahkan.
Shofiah hanya tersenyum Kecil merasa tak enak dan kemudian menganggukkan kepalanya sambil berkata "ya terimakasih."
"Aah ini sangat nyaman. Tapi meskipun tempat tidur ini jauh lebih empuk dari pada kasurku, akan lebih nyaman lagi bagiku jika sekarang berada di rumah." Ia pun menutup matanya dan berharap semua yang terjadi hanyalah mimpi. Keadaan yang melelahkan yang terjadi hari ini membuat dirinya segera terlelap.
Ryo baru saja tiba dilantai bawah dan duduk kembali bersama Shatya.
"Tuan apa anda yakin membiarkan gadis tak dikenal itu menginap disini?" Tanya Ryo memastikan tuannya.
"Memangnya kenapa? Aku hanya mencoba membantunya malam ini dan besok dia harus segera mencari tempat lain untuk dia tinggali.m," jawab Shatya sambil memainkan handphonenya.
"Hmm baiklah, tapi kelihatannya gadis itu tidak tau apa-apa tentang kota ini juga tidak punya siapa-siapa yang ia kenal disini apakah tidak apa-apa menyuruhnya untuk pergi besok?" tanya Ryo lagi
"Entahlah, tapi tempatku ini bukan penampungan buat orang-orang yang tidak punya tempat tinggal," Jawab Shatya dingin yang membuat Ryo langsung membatin.
"A**neh sekali tuan padahal jelas-jelas kau sendiri yang membantunya dan membawanya kemari."
"Tapi tuan tidakkah anda merasa kasihan padanya?"
"Apa maksudmu? apa aku bertanggungjawab atas setiap masyarakat Indonesia yang tidak punya tempat tinggal di Korea dan membawa mereka tinggal di rumahku?" suara kesal Shatya membuat Ryo kehabisan kata-kata.
"Oh tuan, aku tidak mengerti dengan jalan fikiran anda, jika hanya akan mengusirnya besok mengapa menolongnya tadi?" lagi-lagi Ryo hanya bisa membatin.
"Baiklah tuan."
"Aku akan pergi tidur. Apa masih ada yang ingin kau tanyakan?" tanya Shatya sembari bangkit dari duduknya membuat Ryo ikut berdiri.
"Tidak ada lagi tuan. Saya akan pergi sekarang, jangan lupa hubungi saya jika anda membutuhkan sesuatu atau jika sesuatu terjadi," kata-kata yang selalu dia ucapkan pada tuan mudanya setiap kali akan kembali ke rumahnya dan meninggalkan tuannya di apartemen seorang diri.
"Hmm aku tau." Jawab Shatya singkat sambil mematikan handphonenya dan pergi berjalan menuju kamarnya. Ryo menatap kepergian tuan mudanya dari ruang tamu lalu segera beranjak pulang kerumahnya setalah punggung tuan mudanya hilang dari pandangannya.