Fall In Love In Korea

Fall In Love In Korea
Part 48


Jam 09.00 Shatya masih belum bangun dari ranjangnya,, disaat seperti ini dia sangat merindukan Sofiah yang periang. Ryo yang menunggu tuan mudanya diruang tamu mulai khawatir dengan apa yang sedang dilakukan tuan mudanya di kamar sehingga jam begini masih belum keluar dari sana. Tak bisa menahan lagi ia akhirnya memutuskan untuk melihat tuan mudanya di kamar.


"Tuan,, apakah anda sudah bangun.?" tanya Ryo dari depan pintu kamar Shatya sambil mengetuk pintu tersebut. Shatya terbangun mendengar suara Ryo.


"Hmm aku akan segera turun tunggulah di bawah." Jawab Shatya dan bergegas ke kamar mandi. Semalaman dia merasa sedih dan menangis sambil menatap foto ia dan ibunya untuk itulah dia merasa lelah dan bangun terlambat.


Usai membersihkan diri Shatya turun ke lantai bawah ruang tamu namun ia terkejut melihat ayah dan ibu tirinya tengah duduk di sofa.


"Kalian, ada apa kemari?" tanya Shatya bingung. Ibu tiri Shatya langsung menyenggol tangan suaminya sebagai kode agar menjawab pertanyaan Shatya tersebut.


"Ahh aku kemari ingin berbicara sesuatu denganmu," jawab ayahnya agak canggung. Mi Raa kemudian mengajak Ryo ke dapur untuk membantunya membuatkan teh, ia ingin membiarkan Shatya dan ayahnya berbicara dari hati ke hati.


"Adakah hal penting?" tanya Shatya pada ayahnya. Ayahnya kemudian diam sejenak dan mulai berfikir mencoba mengingat masa lalunya yang kelam dan mulai menceritakannya pada Shatya.


"Dahulu saat menikah dengan ibumu aku sangat mencintainya hingga kami dikaruniai seorang putra yang tampan yaitu kamu. Namun lambat laun kehidupan kami semakin sulit, jika terus hidup seperti itu aku berfikir tidak akan pernah bisa menjadi ayah yang baik untukmu, aku ingin membuatmu menjadi anak yang sukses namun dengan keadaan susah dikala itu aku takut tidak bisa menjadikanmu apa-apa, kekhawatiran ku akan dirimu membuatku memutuskan kembali ke korea dan melanjutkan karierku yang ku tinggalkan demi menikahi ibumu.. Aku kembali pada istriku yang ku tinggalkan di korea, istriku yang telah aku khianati. Kami menikah karena dijodohkan mungkin karena itulah aku meninggalkannya dan menikahi ibumu yang aku cintai.." Ayahnya menahan sebentar kata-katanya dan melanjutkannya kembali dengan nada penuh penyesalan.


"Aku telah melakukan kesalahan besar, aku hanya bisa mengharapkan pengampunanmu nak."


Shatya memang kecewa mendengar penuturan ayahnya namun untuk marah ia pun tidak bisa lagi, sebab akhirnya ia sadar bahwa kemarahan tidak bisa merubah apapun yang telah terjadi dimasa lalu.. Berdamai dengan masa lalu adalah satu-satunya jalan agar kembali hidup tentram seperti dulu. Shatya kemudian memeluk ayahnya dan mereka akhirnya menangis bersama.


"Maafkan aku juga ayah karena terlalu membencimu.. Aku hanyalah anak kecil berusia 12 tahun yang menganggap ayah terlalu serakah dengan hidup ini karena meninggalkan kami, namun sekarang aku sudah dewasa akhirnya bisa memahami kekhawatiran ayah, meskipun cara ayah salah namun semua sudah terjadi tidak bisa mengubah apapun dimasa lalu.," ucap Shatya membuat ayahnya memeluknya semakin erat..


"Terimakasih putraku,, kamu sungguh telah dewasa aku bangga padamu.." ucap ayahnya sambil melepaskan pelukannya.


"Dan soal gadis Indonesia itu, aku juga minta maaf.."


"Jadi ayah akan mengijinkan aku menemuinya?" tanya Shatya sangat gembira.


"Hmmm tapi aku masih akan sedikit egois." jawab ayahnya.


"Maksud ayah?" tanya Shatya bingung dan cemas, apakah ayahnya masih tidak akan merestui hubungan mereka.


"Untuk kebaikan masa depan istri dan anak-anakmu, selesaikan dahulu kuliahmu yang tinggal dua tahun ini lalu setelah itu pergilah menjemput gadis itu dan bawalah dia sebagai menantu di rumah kita, agar kamu tidak mengulang kesalahan yang sama seperti ayahmu ini," jawab ayahnya.


