
Sofiah berjalan masuk kembali menuju dapur untuk membawakan makanan ke kamar Shatya.
"Kamu bicara dengan siapa tadi? mengapa berisik sekali?" tanya Shatya setelah menuruni anak tangga ke ruang tamu. Sofiah kaget mendengar suara Shatya.
"Eh kamu disini? padahal aku akan ke kamarmu untuk membawakan makanan," ucap Sofiah menghindari pertanyaan Shatya.
"Tidak perlu. Aku sudah sehat," ucap Shatya.
"Jadi katakan siapa yang bicara denganmu tadi?" Shatya masih menginterogasi, Sofiah gugup bingung harus menjawab apa.
"Ahh katanya dia ibumu," jawab Sofiah menepis rasa ragu.
"Ibu?" tanya Shatya mengerutkan keningnya.
"Iya ibu. Dia bilang padaku dia adalah ibumu," ucap Sofiah pura-pura belum tahu apapun.
"Apa yang dia lakukan di sini?" tanya Shatya, raut wajahnya datar dan susah ditebak.
"Dia hanya menanyakan kabarmu, setelah aku bilang kamu sakit dia sangat khawatir dan dia juga memintaku membantunya membuatkan makanan karena tau aku tidak bisa masak," ucap Sofiah panjang lebar setelah melihat tak ada ekspresi marah dari wajah pria itu.
"Kalau begitu makanlah. Aku akan pergi ke kampus," ucap Shatya dingin yang berhasil membuat mata Sofiah melotot. Kemudian Shatya berjalan menuju pintu apartemen sambil menenteng tas di bahunya.
"Tunggu!" kata sofiah dan berlari menghalangi jalan Shatya.
"Ada apa?" tanya Shatya bingung dengan tingkah konyol Sofiah yang tiba-tiba menghalangi jalannya.
"Makanlah sedikit kau belum makan apapun," pinta Sofiah.
"Aku akan makan di luar." kata Shatya dan menyingkirkan Sofiah yang menghalangi jalannya.
"Eeeeh tunggu!" Sofiah kembali menghalangi jalan Shatya.
"Makanlah kumohon hmmm?"
"Apa alasanmu sebenarnya memaksa aku makan? apa karena wanita itu yang memasaknya?"
"Tidak kok. Karena aku khawatir padamu," jawab Sofiah membuat alasan. Shatya sendiri merasa jiwanya merasa tergetar mendengar jawaban Sofiah, dalam hatinya ia tersenyum senang..
"Ehem." Shatya berdehem kecil dan membalikan badannya kembali berjalan kearah meja makan sambil berkata. "Baiklah aku baru menyadari ternyata aku sangat lapar," mendengar itu Sofiah tertawa kecil, ia merasa senang berhasil membujuk Shatya makan makanan buatan ibu tirinya, fakta bahwa Shatya membutuhkan perhatian adalah benar sebagaimana yang dikatakan ibu tirinya, iapun segera bergegas menyusul Shatya di meja makan dan merekapun makan bersama.
setelah satu suapan masuk ke mulut nya, Shatya terdiam sejenak.
"Emm lumayan." Jawab Shatya dan kembali melahap makanannya. Sofiah tersenyum kecil dan mulai menyantap makanannya juga, ia tau makanan ini sangat nikmat.
"Apa yang dia katakan padamu?" tanya Shatya menginterogasi tanpa melirik kearah sofiah Namun Sofiah memandang bingung kepada Shatya, entah ia harus berbohong apa lagi..
"Dia hanya bilang kamu satu-satunya anak laki-laki yang dia punya, katanya kamu baik dan tampan," ucap Sofiah dan kembali fokus pada makanannya. Shatya sendiri hanya tersenyum kecut mendengar jawaban Sofiah, ia masih tidak bisa percaya bahwa ibu tiri menyayanginya.
"Tapi sudah dua hari ini Ryo mengapa belum juga nampak?" tanya Sofiah mencoba mengubah topik pembicaraan.
"Ayahnya sakit, untuk sementara dia tidak akan bisa datang kemari karena merawat ayahnya," jawab Shatya.
"Aaah kasihan sekali Ryo." Gumam Sofiah.
Saat hendak melanjutkan makan tiba-tiba terdengar dering pintu, rupanya mereka kedatangan tamu, Shatya berdiri dari duduknya hendak membukakan pintu namun Sofiah mencegahnya.
"Biar aku saja," ucap Sofiah dan berlari kecil menuju pintu, Shatya hanya memandangnya tanpa ekspresi dan kembali duduk.
"Anyyeong haseo." Suara lembut seorang wanita Cantik asal Korea Go Haa Jin.
"Anda siapa?" tanya Sofiah pada Go Haa Jin yang berdiri di depan pintu apartemen yang sudah terbuka itu.
"Saya teman Shatya di kampus," jawab Go Haa Jin (dalam bahasa korea), sofiah yang mulai mengerti sedikit bahasa Korea mengerti apa yang dikatakan wanita itu.
"Aah masuklah Shatya sedang sarapan" ucap Sofiah dan menuntun wanita itu menuju meja makan. Melihat gadis yang datang mendekat kearah meja makan membuat Shatya menatap kaget.
"Kenapa kamu kemari?" tanya Shatya.
"Kemarin kamu tidak datang ke kampus padahal kita ada pembuatan produk penting, aku khawatir dan memutuskan mengunjungimu kesini." Jawab Go Haa Jin lalu duduk bersama mereka di meja makan.
"kalau begitu aku akan pergi ke kamar," ucap sofiah tidak ingin mengganggu.
"Tidak. Tetaplah duduk di situ." Suruh Shatya pada Sofiah membuat Sofiah diam-diam merasa kesal.
"Apa dia ingin aku melihat mereka berdua romantis di sini??" Batin sofiah dan duduk kembali.
"Makanlah," ucap Shatya pada Sofiah dan Go Haa Jin yang di jawab ya oleh kedua gadis tersebut.
Mereka makan dengan keadaan canggung terutama Sofiah, ia tak tau mengapa suasana menjadi sangat canggung hanya karena seorang gadis datang makan bersama mereka. Terlebih lagi Shatya yang nampak cuek dan bodo amat membuat Sofiah bingung.