Fall In Love In Korea

Fall In Love In Korea
Part 6


Tiba di rumah sakit dengan berlari Shatya menggendong tubuh mungil Sofiah yang tak sadarkan diri itu, ia panik mencari dokter disana.


"Dokter, dokter!" panggilnya dengan tangan yang masih menggendong tubuh Sofiah, terlihat beberapa orang perawat dan dokter berlari kecil kearahnya lalu dengan segera membantunya. Sofiah dibawa masuk kesebuah ruangan untuk diperiksa sementara Shatya dan Ryo menunggu di luar ruangan. Selama Menunggu di luar Shatya tidak bisa duduk tenang ia terus mondar-mandir di depan ruangan dan sesekali duduk sambil menggoyangkan kakinya pertanda bahwa ia sedang gelisah. Sementara Ryo duduk tenang memperhatikan tuan mudanya yang tengah gelisah.


Shatya yang masih tak suka dengan suasana rumah sakit mau tak mau harus tetap berada disini, entah ada apa ia merasa sangat khawatir dan cemas.


"Tuan duduklah dan tenang, nona Sofiah akan baik-baik saja." Ryo akhirnya membuka suara karena tidak tahan lagi melihat tingkah tuan mudanya.


"Bagaimana aku bisa tenang? gadis itu pingsan di rumahku. Gadis bodoh itu! entah apa yang dia fikir kan sehingga memakan ramen yang sudah kadaluarsa sejak empat bulan lalu," ucap Shatya sambil terus mondar-mandir bahkan menggigit kuku ibu jarinya. Ryo hanya diam mendengar curhatan tuan mudanya.


"Ini adalah pertama kalinya aku melihat anda seperti ini tuan muda, selama ini anda hanya menampilkan sosok lelaki muda tampan yang cool dihadapan saya tapi ternyata anda bisa cemas juga," batin Ryo.


Beberapa menit berlalu dokter yang memeriksa Sofiah akhirnya keluar dari ruangan, Shatya pun langsung menghampiri dokter tersebut.


"Bagaimana Keadaannya dokter?" tanya Shatya.


"Apa kalian keluarganya?" dokter bertanya balik. Ryo dan Shatya hanya saling menatap setelah mendengar pertanyaan dari dokter. melihat tingkah dua orang tersebut dokter tertawa kecil seolah mengerti apa maksud dari tindakan mereka.


"Jika bukan keluarga maka salah satu diantara kalian pasti adalah kekasihnya, aku bisa mengerti." Ucap dokter tertawa kecil membuat kedua pria itu makin terbelalak, dokter diam sejenak karena melihat ekspresi mereka yang kebingungan lalu kembali melanjutkan pertanyaannya.


"Jadi siapa diantara kalian yang pacarnya?" pertanyaan dokter tersebut reflek membuat Ryo dan Shatya kaget sehingga keduanya saling menunjuk satu sama lain membuat dokkter semakin bingung.


"Ahh baiklah." Dokter itu menghela nafas dan mengangguk-anggukan kepalanya.


"Karena kau yang terlihat paling khawatir maka kau pasti adalah kekasihnya." Shatya langsung saja melotot karena dokter mengatakan kata-kata yang ditujukan pada dirinya.


"Ne, nega?" tanya Shatya pada Dokter sambil jari telunjuknya menunjuk dirinya sendiri mencoba meyakinkan kembali bahwa yang dokter maksud bukanlah dirinya.


"Memangnya siapa lagi disini yang paling khawatir? hanya kau kan? tidak usah malu anak muda, pacarmu cukup cantik mengapa sulit sekali untuk mengakuinya. Aigoo anak muda zaman sekarang memang sulit di mengerti." Shatya pasrah saja dengan apa yang dokter katakan padanya membuat Ryo tertawa kecil yang langsung mendapat tatapan mematikan dari Shatya.


"Baiklah lupakan itu, sekarang katakan apakah dia baik-baik saja?" tanya Shatya.


"Dia mengalami keracunan makanan. Sebaiknya lain kali dia harus memperhatikan apapun yang dia konsumsi, terlebih lagi dia memakan makanan yang sudah tidak layak untuk dimakan saat perutnya belum terisi makanan berat seperti nasi." Dokter menjelaskan.


"Syukurlah," ucap Shatya sambil menghela nafas. Dokter tersebut tersenyum mendengar ucapan Shatya yang merasa lega.


"Sekarang untuk sementara beri dia makanan yang sehat dan makanan yang mudah di cerna," ucap dokter menambahkan.


"Hm Arraseo (Baiklah)." Jawab shatya.


