
Di dalam kamarnya Sofiah menangis sesenggukan, Ia tidak menyangka jika akan mendapat perkataan setajam belati dari Shatya. Air matanya terus bercucuran membuat ia semakin merindukan rumahnya.
"Ibuuuu aku merindukanmu," gumamnya dalam tangis, kemudian dia mengambil handphone yang diberikan Eun Woo padanya. Sudah lama sekali semenjak dia tiba di korea dia tidak pernah mengabari ibunya atau keluarganya, ibunya pasti sangat khawatir menantikan kabar darinya. Akhirnya dia memutuskan menghubungi kakak perempuannya. Jari-jari mungil itu mulai mengetik nomor satu persatu dilayar handphone kemudian mencoba menghubungi nomor tersebut.
Berdering.. Tersambung!
"Hallo?" suara dari seberang. Mendengar suara Itu sofiah semakin terisak dalam tangis, ia kenal betul pemilik suara itu.
"Siapa ya? ada yang bisa saya bantu?" tanya kakak perempuan-nya lagi, namun Sofiah diam masih berusaha menenangkan dirinya.
"Baiklah jika tidak ada, saya akan menutup teleponnya ya."
"Ini aku sofiah!" Jawabnya pelan mencoba menahan tangis.
"Apaaaa! sofiah!! sudah lama sekali dan kau baru menghubungiku? Sebegitu bahagianya kah dirimu sampai lupa mengabari kami?? apa kau tau ayah dan ibu sangat mengkhawatirkan mu? kau bahkan tidak bisa dihubungi!" celoteh kakak perempuannya yang merasa bahagia mendapat kabar dari Sofiah tapi juga masih kesal karena ia tak pernah mengabari mereka sebelumnya.
"Bukan begitu kakak. Handphoneku hilang saat tiba di korea dan aku baru punya handphone baru hari ini jadi baru bisa menghubungimu." Jawab sofiah, ia sangat merasa bersalah terhadap keluarganya.
"Hmm baiklah, lalu di mana Hana?" tanya kakaknya, Hana adalah teman yang membawa Sofiah ke Korea.
"Hana sibuk bekerja dia tidak ada disini," dengan terpaksa ia harus berbohong.
"Oh begitu rupanya, dia juga tidak bisa dihubungi," ucap kakaknya. Sofiah hanya diam sampai kakaknya melanjutkan perkataannya.
"Bagaimana kabarmu apa kau baik-baik saja?" pertanyaan kakaknya membuat tangisnya semakin deras membuat kakaknya merasa Hawatir.
"Hallo sofiah? apa kau menangis? kau baik-baik saja kan??" terdengar suara khawatir dari kakaknya.
"Aku baik-baik saja, aku hanya merasa rindu."
"Haiss aku fikir kau kenapa! sebentar aku akan menyambungkan telepon dengan ibu ya."
"Tidak jangan."
"kenapa? kau tidak mau bicara dengan mereka? kau masih dendam dengan mereka karena kau pergi tanpa izin dari mereka?"
"Nanti aku akan menelpon ibu, tapi tidak sekarang. Katakan pada ibu dan ayah untuk tidak perlu khawatir aku baik-baik saja disni," ucap Sofiah.
"Ya baiklah, berhentilah menangis dan jagalah kesehatanmu. Juga.. kembalilah jika keadaan disana semakin sulit." Ucap kakaknya menghawatirkan Sofiah.
"Yaa aku baik-baik saja, aku tinggal bersama orang yang sangat baik. Dia perduli padaku dan dia menjagaku, dia bahkan membayar biaya untukku ikut kursus bahasa Korea, dia membuatku menjalani kehidupan yang mudah disini," ucap sofiah tiba-tiba membicarakan tentang Shatya.
"Bukan!" jawabnya "dia Chingu," jawab sofiah pelan.
"Apa yang kau katakan, rupanya kau mulai menjadi aneh.."
