Fall In Love In Korea

Fall In Love In Korea
Part 24


Di kampus Shatya duduk di taman seorang diri, ia terlihat begitu serius dengan buku yang dibacanya, begitu seriusnya bahkan dia tidak memperdulikan gadis-gadis yang sedari tadi menatap dan memujanya sebagaimana yang selalu dia lakukan setiap hari.


Sebenarnya meskipun terlihat sangat fokus Shatya masih teringat dengan kejadian pagi tadi, tatapan Sofiah padanya masih menganggu pikirannya, ia bisa melihat jelas mata Sofiah yang sedih namun ekspresi wajahnya terlalu biasa untuk dikatakan sedih.


"Aaah lagi pula mana mungkin dia akan menyukaiku, sejak awal aku selalu berbuat jahat padanya,"ucap Shatya tanpa sadar karena kesal, membuat orang-orang disekelilingnya menatap aneh padanya. Menyadari itu Shatya merasa malu dan dengan berdehem kecil sambil memperbaiki kemejanya ia lalu bangkit dari duduknya dan berlalu dari sana.


"Apa dia punya kekasih ?" para gadis-gadis itu bertanya-tanya dengan perasaan kecewa.


"Itu tidak mungkiiiin!" timpal yang lainnya.


Di tempat lain Sofiah baru saja keluar dari ruang kursus bahasa korea, perasaannya masih terasa sedih, sejak mengikuti pelajaran ia sama sekali tidak fokus dan kini ia berjalan gontai keluar dari gedung.


"Hai!!" sapa Eun Woo pada Sofiah, seperti biasa Eun Woo sudah menunggunya.


"Eh hai, mengapa disini? jangan bilang tadi setelah mengantarku kau tidak kembali dan malah menungguku disini ya?" tanya Sofiah.


"Hahah tidak, aku ke kampus dulu lalu setelah selesai mata kuliahku aku datang kesini untuk menjemput mu," jawab Eun Woo setelah tertawa kecil.


"Aah ya kau memang masih kuliah juga," gumam Sofiah sambil menganggukkan kepalanya.


"Kau sendiri memangnya tidak ingin kuliah?" tanya Eun Woo.


"Aku tidak seberuntung kamu, orang tuaku tidak mengijinkan karena masalah biaya. Aku juga tidak akan dapat beasiswa, sebagaimana yang kamu ketahui bahwa aku ini bodoh. Sudahlah lebih baik menjalani apa yang sudah menjadi takdirku dengan sabar dan ikhlas."


"Meskipun begitu kau tidak bisa mengumpat dirimu dengan kata-kata bodoh seperti itu."


"Hahaha kau benar, sungguh beda dengan Shatya."


"Tentu saja kamu harus berbeda."


"Tapi kau tidak perlu selalu datang menjemput ku seperti ini."


"Hahaha apa yang kau katakan? Apa kau sedang mencoba membuat jarak denganku?" tanya Eun Woo dengan senyuman manisnya lagi.


"Bukan begitu, hanya saja ini akan terlalu berlebihan jika kau terus menjemput ku seperti ini. Aku takut nantinya hanya akan merepotkan mu."


"Hahaha jangan hawatir, kau adalah sahabatku jadi tak perlu merasa sungkan seperti itu, rasanya akan menjadi seperti orang asing," ucap Eun Woo. "Ayo masuklah." Eun Woo mempersilahkan Sofiah masuk ke dalam mobil yang sudah dia bukakan pintunya.


"Baiklah," ucap sofiah tersenyum kecil dan masuk ke dalam mobil tersebut.


Dan dari jauh Shatya menatap mereka, ketika ia melihat mobil yang ditumpangi Sofiah dan Eun Woo melaju Shatya memerintahkan sopir taxi yang ia tumpangi mobilnya itu untuk mengikuti mereka.


"Ikuti mobil itu." pinta Shatya pada sopir tersebut.


Baik pak."


