Fall In Love In Korea

Fall In Love In Korea
Part 39


Shatya turun dari mobil yang dikendarai Ryo, ia tepat berada di depan rumah makan tempatnya dan Sofiah bekerja, lalu ia berjalan perlahan masuk ke dalam dengan niat hanya ingin melihat Sofiah dari jarak jauh meski sebentar saja, ia hanya ingin memastikan bahwa Sofiah baik-baik saja.


Namun pemandangan yang kini ia lihat benar-benar membuat jiwanya meronta, matanya merah karena emosi, ia nampak sangat kesal melihat adegan Sofiah yang tengah berada di pelukan Eun Woo Sehingga tanpa fikir panjang ia berjalan mendekat kearah Eun Woo dan Sofiah.


Tiba disana ia menarik tangan Sofiah dengan paksa sehingga membuat Sofiah terkejut dan juga terlepas dari pelukan Eun Woo dan entah dorongan apa Satu pukulan dari Shatya mendarat di wajah Eun woo sehingga membuat pria itu sangat terkejut dan menahan rasa sakit.


"Shatya apa yang kamu lakukan?" tanya Sofiah panik dan mencoba melerai mereka.


Eun Woo yang mendapat pukulan dari Shatya ikut terbawa emosi dan balik memukul Shatya.


"Kamu tidak punya hak melarang aku melakukan itu padanya. Memangnya kamu siapanya?" Tanya Eun Woo menggertak kesal dengan sikap Shatya yang tiba-tiba menyakitinya.


"Bangsat!" Makian keluar dari mulut Shatya dan kembali melemparkan pukulan pada Eun Woo namun kali ini Eun Woo tak membalas hanya memegang bibirnya yang luka dan berdarah, melihat itu Sofiah akhirnya Marah dan membentak Shatya.


"Shatya CUKUP! Eun Woo benar. Kamu tidak punya hak melakukan ini. Eun Woo hanya mencoba menghiburku, memangnya apa salahnya? kamu sendiri kan yang bilang jika memang marah kenapa harus melakukan kekerasan fisik!!" Sofiah melampiaskan amarahnya pagi tadi pada kesempatan ini.


"Jadi maksudmu setiap kali kamu sedih tidak masalah jika semua laki-laki memelukmu karena hanya ingin menghibur?" tanya Shatya dingin tatapannya tajam pada Sofiah. Mendengar kata-kata Shatya Sofiah malah semakin sakit hati seolah-olah Shatya sedang mengatainya.


Dalam kemarahan Sofiah menjawab dengan bentakan"YA MEMANGNYA KENAPA?? ITU HAK KU KAN??"


Shatya tersenyum kecut mendengar jawaban Sofiah, ia menatap tajam Sofiah matanya memerah dengan jawaban Sofiah dan tanpa fikir panjang ia menarik paksa tangan Sofiah keluar dari restoran membuat Sofiah terkejut. "Awww" lirih Sofiah tangannya sakit karena digenggam paksa oleh Shatya.


"Apa yang kamu lakukan!!" Eun Woo menahan langkahnya, mereka saling menatap tajam satu sama lain.


"Minggir, aku adalah orang pertama yang bertemu dengannya, dia tinggal di rumahku, jadi dia adalah tanggungjawab ku.." Ucap Shatya dingin dan kembali melangkah sambil menyenggol lengan Eun Woo, namun tak ada jawaban dari Eun dia hanya diam menatap kesal kepergian Shatya dan Sofiah.


"Shatya lepaskan!" rengek Sofiah, namun Shatya tak perduli ia memaksa Sofiah masuk ke dalam mobil sampai ia duduk di dalamnya lalu shatya menutup pintu mobil dengan keras dan ikut masuk ke dalam mobil.


"Apa kamu sudah gila??" tanya Sofiah kesal. Shatya Masih dengan amarahnya memandang Sofiah dengan tatapan marah dan seketika dia mencium Sofiah, menciumnya dengan tiba-tiba Membuat Sofiah sangat terkejut bahkan ia merasa jantungnya hampir saja lepas, tidak hanya Sofiah, Ryo yang juga berada di dalam mobil sangat terkejut dengan perbuatan Shatya namun ia lebih memilih pura-pura tidak melihatnya. Ia bisa melihat dengan jelas bahwa tuan mudanya sedang merasa sangat cemburu.


"Gunakan ini dan kembalikan handphone yang diberikan laki-laki itu," ucap Shatya sambil memberikan handphone kepada Sofiah yang masih tidak percaya dengan apa yang Shatya lakukan tadi.


"Memangnya kenapa? kau tidak perlu memberikan aku handphone disaat aku sudah memilikinya," bantah Sofiah setelah mengumpulkan kembali semua kesadarannya.


"Apa kau ingin aku mencium mu lagi?" tanya Shatya dengan kata-kata yang mampu membuat Sofiah menurut padanya.


"Ah Ani, aku akan mengembalikan handphone ini dan menggunakan handphone yang kau berikan."


"Jangan bohongi aku, besok kembalikan handphone itu," ucap Shatya tegas dan dingin. Sofiah tidak mengerti dengan apa sebenarnya yang sedang terjadi pada Shatya.


"Yayaya, aku mengerti." Entah kenapa Sofiah menjadi patuh begitu saja.


"Apa kau tidak akan bilang terimakasih?"


"Mengapa harus bilang terimakasih?" tanya Sofiah bingung.


"Karena aku sudah mengganti handphonemu."


"Tapi aku kan tidak menyuruhmu," belum selesai sofiah menyelesaikan ucapannya Shatya sudah mendekat ke wajahnya membuat ia gugup.


"Ah ya.., terimakasih Shatya kamu sungguh sangat baaaaiiiik," ucap Sofiah dengan paksa.


"Bagus, kedepannya jika butuh sesuatu kamu hanya harus memberitahu aku bukan laki-laki itu, mengerti?"


"Yaaaaaaa aku mengerti." Jawab Sofiah pasrah meski dalam hatinya merasa kesal.


"Aisss dasar sial, aku baru tau jika orang ini teramat sangat gila dan menjengkelkan.. bukankah harusnya aku marah? bukankah harusnya aku memukulnya? bukankah harusnya aku menolak ciuman itu??" batin Sofiah kecewa dengan dirinya yang mendadak jadi patuh seperti itu.