
Suasana malam itu sepertinya menyatu dengan malam yang semakin dingin dan gelap. Tatapan kosong Seorang lelaki muda pada bintang-bintang melalui jendela kamarnya sepertinya malah menembus pada kenangan tentang hari-hari indah bersama ibunya yang sudah tiada dan tidak akan pernah bisa terulang kembali. Yah ibunya baru saja meninggal dan sudah dimakamkan siang tadi di pekuburan keluarga.
Lelaki muda ini bernama Kim Shatya, ayahnya bernama Stevan berasal dari Korea dan ibunya bernama Sanaya berasal dari Indonesia. Namun ayah dan ibunya terlibat konflik yang akhirnya membuat keduanya bercerai saat Shatya berusia 12 tahun dan ayahnya memilih kembali ke korea sementara Shatya memilih tinggal bersama ibu yang sangat dia cintai itu di Indonesia.
Air matanya tiba-tiba saja menetes mengingat ia tidak punya pilihan lain Selain ikut ayahnya pergi ke korea dan harus meninggalkan rumah yang penuh kenangan bersama ibunya ini. Sama sekali ia tak pernah berniat untuk ikut ayahnya ke korea karena rasa benci terhadap ayahnya yang lebih memilih karier dan meninggalkan ia dan ibunya di Indonesia. Namun mau tak mau ia harus tetap pergi karena permintaan ibunya sebelum meninggal.
"Setelah aku pergi nanti ibu mohon ikutlah bersama ayahmu ke korea kau akan punya masa depan yang bagus di sana," perkataan ibunya di detik-detik akhir kehidupannya.
"Tapi ibu.. aku tidak mungkin," Shatya mencoba protes namun wanita tak berdaya itu menyela kata-katanya, membuat shatya berhenti dan terpaksa membiarkan ibunya bicara.
"Aku mohon berjanjilah pada ibu anakku," pinta ibunya dengan tatapan memohon, butiran-butiran air mata juga jatuh dari matanya yang semakin sulit terbuka itu. Shatya tak bisa berdebat lagi mengingat kondisi ibunya sudah tidak memungkinkan dan saat itu tengah terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.
"Berjanjilah padaku, ibu mohon Shatya!" pinta ibunya sekali lagi sebelum benar-benar menghembuskan nafas terakhir, Shatya mulai menangis dan menjawab ibunya dengan anggukan kepala sambil berkata. "Ya ibu, aku berjanji." Akhirnya dengan tersenyum wanita yang dicintainya itu pergi untuk selama-lamanya.
"Ibu! kumohon jangan pergi, apa kau tega meninggalkan aku sendirian?" suara Shatya terdengar lirih menyadari ibunya telah menghembuskan nafas terakhir, sambil menangis memanggil nama ibunya ia mengguncang-guncang tubuh wanita tak berdaya tersebut berharap wanita itu membuka matanya kembali. Namun takdir telah terjadi, tidak akan ada yang berubah. Kesedihan Shatya pun tak dapat membangunkan ibunya kembali.
"Ibuuuuuuu..!" teriaknya pilu sambil menangis terisak membuat para dokter dan perawat disana mencoba menenangkannya, tak ada keluarga seorang pun disana karena ibunya hanya sebatang kara. Ayahnya datang satu jam sebelum ibunya dimakamkan, Ayahnya juga yang mengurus semua upacara pemakaman ibunya.
Tiba-tiba suara pintu kamar yang terbuka membuat laki-laki tampan itu buyar dari lamunan panjangnya, ia berbalik kearah pintu dan melihat ayahnya berjalan mendekat, Tak ada suara yang keluar dari mulut Shatya, ia masih tidak percaya Jika akhirnya harus bertemu lagi dengan orang yang tidak pernah ingin dia temui. Sementara pria sebaya itu menyadari tatapan seperti apa yang dilontarkan putra semata wayangnya itu padanya namun ia tetap saja berjalan mendekatinya.
"Apa kau sudah merapikan semua barang yang akan kau bawa? kita akan berangkat besok pukul 10.00 pagi," ucapan ayahnya membuat Shatya kaget dan bingung, rasa sakit yang sama seperti beberapa tahun yang lalu terasa kembali di dadanya dan bahkan lebih sakit dari pada sebelumnya.
"Aku terlalu banyak urusan tidak punya waktu berlama-lama di sini, jika kau ingin ikut maka bersiaplah untuk besok dan jika tidak, kau boleh tinggal." Ucapan tegas dan tega itu terlontar dari ayahnya begitu saja membuat hati Shatya semakin sakit, matanya menatap tajam penuh amarah dan kebencian.
"Aku tidak percaya mengapa ibu bisa menikahi pria kejam yang tak berperasaan sepertimu!" teriak Shatya dengan tatapan tajam namun mengandung kesedihan.
"Hidup memang seperti ini putraku, tidak selalu berjalan sesuai keinginanmu, jadi jika kau akan ikut maka bersiaplah untuk besok. Aku harus kembali melihat para tamu," ucap ayahnya berusaha untuk tidak memperdulikan ucapan Shatya lalu membalikan badan untuk bergegas keluar dari kamar putranya, setetes air bening mengalir dari pelupuk matanya ketika ia telah membalikan badan dan baru menghapus tetesan itu setelah berada di luar kamar putranya. Sepertinya ia berusaha menyembunyikan kesedihan itu dari Shatya.
"Maafkan aku anak ku, tapi sejujurnya aku masih sangat mencintai ibumu, bahkan istriku itu tidak akan pernah bisa menggantikan posisi ibumu di hatiku," ucap ayahnya sambil menatap pintu kamar putranya yang sudah tertutup rapat sebelum akhirnya meninggalkan tempat itu dan kembali menemui para tamu. Sementara itu di dalam kamarnya Shatya akhirnya dengan terpaksa mulai mengatur pakaiannya, tak ada pilihan lain selain pergi ikut ayahnya. Selama satu jam sudah dan ia baru selesai mengatur pakaian di dalam koper Tak lupa pula ia membawa foto kenangan ia dan ibunya, menatap foto itu lama sebelum akhirnya menyimpannya di dalam koper.
Shatya kemudian menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur namun membiarkan matanya tetap terbuka dan berharap malam yang singkat ini tidak akan segera berlalu agar ia tidak akan segera meninggalkan rumah yang penuh kenangan tersebut. Tapi kelelahan yang luar biasa baik dari fisik maupun batinnya membuat Shatya tertidur dengan sendirinya hingga mentari yang tak ingin disambutnya tersebut yang datang menyambut paginya dan sungguh membuatnya meninggalkan tanah air dan rumah yang sudah bertahun-tahun dia tinggali bersama sang ibu tercinta.
"*S*elamat tinggal ibu..." suara lirih Shatya terdengar sambil menatap sekeliling rumahnya dengan perasaan sedih.
Dalam perjalanan menuju Korea wajahnya terlihat Lesu dan terus saja diam melamun. Ayahnya hanya bisa diam tidak berani membuka percakapan untuk sekedar mengajaknya ngobrol. Ia masih terlihat begitu sedih karena duka akibat kehilangan sang ibu yang begitu dia sayangi.
aku pasti akan selalu merindukan mu ibu..