
Pukul 18.12 malam Sofiah terbangun dari tidurnya, Rupanya karena kelelahan dia tertidur dikamar Shatya dalam posisi duduk.
"Ooh ya ampun, aku ketiduran rupanya," gumamnya dan duduk sebentar untuk mengumpulkan kembali semua kesadarannya. Ia kemudian menengok jam yang terletak di atas meja belajar Shatya, dan matanya terbelalak kaget setelah melihat jarum jam menunjukan pukul 18.12 malam.
"Oh my God! sudah pukul begini?? bagaimana bisa aku tertidur begitu lama?" ucapnya masih tidak percaya, dilihatnya Shatya masih tertidur pulas dan wajahnya masih sedikit pucat, kemudian dia mengambil handuk yang terletak di jidat Shatya, tubuhnya sudah lumayan hangat tidak seperti tadi berkeringat dingin.
"Ahhh syukurlah, keadaanya sudah lumayan membaik," ucap Sofiah sambil berdiri dari duduknya.
"Sebaiknya aku mandi dulu" ucapnya lagi dan bergegas keluar dari kamar Shatya.
Lumayan lama, Sofiah akhirnya selesai mandi dan berganti pakaian, ia kembali masuk ke kamar Shatya untuk mengamati keadaan Shatya, namun laki-laki itu nampaknya belum bangun juga..
"Waah dia pasti sangat kelelahan dan kesakitan, sampai-sampai jam segini dia masih tertidur pulas," ucap Sofiah lalu segera pergi ke dapur untuk membuatkan bubur ayam lagi untuknya.
Sekitar 15 menit ia pun selesai memasak bubur ayam tersebut dan membawanya masuk ke dalam kamar Shatya, sementara Shatya masih belum bangun juga. Ia pun meletakkan bubur ayam di atas meja dan membangunkan Shatya dari tidurnya.
"Shatya... Shatya.., bangunlah. Kau harus makan sekarang,"
Tak perlu susah payah membangunkan Shatya, hanya Seperti itu saja bisa langsung membuatnya membuka mata.
"Jam berapa sekarang?" tanya Shatya saat matanya terbuka.
"Jam delapan malam," jawab Sofiah dan membantu Shatya duduk.
"Rupanya aku tertidur sangat lama."
"Tak apa, Itu karena kau sakit." Sofiah mengambil kembali bubur ayam yang dia letakkan tadi di atas meja.
"Sekarang makanlah dulu," ucap Sofiah dan mulai menyuapi Shatya, Shatya menerima suapan itu dengan patuh.
"Apa kau tidak pergi ikut kursus bahasa Korea?" tanya Shatya sembari mengunyah makanannya.
"Hmm," jawab Sofiah pelan dan singkat sambil menyuapi Shatya lagi.
"Seharusnya kau tidak perlu bersusah payah merawat ku dan meninggalkan kursus bahasa korea."
"Apa kau fikir meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini aku bisa dengan damai mengikuti kursus bahasa Korea??"
"Waah apa kau menghawatirkan ku?" tanya Shatya mencoba mengganggu Sofiah.
"Tentu saja. Aku khawatir jika kau terusan sakit aku akan kesulitan membayar utang ku karena tidak bisa bekerja dan malah harus merawat mu,"
Mendengar jawaban Sofiah itu membuat Shatya tertawa kecil..
"Hahaha rupanya kau sedang balas dendam denganku."
"Baguslah jika kau tau." Sofiah akhirnya tersenyum kecil, Keduanya saling memandang dan kemudian tertawa bersama.
"Tapi kenapa masih merawat ku? padahal aku sudah sangat jahat padamu," ucapan Shatya merubah suasana Jadi canggung.
"Hmm benar juga sih, tapi kau baru bisa dibilang jahat apabila membiarkan aku sendirian malam itu di tepi jalan," jawab Sofiah, Shatya hanya tersenyum kecil mendengar jawaban Sofiah.
"Aku akan pergi ke dapur untuk mengantar piring kotor ini," ucap Sofiah, dan saat hendak berbalik tiba-tiba Shatya menarik tangannya dan membuat posisinya berdiri kembali tepat berhadapan dengan Shatya.
"Ada apa?" tanya sofiah setelah sedikit terkejut "Apa kau butuh sesuatu?"
"Terimakasih."
"Apa?" tanya Sofiah lebih kaget lagi, jantungnya berdetak lebih kencang. Tatapan mata yang teduh terlihat tulus, begitu dekatnya sampai ia bisa merasakan hembusan nafas dari Shatya.
"Aku bilang Terimakasih..," suara itu terdengar sangat tulus, matanya menatap mata Sofiah mencoba memberi isyarat melalui matanya bahwa ia tulus mengucapkan kata terimakasih itu.
"Ahhh tidak apa-apa, aku sudah banyak merepotkan mu, dengan merawat mu seperti ini saja tidak akan bisa membayar kebaikan yang sudah kamu lakukan padaku," ucap Sofiah salah tingkah dan segera menarik tangannya yang digenggam Shatya dan berlari keluar kamar, Shatya tersenyum kecil melihat reaksi sofiah..
Di dapur sofiah berbicara dengan dirinya sendiri.
"Apa-apaan itu tadi? cara dia mengucapkan terimakasih hampir membuatku kehilangan nyawaku.. sadarlah Sofiah sadarlah..," ucap Sofiah sambil mengatur pernafasannya. "Tapi itu sosweet juga..," ucapnya lagi dan tersenyum kecil rupanya ia tersipu Malu..
***
"Sekarang tidurlah..," ucap Sofiah dan menyelimuti tubuh Shatya..
"Hmm selamat malam."
"Aah tunggu, kamu harus memberitahu ibumu jika kamu sakit. Beliau pasti sangat khawatir," ucap sofiah.
"Tadinya aku ingin menghubungi ibumu tapi ponselmu terkunci sehingga aku tidak mendapatkan nomor ponselnya untuk di hubungi," mendengar ucapan Sofiah shatya diam sejenak sebelum akhirnya membuka suara.
"Lupakanlah, lagi pula aku sudah baikan sekarang, tidak perlu menghubungi siapapun."
"Baiklah."
Sofiah bergegas keluar dari kamar Shatya.
"Good Night dan panggil aku jika butuh sesuatu."
"Hmm terimakasih."
"Yaa dah."
Sofiah sudah keluar dari kamar Shatya dan di kamarnya dia masih membayangkan cara Shatya mengucapkan terimakasih padanya Kemudian ia tersenyum kecil dan memukul bantal atau kasur..
"Aku bilang terimakasih," ucap Sofiah mengikuti ekspresi serta ucapan Shatya tadi.
"Aaaaah itu romantis. Seperti sedang menonton drama," sepertinya ia sangat merasa senang hingga berguling-guling di tempat tidur sampai akhirnya dia menyadari apa yang tengah dia lakukan.
"Hais apa-apa'an aku ini, aku pasti sudah gila." Ucapnya malu pada diri sendiri dan menarik selimutnya hingga menutupi wajah.
"Tidurlaaaah Sofiah..," gumamnya dan menutup mata.. Aigoooo.