Fall In Love In Korea

Fall In Love In Korea
Part 16


Sofiah baru selesai mengikuti Kursus bahasa korea, kali ini dia sendirian tidak meminta Ryo menunggunya karena sepulang dari sana dia masih harus bekerja paruh waktu di restoran milik Eun Woo. Langkah kakinya terus berjalan keluar dari gedung, sampai akhirnya kini ia berdiri di depan gedung tersebut, matanya seperti mencari sesuatu, Yah dia sedang mencari taksi untuk dia tumpangi menuju tempatnya bekerja.


"Annyeong haseyo," suara sapaan dari seseorang membuatnya kaget.


"Oh Annyeong." Jawab Sofia setelah menyadari orang itu adalah Eun Woo.


"Waaah rupanya kau mulai mahir berbahasa Korea ya.." Puji Ein Woo.


"Yah aku rasa begitu," ucap Sofiah tertawa kecil dan sedikit menyombongkan dirinya.


"Kenapa disini?" tanya Sofiah.


"Menjemputmu," jawab Eun Woo dan tentu saja tidak melupakan senyuman ramahnya itu.


"Aku fikir kau akan datang lagi di kelas kursus bahasa Korea."


"Kemarin kan aku tidak benar-benar ingin belajar bahasa Korea."


"Yah kau benar, ayo pergi."


"Tunggu!" ucap Eun Woo sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.


"Ada apa?" tanya sofiah bingung.


"Ini untukmu," ucap Eun Woo menyodorkan benda itu pada sofiah.


"Handphone?"


"Ya, aku membelikannya untukmu. jadi hubungi aku jika kau butuh sesuatu, Aku juga sudah menyimpan nomorku di handphonemu."


"Waaah kau sangat baik, tapi kau tidak perlu melakukan ini," ucap sofiah tidak enak hati.


"Gwanchana (tidak apa-apa), kita kan Chingu!" ucap Eun Woo tertawa kecil.


"Gomawo (terimakasih)," ucap Sofiah merasa terharu.


"Heii jangan membuat ekspresi seperti itu, kau nampak jelek," canda Eun Woo.


"Ne Arasseo (ya baiklah), aku akan membayar mu nanti," ucap Sofiah dan tersenyum.


"Ayo masuk," pinta Eun Woo sambil membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Sofiah masuk.


"Gomawo," ucap sofiah sambil tersenyum dan masuk ke dalam mobil.


Sementara dari jarak yang tidak jauh dari Sofiah dan Eun Woo berdiri tadi, nampak seorang laki-laki memperhatikan mereka. Tangannya memegang dua buah susu kotak yang tadinya ingin ia minum bersama Sofiah, dan laki-laki itu adalah Kim Shatya. Iapun tersenyum kecut dan menatap kotak susu ditangannya.


"Wah aku pasti sudah gila, mengapa juga aku ingin melakukan ini? menjemput dan membawakan susu kotak untuknya? memangnya siapa dia? mengapa aku bertindak sebodoh ini? itu sangat memalukan."


kemudian dia pergi dengan kesal dan membuang dua kotak susu tak bersalah itu ketempat sampah. Ia tak mengerti mengapa Ia merasa kecewa dan sakit hati padahal gadis itu bukan siapa-siapanya.


"Apa aku cemburu? ah Tidak mungkin! Lagipula aku tidak menyukainya, lalu untuk apa aku merasa kesal??"


fikiran shatya tengah memberontak dengan hatinya.


***


pukul 21.00 malam, Sofiah baru saja tiba di apartemen di antar oleh Eun Woo, ia berjalan gontai seluruh tubuhnya terasa lelah. sementara Shatya duduk di atas sofa ruang tamu menunggu kepulangan Sofiah.


"Dari Mana saja kamu?" tanya shatya dingin.


"Ah aku lupa memberitahumu jika sehabis mengikuti kursus aku akan bekerja paruh waktu jadi aku akan terlambat pulang," jawab Sofiah. Mendengar jawaban sofiah, Shatya tersenyum sinis dan semakin kesal.


"Pergi bekerja atau berkencan?" tuduh Shatya, wajahnya nampak menahan amarah.


"Apa?" sofiah kaget. "Aku tidak mengerti apa maksudmu?" tanya sofiah bingung.


"Dengar! aku membayar mu ikut kursus bahasa Korea bukan agar kau bisa berbicara atau pergi seenaknya dengan sembarang orang! apa kau pergi keluar dan pulang selarut ini hanya untuk bersenang-senang dengan pria Korea? apa kau tidak punya harga diri? tidak ingat kau kejadian malam pertama di korea? bagaimana jika sesuatu terjadi padamu? atau selama ini kau hanya membodohi ku? pura-pura tertipu oleh temanmu padahal kau hanya ingin menipuku dan menguras uangku bersama kekasihmu itu??" kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Shatya membuat hati Sofiah merasa sangat sakit hingga ia akhirnya menangis. Padahal sebenarnya Shatya sangat mengkhawatirkannya karena ia baru saja mengenal Eun Woo dan sudah berani pergi hingga malam bersamanya.


"Jika itu yang ada di pikiran mu maka aku tidak bisa membantah. Tapi kau perlu tau bahwa aku tidak seburuk yang kau bicarakan!" ucap sofiah menahan amarahnya dan berlari menuju kamarnya. Shatya memandang kepergian sofiah dengan perasaan bersalah ia juga merasa hatinya ikut sakit.


"Apa aku terlalu berlebihan?" Shatya membatin. Ia kemudian duduk kembali.


"Apa aku memang cemburu? aku tidak suka melihatmu tertawa dengan laki-laki itu, aku kesal melihat kamu begitu akrab dan santai berbicara dengannya, maaf jika kata-kataku telah membuatmu sangat tersakiti."


Shatya bertanya-tanya pada diri sendiri, ia ragu bahwa dia telah jatuh hati pada gadis malang yang di tolongnya tersebut.


"Mungkinkah aku mulai menyukaimu dan aku juga cemburu.."