Fall In Love In Korea

Fall In Love In Korea
Part 36


Nampaknya Sofiah duduk diam merenung di halte bus, Ia tau gadis yang bersama Shatya itu adalah sahabat sekaligus cinta pertama Shatya, ia sengaja menguping pembicaraan mereka pagi tadi. Untuk kembali ke apartemen Shatya pun ia merasa tak punya tempat lagi di sana, ia malu dan khawatir jika nantinya hanya akan mengganggu mereka dan membuat kekasih Shatya itu merasa tidak nyaman.


Shatya menarik nafas dalam ia merasa lega ketika melihat Sofiah baik-baik saja duduk di halte bus dan karena rasa khawatirnya ia melepaskan payung di genggamannya dan berlari kearah Sofiah, Sofiah yang menyadari kedatangan Shatya lantas berdiri dari duduknya dan memandang Kim Shatya yang berlari kearahnya. Sofiah hampir tidak percaya dengan apa yang Shatya lakukan, mata bulatnya terbuka lebar, dan ia hanya diam terpaku ketika Shatya memeluknya erat.


"Kamu baik-baik saja kan?" Tanya Shatya berbisik pelan karena rasa khawatirnya.


"I..iya aku baik-baik saja..,"jawab Sofiah kebingungan.


"Aku senang mendengarnya, lain kali jangan menghilang seperti ini ya.." Ucap Shatya lirih dan mempererat pelukannya, entah mengapa ia merasa sangat takut jika Sofiah benar-benar menghilang.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Sofiah pelan, tak ada jawaban dari Shatya ia hanya terus memeluk Sofiah dengan nyaman, mencoba menepis semua kekhawatirannya.. Sofiah tak bisa berbuat apa-apa dan menerima saja pelukan Shatya, ia bisa merasakan jantung Shatya yang berdegup kencang karena berlari dan juga karena mengkhawatirkan-nya. Mereka membiarkan waktu berlalu dengan diam dalam hangatnya pelukan di bawah rintikan hujan. Andaikan bisa, mereka ingin waktu berhenti sebentar saja agar kehangatan ini tidak akan segera berlalu..


Sementara dari jauh Eun Woo menatap sedih kepada mereka berdua yang tengah berpelukan, lagi-lagi ia terlambat dan Shatya yang selalu ada lebih awal di saat Sofiah benar-benar butuh. Matanya berkaca-kaca, jantungnya berdegup kencang ada rasa sakit disana namun ia tak bisa apa-apa dan hanya memilih diam menyaksikan suasana yang menyesakkan dadanya itu.


"Kenapa aku selalu terlambat? kenapa bukan aku yang berada di sana dan memeluk Sofiah? kenapa bukan aku yang bertanya lebih dulu apakah Sofiah baik-baik saja..?" Batin Eun Woo penuh penyesalan.


*****


Shatya tiba di apartemen bersama Sofiah yang sudah menggunakan jaket Shatya karena kedinginan.


"Segeralah membersihkan diri, jika tidak nanti kau akan sakit," ucap Shatya masih khawatir setelah mereka berada di dalam ruang tamu apartemen.


"Hmm ya..," jawab Sofiah.


"Sudahlah jangan banyak bertanya, aku akan masuk ke kamarku sebentar untuk mandi." Jawab Shatya pada Naura dan berjalan menaiki anak tangga, Sofiah juga melakukan hal yang sama membuat Naura merasa sangat kesal dan menatap kepergian mereka dengan jengkel.


Malam semakin larut Sofiah dan Shatya turun kelantai bawah ruang tamu setelah membersihkan diri..


"Hei kalian sudah tiba, ayo makan. Aku sudah membuatkan makan malam untuk kalian," ucap Naura pada Sofiah dan Shatya.


"Kau yang memasak?" tanya Shatya sambil berjalan kemeja makan dimana Naura berdiri.


"Hmm aku belajar memasak sejak kelas 2 SMA, kau kan tau aku sangat suka memasak." Jawab Naura dengan tersenyum percaya diri. Shatya tak berkata apa pun dan mencoba mencicipi masakan Naura.


"Hem ini sangat enak." Puji Shatya, Naura tersenyum puas.


"Apa yang kau lakukan disana? ayo kita makan bersama." Ucap Naura yang melihat Sofiah hanya berdiri di ruang tamu dan berjalan kepada Sofiah untuk membawanya kemeja makan. Mereka bertiga akhirnya duduk bersama di meja makan untuk menyantap makan malam.


"Ini sangat enak Naura, dari mana kau belajar memasak ini semua?" tanya Shatya menikmati makanannya.


"Hahah aku belajar dari ibu ku kok..," jawab Naura bangga pada diri sendiri. Sofiah dia menjadi minder setelah merasakan masakan Naura yang begitu lezat sementara dirinya tidak bisa memasak apa pun selain bubur ayam.


"Gadis ini sempurna, ia sangat cantik dan juga pandai memasak aku sendiri bahkan menggoreng telur sering gagal padahal jelas-jelas aku miskin dan Naura kaya, bukankah dunia ini sedang terbalik..? aku menyesal tidak pernah menuruti ibu saat dia ingin mengajariku memasak, dibanding Naura aku bukanlah apa-apa.."


Batin Sofiah merasa sedih dengan dirinya sendiri, pemikirannya yang selalu melihat orang lain lebih baik darinya membuat dirinya selalu insecure.