Fall In Love In Korea

Fall In Love In Korea
Part 5


Waktu sudah menunjukan pukul 07.30 pagi namun Sofiah baru saja terbangun dari tidurnya. Ketika mata bulat miliknya itu terbuka sempurna ia akhirnya menyadari bahwa yang terjadi kemarin dan semalam bukanlah mimpi semata dan langsung saja dengan kaget dia bangun dari tempat tidur dan duduk di atasnya, perasaan gelisah, cemas, dan takut Kembali menyelimuti hatinya.


"Jadi.. aku benar-benar ada disini??? Aaaah Ibu, Ayaaah selamatkan putrimu yang bodoh ini." Rengeknya ingin menangis sambil mengamati setiap sudut ruangan kamar.


"Tempat ini terasa sangat asing," ucapnya lagi lalu menghapus air matanya dan segera beranjak dari tempat tidur pergi ke lantai bawah untuk memeriksa apakah penghuni rumah masih ada di rumah. Perlahan-lahan ia melangkahkan kaki mungilnya menuruni anak tangga satu demi satu, matanya mengamati apakah ada orang atau tidak.


"Hmmm, sepertinya tak ada siapa-siapa disini, tuan tampan itu mungkin sudah pergi bekerja."


Shatya memang sudah berangkat ke kampus sejak pukul 07.00, ia punya urusan mendadak dengan prof Lee bahkan ia lupa bahwa di rumahnya ada penghuni yang tengah menumpang sehingga ia lupa membeli makanan untuk dimakan sofiah.


Di rumah Sofiah mulai sibuk mencari makanan di dapur namun ia masih tidak menemukan apa-apa.


"Argggh apa dia itu manusia? mengapa di dapur seorang manusia Tak ada sesuatu apapun yang bisa dimakan? atau jangan-jangan dia itu vampire dan aku adalah wanita yang dia simpan untuk sarapan darahnya nanti!!" ucap Sofiah bercanda dengan dirinya sendiri.


"Aaahahaha ada-ada saja aku, tapi sebenarnya apa gunanya dapur ini? apa hanya digunakan sebagai hiasan?" tanyanya pada diri sendiri.


"Dasar orang kaya emang nggak punya akhlak," cetusnya sambil melihat-lihat suasana dapur dan akhirnya tanpa sengaja matanya tertuju pada sesuatu didalam lemari kecil di dapur yang sedikit terbuka, rupanya ia menemukan sesuatu yang bisa dimakan disana. Ia tersenyum kecil dan bergegas untuk mengambil sesuatu yang dilihatnya itu.


"Waaw ramen?" katanya sambil tersenyum dan tanpa menunggu lama dia langsung memasak ramen itu dan melahapnya sampai habis.


10 menit kemudian "Arggggh Aku kenyang," ucapnya sambil mengusap-usap perutnya, namun tak lama sesuatu yang aneh mulai mengganjal diperutnya.


*****


Shatya baru saja tiba di apartemen mengambil barang yang dia lupakan. Setelah melepas sepatu dia berjalan ke ruang tamu dan melihat Sofiah tertidur pulas di atas sofa. Shatya akhirnya ingat bahwa semalam dia membawa pulang gadis itu ke rumahnya karena merasa kasihan.


"Mengapa dia tidur disini? seenaknya saja dia. Memangnya dia fikir dia siapa?" ucap Shatya dan berjalan mendekati Sofiah untuk membangunkannya.


"Hei gadis, mengapa kau tidur disini? kau benar-benar tidak tau diri rupanya. bukankah hari ini kau harusnya pergi dari sini? apa Ryo tidak memberitahumu?" Shatya mencoba membangunkan Sofiah sambil mengguncang tubuh mungil itu dengan kakinya.


Shatya kesal karena gadis itu tidak merespon sama sekali dan memilih membangunkan gadis itu dengan menepuk-nepuk tangan Sofiah hingga ia menyadari tangan itu begitu dingin, melihat Keringat dingin ditubuh Sofiah membuat Shatya kaget dan akhirnya ia menyadari bahwa Sofiah bukannya tertidur melainkan pingsan.


Ia kebingungan dan langsung menelpon Ryo untuk datang. Sambil menunggu Ryo datang dia mencari tahu apa sebenarnya yang membuat gadis itu pingsan dan iapun menemukan bungkus ramen yang sudah kadaluarsa sejak empat bulan lalu di dapur.


"Argggh sial! kenapa pagi tadi aku lupa jika gadis itu ada di rumahku sehingga aku tidak menyediakan makanan apapun!" umpatnya kesal dan kembali berlari keruang tamu. Tak butuh Waktu lama Ryo akhirnya tiba dan Shatya pun langsung menggendong tubuh Sofiah dan memapahnya masuk ke dalam mobil. Ryo kebingungan namun lebih memilih diam dan bertanya nanti saja.


"Kita ke rumah sakit." Pinta Shatya saat mereka sudah duduk didalam mobil, Ryo hanya menganggukkan kepalanya lalu menjalankan mobil tersebut. Dari kaca spion diam-diam Ryo memperhatikan tuan mudanya yang cemas dan khawatir, dia terlihat begitu gelisah. Lagi-lagi dalam hatinya Ryo bertanya-tanya.


"*A*da apa dengan tuan muda? ia terlihat begitu khawatir padahal jelas-jelas gadis itu bukan siapa-siapanya tuan.."


"Tolong lebih cepat lagi Ryo." Pinta Shatya sangat panik yang langsung diiyakan oleh Ryo. Mobil pun melaju dengan cepat menuju rumah sakit.