
"Aku tidak akan pergi!" ucap Naura lantang.
"Pergilah..," ucap Shatya mencoba bersabar.
"Kau sendiri tinggal serumah dengan seorang wanita, dan kau hanya menyalahkan aku padahal kau juga sama??" Naura akhirnya mendapat topik pembelaan untuk dirinya sendiri. Matanya pun menatap tajam pada Shatya dengan tatapan penuh tanda tanya, siapa gadis itu? mengapa bisa berada di rumah yang sama dengan Shatya? Sejak tiba di apartemen Shatya dan melihat gadis itu ia terkejut dan bertanya-tanya pada diri sendiri tentang siapa gadis itu yang tak lain adalah Sofiah.
"Itu tidak seperti yang kamu fikirkan." Jawab Shatya tidak menghindari tatapan mata Naura.
"Jika memang begitu aku akan tinggal disini, kau sudah berjanji padaku bahwa kau akan menjagaku, melindungi aku Sebagai sahabatmu, aku sendiri disini tidak punya keluarga atau teman jadi Jaga dan lindungi aku disini sebagaimana janjimu padaku." Ucap Naura mulai menggunakan jurus air mata. Terlihat jelas ia juga menahan kekesalannya.
Sejak dulu air mata Naura adalah kelemahan bagi Shatya, Naura yang dikenal Shatya adalah gadis yang sangat baik dan perduli pada semua orang, Ramah dan penyayang, untuk itu lah ia tidak mampu melihat gadis ini menangis.
Shatya hanya diam menelan ludah dalam-dalam mendengar omongan Naura. Ia tak bicara sepatah kata pun sebalik-nya Naura Pergi meninggalkan Shatya untuk mencari kamar Shatya sambil membawa masuk kopernya menaiki anak tangga.
"Kau! yang mana kamar Shatya?" tanya Naura pada Sofiah yang berdiri tepat di tangga lantai atas. Sofiah menunjuk kamar Shatya tanpa suara.
"Makasih." Ucap Naura dengan arogan dan langsung masuk ke dalam kamar Shatya, Sofiah hanya memandangnya dan segera menuruni anak tangga.
"Woooah ini kamarnya, laki-laki tapi kamarnya sangat rapi berbeda dengan kamar ku di rumah sangat berantakan," gumam Naura sambil melihat-lihat isi kamar Shatya..
Di lantai bawah Shatya masih duduk di sofa ruang tamu, Sofiah menghampirinya dan duduk bersama di sofa yang berada di depan Shatya.
"Ada apa Shatya? siapa gadis itu?" tanya Sofiah dengan sangat hati-hati.
"Tidak apa-apa, Namanya Naura dia sahabatku sejak kecil" jawab Shatya.
"Ahh begitu rupanya. Sepertinya dia akan menggunakan kamarmu kau boleh tidur di kamarku, aku akan tidur di sofa ruang tamu."
"Tidak perlu aku yang akan tidur di sofa."
"Hmm Baiklah. Apa kita jadi pergi bersama?" tanya sofiah masih sangat hati-hati.
"Hmm ayo," jawab Shatya dan berdiri dari duduknya diikuti oleh Sofiah mereka berjalan untuk keluar dari apartemen namun sebelum pintu terbuka Naura berteriak memanggil Shatya.
"Shatya tunggu!" ia pun berlari kecil menghampiri mereka.
"Ada apa lagi?" tanya Shatya, Sofiah hanya diam menyaksikan mereka.
"Kalian akan pergi kemana? aku ikut ya," tanya Naura.
"Aku akan pergi ke tempat kursus bahasa korea," jawab sofiah..
"Hmm aku ikut kamu ya Shatya aku bisa gila jika sendirian di sini, sekalian ingin melihat suasana kampusmu. Hmmm kumohon." Ucap Naura memohon dengan manja.
"Baiklah." Jawab Shatya tidak punya pilihan lain lagi dan berbalik membuka pintu apartemen.
"Horeeeew." Naura merasa senang, Sofiah hanya diam dan mengikuti mereka.
Di halaman depan apartemen Ryo sudah menunggu mereka. Ketika melihat yang datang bertiga dan bukannya berdua Ryo memandang bingung.
"Siapa lagi wanita ini..?" Batinnya.
Setelah tiga orang masuk dan duduk di dalam mobil Ryo pun menjalankan mobil tersebut, Shatya duduk di depan bersama Ryo sementara Sofiah dan Naura duduk di bangku belakang.
"Tuan siapa lagi gadis ini?" tanya Ryo pelan agar tidak terdengar oleh Sofiah dan Naura.
"Teman." Jawab Shatya singkat.
"Dari Indonesia? dan akan tinggal di apartemen bersamamu lagi?" tanya Ryo masih berbisik.
"Hmmm."
"Waaah Keajaiban macam apa ini, satu saja aku tidak punya tapi kau malah memiliki dua sekaligus." Ryo bercanda sambil menggelengkan kepalanya.
Di bangku belakang Sofiah dan Naura hanya duduk tenang menatap perjalanan yang mereka lalui sementara Shatya dan Ryo diam-diam Memperhatikan mereka di kaca spion mobil.
"Bukankah pemandangan nya sangat bagus?" Tanya Naura membuka pembicaraan. Namun tak ada yang menjawabnya.
"Apakah tidak ada yang mendengar ku?"
"Tempat ini biasa saja." Jawab Shatya.
Naura merasa kesal dengan jawaban Shatya Namun ia hanya diam menahan kekesalannya. Ryo tak membuka suara sama sekali sebab ia tak mau ikut campur urusan tuan mudanya dengan kedua gadis tersebut.
Sofiah bingung harus bilang apa untuk itu oa lebih baik diam.