"Apa mereka sedekat itu?" tanya Shatya pada diri sendiri dalam kekesalan dan mungkinkah juga cemburu.


"Baiklah terimakasih pak, ini bayarannya," ucap Shatya sambil memberikan uang kertas Korea pada sopir tersebut lalu turun dari mobil.


"Kembaliannya tuan."


"Untuk bapak saja."


"terimakasih tuan."


"ya sama-sama."


Shatya berjalan masuk ke dalam restoran mewah itu dan menghentikan langkahnya ketika melihat Sofiah. Matanya terkejut melihat Sofiah yang dibentak oleh salah seorang pelanggan karena tidak sengaja menumpahkan minuman ke pakaiannya.


"APA KAU GILA!! JIKA TIDAK BISA BEKERJA JANGAN BEKERJA!!" teriak orang itu membuat semua mata menatap kearah mereka. "GAJI MU BAHKAN TIDAK CUKUP UNTUK MEMBELI PAKAIAN BERMEREK INI."


"Maaf pak saya sungguh tidak sengaja," ucap Sofiah panik dan merasa bersalah.


"Waah, lalu apa yang akan kau lakukan dengan pakaianku ini HAAAA?" teriak bapak tersebut, betapa temperamental nya orang ini.


"Tapi aku sudah minta maaf pak," ucap sofiah gemetar, mendengar jawaban Sofiah membuat laki-laki itu semakin marah dan hendak memukulnya, namun Sebuah tangan berhasil menangkap pergelangan tangan laki-laki itu sebelum mengenai wajah Sofiah yang sudah dia lindungi dengan jari-jarinya. Semua orang syok melihat pemandangan itu, sementara Eun Woo baru saja tiba dari kamar mandi, melihat pemandangan itu ia hanya bisa diam terpaku dan terkejut dengan apa yang terjadi, ternyata juga Shatya sudah lebih dulu melindungi Sofiah.


"MEMANGNYA BERAPA HARGA PAKAIANMU HAAA?" tanya Shatya pada Laki-laki tersebut, wajahnya merah karena emosi.


"Shatya..," gumam Sofiah dan menurunkan kembali tangan yang menutupi wajahnya. matanya menatap Shatya Yang dengan marah menginterogasi pelanggan itu.


"Haisss.. MEMANGNYA KAU SIAPA HA?" orang itu kesal dan balik bertanya dengan suara kerasnya.


"Dengan pakaian merek begini kau bahkan tidak mampu membeli kancing bajuku," ucap Shatya bukannya menjawab, membuat orang itu merasa semakin kesal.


"Jangan ikut campur. Masalahku hanya dengan gadis murahan ini," mendengar kata murahan yang dilontarkan orang tersebut Membuat Shatya sangat marah.


"kau bilang apa ? MURAHANNN!!! SIAPA KAU BERANI MENGATAKAN ITU???" bentak Shatya dan "Buakh" melemparkan pukulan bertubi-tubi pada lelaki tersebut. Sofiah kaget dan berusaha melerai mereka namun emosi Shatya sudah mencapai puncak.


"Cepat panggil security," ucap Sofiah panik.


"Tidak perlu," ucap Shatya ngos-ngosan dan melepaskan tangannya dari kerah baju lelaki itu.


"Apa masalahmu sebenarnya? memangnya siapa dia sehingga kau membelanya mati-matian??" tanya lelaki itu kesal, wajahnya babak belur karena pukulan Shatya. Mendengar pertanyaan itu membuat Shatya dan Sofiah beradu, mereka saling menatap cukup lama dengan ekspresi yang sulit di jelaskan, Suasana menjadi hening, semua orang memandang mereka begitupun dengan Eun Woo.


***


Mengungkapkan perasaan terkadang memang lebih sulit dari pada memendam nya. Butuh banyak keberanian dan keyakinan untuk menyatakan perasaan terhadap seseorang. Meski begitu memendamnya butuh kekuatan dan kesabaran.