
Setelah keluar dari Apartemen Goo Haa Jin akhirnya punya kesempatan untuk menanyakan apa yang ingin ia tanyakan sejak tadi.
"Shatya, apa kamu tinggal dengan gadis itu?"
"Ya." Jawab Shatya dingin sambil terus berjalan tanpa menoleh ke arah Goo Haa Jin.
"Apa dia adikmu?"
"Dia temanku dari Indonesia."
"Apa kalian dekat? bagaimana dia bisa tinggal di rumahmu? apa dia berencana kuliah atau kerja disini?"
"Sebenarnya apa yang ingin kamu tanyakan?" tanya Shatya kesal dan menghentikan langkahnya. Ia merasa sangat terganggu dengan Pertanyaan Goo Haa Jin sebab dia sangat benci ketika orang lain ikut campur dengan urusan pribadinya.
"Mengapa kau sampai segitunya? aku kan hanya ingin bertanya," jawab Go Haa Jin, wajahnya memelas karena sedih mendengar ucapan ketus dari Shatya.
"Apa itu penting untuk kamu ketahui?" tanya Shatya berusaha mengontrol kekesalannya.
"Tentu saja, karena aku menyukaimu.. Aku sangat menyukaimu sejak setahun yang lalu. Aku berusaha keras belajar dan meraih posisi kedua agar kau melihatku, mengenalku.." Jawab Go Haa Jin tak bisa memendam perasaannya lagi. Jawaban Go Haa Jin membuat Shatya membeku, diam mematung tak bisa bersuara Namun pada akhirnya dia memberanikan diri mengatakan kejujuran pada Go Haa Jin.
"Miannhe Go Haa Jin, Aku menyukai orang lain." Jawaban Shatya cukup membuat gadis cantik asal Korea itu merasa sangat sakit di hatinya.
"Waaah aku pasti begitu mudah bagimu!! memangnya siapa wanita yang kau sukai itu.? wanita yang tinggal denganmu di apartemen itu?" tanya Go haa Jin mulai menangis, tanpa dia sadari Sofiah dan Eun Woo sudah berdiri tepat di belakangnya. Eun Woo hanya terdiam memandang Sofiah ketika mendengar Sofiah menjadi Bagian dari pembicaraan Go Haa Jin dan Shatya. Sementara Sofiah hanya bisa menelan ludah dalam dan Shatya yang berdiri di depan Go Haa Jin tepat bertatapan dengan Sofiah yang berada di belakang Go Haa Jin, matanya menatap Sofiah dan dengan suara berat dan pelan dia berkata..
"Bukan. Wanita yang kusukai adalah seseorang yang lain..," mendengar ucapan Shatya Eun Woo merasa lega begitupun Go Haa Jin, sementara Sofiah segera memalingkan wajahnya dari tatapan Shatya dan menelan ludah dalam. Entah kenapa ia merasa sakit dengan ucapan Shatya itu..
"Aku bersyukur jika yang kau sukai bukan dia, aku juga tidak akan menyerah untuk membuatmu menyukaiku." Ucap Go Haa Jin dalam tangisnya, ia terdengar masih sangat sangat percaya diri.
Eun Woo dan sofiah menatap kepergian Shatya tanpa suara, dalam hatinya Sofiah masih merasa ada yang aneh, namun dia juga bingung mengapa perasaannya seperti ini.
"Apa aku... menyukainya???" tanya Sofiah dalam batinnya sambil menatap langkah kaki Shatya yang kian menghilang dari pandangannya.
"Jika harus jatuh cinta? mengapa harus jatuh cinta padanya? orang itu tak mungkin akan menyukaiku, orang itu terlalu sulit untuk dimiliki, sekelas wanita cantik Korea itu saja tak mampu memikat hatinya, lalu bagaimana dengan gadis jelek dan bodoh seperti aku? ternyata dia sudah punya orang lain yang dia cintai.."
Sementara Go Haa Jin masih dengan perasaan kecewanya berlalu meninggalkan tempat itu.
"Sofiah Gwanchanaeyo?" tanya Eun Woo menyadari Sofiah yang Tengah memikirkan sesuatu dalam diamnya.
"Ahh Gwanchana," jawab Sofiah.
"Kalau begitu ayo pergi, kamu akan terlambat nanti," ucap Eun Woo dan menarik tangan Sofiah membawanya masuk ke dalam mobil.
Sementara di tempat lain Shatya duduk termenung di dalam bus, sebenarnya Shatya memang lebih suka naik bus setiap pergi kemana-mana, baginya ia lebih bisa menikmati perjalanan ketika duduk di dalam bus tanpa ada orang yang mengenalinya.
Ingatannya kembali pada Tatapan Sofiah padanya tadi, ia bingung dalam menyimpulkan tatapan itu entah tatapan berharap dirinya mengatakan iya atau tatapan kosong tanpa harapan apapun..
"Ia terlihat sangat akrab dengan laki-laki Korea itu, mungkin saja dia menyukainya dan bukannya menyukaiku." Batin shatya dalam diam, ia merasa terluka dengan pemikirannya sendiri.
***
Mungkin memang akan lebih baik jika kita tidak memberi harapan pada seseorang yang tidak ingin kita cintai namun ia mencintai kita. Semakin membiarkannya, hanya akan membuat harapannya pada kita semakin besar dan ketika harapannya itu tidak mampu kita wujudkan maka hanya akan semakin menyakiti perasaannya.