"Ah lupakan! Aku akan pergi mandi, dan jangan lupa beritahu salam ku pada ibu dan ayah.. Assalamu'alaikum!" ucap Sofiah menutup teleponnya, iapun akhirnya bisa tersenyum dan melupakan perkataan Shatya yang kejam itu padanya.
Saat akan pergi ke kamar mandi Ia mendengar suara ketukan pintu lalu menahan langkahnya menuju kamar mandi dan malah berbalik berjalan untuk membuka pintu, setelah pintu terbuka tak ada siapapun di sana membuat sofiah bingung.
"Apa aku hanya salah dengar? tapi seseorang memang mengetuk pintu tadi!"
saat hendak menutup kembali pintu kamarnya, ia melihat ada sebuah kertas kecil yang ditempel di depan pintu kamar, Sofiah pun mengambil kertas itu dan disana ada tulisan tangan Shatya.
"Maafkan aku atas kata-kata kasar ku tadi, Aku pasti sangat keterlaluan. Aku sungguh menyesal." Setelah membaca tulisan tangan yang berisi permintaan maaf dari Shatya Sofiah tersenyum kecil Perasaannya menjadi lebih baik.
***
Tadi di ruang tamu setelah Sofiah meninggalkan Shatya dengan kesal, ia menghubungi Ryo dan bertanya perihal pekerjaan Sofiah dan Ryo pun menceritakan semua bahwa sofiah diterima bekerja di restoran mewah itu berkat teman barunya yang juga dari indonesia. Ia tak ada hubungan apa-apa dengan laki-laki itu hanya sebatas teman. Begitulah penjelasan dari Ryo yang langsung membuat Shatya semakin merasa bersalah.
"Kenapa kau baru memberitahuku setelah aku bertanya??"
"Kemarin malam saya hendak memberitahu tuan muda, tapi saat saya kembali ke ruang tamu tuan sudah tidak ada disana." Jawab Ryo
"Ah sial! baiklah aku akan menutup teleponnya."
Setelah menutup teleponnya Shatya berjalan ke kamar Sofiah untuk meminta maaf namun saat hendak ingin mengetuk pintu kamar, ia mendengar suara Sofiah Yang tengah berbicara dengan seseorang dari dalam dan kata-kata sofiah membuatnya semakin merasa bersalah rasanya seperti mendapat pukulan berkali-kali dan sangat menyakitkan.
"Yaa, aku baik-baik saja, aku tinggal bersama orang yang sangat baik. dia perduli padaku dan dia menjagaku, dia bahkan membayar biaya untukku ikut kursus bahasa Korea, dia membuat kehidupan ku di Korea menjadi lebih mudah."
Itulah kata-kata Sofiah yang membuatnya terdiam seribu bahasa dan menyesali perbuatannya, sebelumnya dia tidak pernah se gegabah ini.
"Gadis bodoh itu, dia bahkan masih memujiku padahal aku sudah menyakitinya," ucap shatya dengan perasaan sedih.
Shatya menarik nafas panjang dan menyandarkan dirinya di depan pintu kamar Sofiah, lalu pergi ke kamarnya untuk mengambil pena dan kertas kecil dan menulis surat permintaan maaf untuk Sofiah kemudian menempelkan surat itu di depan pintu kamar Sofiah, ia merasa malu jika harus minta maaf secara langsung mengingat Kata-katanya yang sudah sangat keterlaluan kepada Sofiah, ia yakin Sofiah juga belum mau melihat wajahnya. Setelah menempelkan kertas itu dia kembali ke kamarnya.
***
"Aku tau kau tidak seburuk itu, kau sebenarnya laki-laki yang sangat baik. entah apa yang membuatmu menjadi dingin dan kejam seperti itu," gumam Sofiah sambil tersenyum kecil dan menyimpan kertas kecil tersebut lalu pergi membersihkan diri.