
Sofiah terbangun dari tidurnya karena suasana perutnya yang semakin tak nyaman, ia memang belum makan apapun semenjak tiba di korea pagi tadi. Sambil menguap dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal dia bangun dari tidurnya dan duduk di atas tempat tidur.
"Ya ampun aku sangat lapar," rengeknya pada diri sendiri dan mengusap-usap perutnya, Ia pun memutuskan untuk mencari makanan di dapur. Sebelum turun ke dapur dia masih memastikan apakah Shatya sudah tertidur ataukah belum namun melihat kamar Shatya yang sudah terkunci rapat dan lampu yang sudah padam di seluruh ruangan membuatnya yakin bahwa Shatya pasti sudah tidur, dengan hati-hati dia berjalan menuju dapur dilantai bawah.
"Mengapa tak ada apa-apa yang bisa di makan disini?" gerutunya kecewa setelah melihat isi kulkas yang kosong hanya tersisa beberapa air minum, karena kesal tanpa ia sadari ia telah menjatuhkan sebotol air dari dalam kulkas sehingga menimbulkan suara berisik, wajahnya pun berubah kaget dan panik.
"Aaah aku sangat lapar tapi malah membuat masalah baru, oh Tuhan jangan biarkan tuan tampan itu banguuuun,"
tiba-tiba lampu menyala membuatnya kaget dan hendak ingin bersembunyi di suatu tempat namun ia keburu ketahuan oleh Shatya.
"Apa yang kamu lakukan tengah malam begini?" tanya Shatya, mendengar suara itu Sofiah mengumpat dirinya sendiri dalam hati.
"S**ial mengapa dia bisa ada disini sih!?bukankah harusnya sekarang dia tertidur pulasssss dan berada dalam mimpi indaaah?? dasar Sofiah bodoh mengapa tidak menahan lapar saja!"
Usai memaki diri sendiri Sofiah ragu apakah harus membalikan badannya menghadap ke asal suara yang berada tepat dibelakangnya tersebut, namun mau tak mau dia harus melakukan itu karena sudah ketahuan.
"Hehe aku hanya kehausan," celutuknya tersenyum malu dan salah tingkah sambil memegang perutnya, membuat Shatya tertawa kecil melihat tingkah Sofiah, setelah tertawa kecil wajah Shatya kemudian berubah serius, ia berjalan mendekati Sofiah membuat Sofiah bingung dan berjalan mundur.
"Tidak kok. Aku sungguh haus," Sofiah masih membela diri meski kini ia sedang salah tingkah, dan tanpa sengaja ia menginjak lantai yang basah akibat air yang tertumpah dari botol air tadi dan membuat ia tergelincir hendak jatuh namun dengan lincah Shatya berlari meraih tubuh Sofiah ke dalam pelukannya dan berhasil menyelamatkan tubuh mungil Sofiah itu jatuh mengenai hantaman lantai. Matanya terbelalak syok menatap tingkah keren Shatya.
"Dasar bodoh apa susahnya untuk bicara apa adanya!!" protes Shatya sambil membantu Sofiah berdiri kembali dengan benar membuat Sofiah sadar dari kekagumannya.
"Aku tau bahwa yang membuat keributan di dapur pasti adalah kamu dan aku bisa menebak pasti itu karena kamu merasa lapar, jadi aku bawakan beberapa roti itu dari kamarku. Makanlah itu dan segera pergi tidur jangan membuat keributan lagi! aku tidak suka suara berisik," lanjut Shatya sambil menunjuk beberapa roti yang ia letakkan di atas meja saat hendak menolong Sofiah tadi.
"Sial jika sudah tau mengapa masih bertanya? apa dia sengaja ingin membuatku malu dan terlihat bodoh!" batin Sofiah kesal namun berusaha menahan kata-katanya.
"Hmm iya terimakasih," ucap Sofiah menahan sabar. Shatya pun berbalik untuk kembali ke kamarnya sambil tertawa cekikikan akibat tinggal konyol Sofiah.
"Waah sial mengapa dia bicaranya banyak seka??" gerutu Sofiah sambil menatap kepergian Shatya namun kemudian ia tersenyum senang dan melupakan kekesalannya karena melihat beberapa roti yang terletak di atas meja lalu membawa roti itu ke kamar dan dengan segera ia melahap habis semua roti itu karena kelaparan.
"Ohh terimakasih Tuhan, meski bukan makanan enak seperti buatan ibu tapi setidaknya perutku sudah terisi," ucap Sofiah bersyukur. "Aku jadi merindukan ibu." Matanya berubah merah dan berkaca-kaca menahan tangis.
"Ibuuu apa yang harus aku lakukan? apa aku meminjam uang saja pada laki-laki itu? tapi untuk kembali ke rumah aku bahkan tidak berani, aku malu menampakan wajah pada ayah dan ibu. Sejak awal ayah tak mengijinkan aku pergi namun karena sangat ingin membantu ekonomi keluarga, aku dengan sangat percaya diri melawan ayah dan memaksa pergi, berharap ini adalah kesempatan besar untuk mengubah Kehidupan kita. Tapi semua yang terjadi hanyalah sesuatu yang mengerikan seperti ini," keluh Sofiah menyesali keputusannya. Sofiah akhirnya tidak bisa menahan butiran-butiran kecil yang sedari tadi terbendung di pelupuk matanya dan mulai menangis tanpa suara di keheningan malam yang gelap gulita dan bersembunyi dibalik selimutnya.