"Saya permisi dulu," pamit dokter sambil menepuk pundak Shatya dan juga menyempatkan waktu sedikit untuk membisikan sesuatu ditelinga Shatya.


"Jaga pacarmu baik-baik ya," mendengar bisikan dokter tersebut membuat Shatya kesal namun lebih memilih menahan kekesalannya.


"Ahh jangan lupa untuk mengurus pembayarannya di bagian administrasi," ucap dokter mengingatkan sebelum akhirnya benar-benar pergi.


"Baik Dokter, terimakasih banyak," ucap Ryo.


"Ya sama-sama." Jawab Dokter.


"Baik," jawab Shatya singkat lalu masuk ke dalam ruangan tempat Sofiah dirawat. Di dalam sana dia melihat gadis itu masih dalam keadaan tertidur dan perlahan ia berjalan mendekat ke tempat Sofiah terbaring lemah. Ketika melihat wajah gadis Itu Shatya menarik nafas dalam, ia tak habis Fikir mengapa bisa berurusan dengan gadis bodoh ini.


Terlalu lama menatap wajah itu membuat ia menyadari satu hal.


"Mengapa dia imut sekali begitu saat tertidur seperti ini?" ucapnya dalam hati.


"Kasihan juga gadis ini, apa sebegitu bodohnya dia sehingga bisa di tipu teman sendiri.? dan dari siapa dia mewarisi kebodohan ini? namun wajah imut ini?"


Shatya masih terus berbicara dengan dirinya sendiri. Sampai akhirnya mata bulat milik Sofiah terbuka Shatya tidak menyadarinya. Sofiah yang baru saja terbangun menyadari bahwa Shatya sedang menatap wajahnya.


"Ahh rupanya kamu disini tuan," ucapnya membuat Shatya menyadari apa yang sedang dia lakukan dan dengan salah tingkah dia berceloteh.


"Ya tentu saja aku di sini, sedang berfikir mengapa kau bisa terlahir dengan otak yang sangat sempit sehingga tak bisa berfikir luas, ramen kadaluarsa malah dimakan!" protes Shatya padahal Sofiah baru saja bangun.


"Tapi aku dimana?" dengan bingung Sofiah bertanya "bukankah aku tidur di sofa ruang tamu?" tanya Sofiah bingung sambil mengamati sekelilingnya.


"Aku sudah bilang kan, kau itu gadis yang aneh, mengatakan padaku bahwa kau disini rupanya tuan, padahal kau sendiri tidak tau kau ada dimana!"celoteh Shatya.


"Ini rumah sakit kan?" tanya Sofiah memastikan setelah ia melihat jarum infus di tangannya dan susana ruangan yang kental dengan medis.


"Tidak, kau sedang di salon sekarang," jawab Shatya kesal, "Sudah tau masih saja bertanya."


"Apa biaya rumah sakitnya mahal?" tanya Sofiah spontan.


"Tentu saja. Kau harus membayar ku nanti," jawab Shatya dingin dan tersenyum kecut.


"Aah baiklah tuan, terimakasih banyak." Ucap Sofiah tersenyum paksa, dalam batinnya padahal merasa kesal.


"Bagaimana aku akan membayar mu? aku saja bingung setelah keluar dari sini harus pergi kemana? aku juga tidak punya uang sepersen pun."


Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka membuat Shatya dan Sofiah menoleh kearah pintu, rupanya itu Ryo datang membawakan bubur ayam untuk Sofiah.


"Makanlah, bisa makan sendiri kan?" tanya Shatya sambil menyodorkan semangkuk bubur yang dibawakan Ryo tadi.


"Iya bisa tuan." Jawab Sofiah sambil menerima bubur yang diberikan Shatya kepadanya.


"Dan berhenti memanggilku tuan, itu sangat menjengkelkan." kritik Shatya. "Panggil saja Shatya, itu namaku."


"Baiklah Shatya." Ucap Sofiah tersenyum kecil namun masih menyimpan kekesalan di dalam hatinya.


"Orang ini ternyata tak se cool yang aku pikirkan faktanya dia sangat cerewet dan menyebalkan. Padahal dia begitu tampan tapi mengapa sangat pemarah aku bahkan baru sadar dan dia tanpa perasaan langsung mengomeli aku habis-habisan."


"Baguslah, makanlah dengan tenang lalu minum obatnya supaya lekas sembuh agar bisa mencari kerja untuk membayar ku kembali." Kata Shatya terdengar mengejek dibaluti senyum menyebalkan di wajahnya, Sofiah hanya mengangguk kecil dengan senyuman kecil mencoba menahan kekesalannya.


"Bagaimana aku bisa makan dengan tenang jika kau terus berceloteh seperti itu tuan brengsek???"