"Ayah bukankah itu terlalu lama?" Shatya mencoba protes.


"Anakku, jika dia memang mencintaimu maka dihatinya tertanam bahwa suatu hari nanti kamu pasti akan datang menemuinya.. Maka sekarang kita akan bertaruh jika dalam dua tahun ini dia menunggumu maka itu artinya kamu berhasil membuktikan pada ayah bahwa dia tulus mencintaimu namun jika kau bersikeras pergi saat ini juga maka itu artinya kau menunjukan pada ayah bahwa wanita itu tidak tulus mencintaimu.." Tantang ayahnya.


"Waah ayah memang sangat egois tapi aku akan menerima tantangan ayah..," jawab Shatya menerima tantangan ayahnya.


"Kau tidak akan menyesal?" tanya ayahnya.


"Jika dia telah bersama orang lain aku akan sedih namun tidak menyesal, jika memang dia tidak menungguku maka itu artinya dia memang bukan jodohku, aku juga ingin menjadi suami dan ayah yang patut dibanggakan. Jika datang ke rumahnya dengan status pengusaha sukses itu akan membuat keluarganya bangga padanya karena memilih pria yang tepat."


"Kau memang putraku," ucap ayahnya dan sembari memeluknya. Dibalik pintu ibu tirinya tersenyum bahagia melihat suami dan anaknya akur seperti itu..


"Aku membawakan teh untuk kalian," ucap ibu tiri Shatya membuat ayah dan anak melepaskan pelukannya. Shatya menatap wanita di depannya dengan perasaan bersalah.


"Tentu saja putraku," dan akhirnya memeluk Shatya.


"Maafkan aku ibu," ucap Shatya dalam pelukan ibu tirinya.


"Tidak apa-apa Putraku.." gumam ibunya sambil menangis merasa terharu, Ayah Shatya hanya bisa tersenyum haru melihat pemandangan itu.


Di saat tengah dalam suasana haru tiba-tiba terdengar suara seorang gadis yang berlari ke arah mereka.


"Ayah, Ibu.. Kalian berkunjung ke rumah kakak tapi tidak mengajakku? Kalian sangat jahat aku juga kan ingin bertemu kakakku." Kata-kata Kim Soo Hyun yang manja membuat semua orang tertawa.


"Hei adikku yang manja kemari lah, Aku merindukanmu.." Ucap Shatya. Mendengar itu Sofiah berlari kearah Shatya masuk ke dalam pelukannya.


"Kakak, dimana kakak Ipar," tanya Soo Hyun sambil melepaskan pelukannya.


"Dia sudah kembali ke Indonesia," jawab Shatya terdengar sedih namun dibaluti senyum tipis.


"Apa?? kakak ipar sangat jahat, dia pergi tanpa pamit dariku? apa aku telah melakukan kesalahan padanya sehingga dia pergi tanpa pamit padaku??" Kim Soo Hyun merasa sangat sedih dan menangis, Shatya tertawa melihat tingkah Kim Soo Hyun yang mirip dnegan Sofiah.


"Ahahaha bukan begitu adikku sayang, dia sangat merindukan keluarganya dan pergi terburu-buru, untuk itulah dia tidak sempat pamit padamu tapi percayalah dia sangat menyayangimu.." Shatya mencoba membujuk Kim Soo Hyun sambil memeluknya.


"Benarkah?"


"Tentu saja." Jawab Shatya.


"Kau mengatakan hal yang mirip dengan kakak ipar."


"Benarkah?"


"Hmm waktu itu kau tidak mau mengakui aku sebagai adikmu, aku bilang pada kakak ipar kau sangat jahat dan dia bilang itu tidak benar kau sangat menyayangiku."


"Rupanya kalian dekat saat itu yaa"


"Kau saja yang tidak tau."


Shatya dan keluarga tertawa mendengar ucapan Sofiah tersebut.


"kakak suatu hari nanti, kau harus membawa kakak ipar kembali ke Korea, kau harus berjanji padaku untuk menjemputnya oke.?"


"Baiklah adikku, kau ini sangat manja rupanya ya.."


Melihat kerukunan antara Satya dan Kim Soo Hyun membuat kedua orang tua mereka tersenyum bahagia. Rasanya keluarga utuh kembali. Sangat mendamaikan hati melihatnya.


Sejak hari itu Shatya semakin serius dalam belajar untuk memperoleh nilai terbaik di kelulusan nanti, semuanya semata-mata untuk bisa segera bertemu Sofiah.