Fall In Love In Korea

Fall In Love In Korea
Part 41


Sofiah membuka matanya perlahan, kepalanya terasa sakit dan berat. Seseorang yang menemaninya rupanya bahagia karena Sofiah telah bangun dari tidur panjangnya dan bergegas memanggil dokter.


"Dokter.. dokter.." Panggil orang itu, tak lama beberapa orang berpakaian putih masuk ke dalam ruangan tersebut untuk memeriksa keadaan Sofiah..


Tidak butuh waktu lama dokter yang memeriksa Sofiah keluar dari ruangan.


"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Eun Woo, dokter tersebut memandang Eun Woo dengan senyuman.


"Dia baik-baik saja, sekarang kamu tidak perlu Hawatir lagi," jawab dokter.


"Terimakasih dokter," Eun lega merada dan senang atas jawaban dokter tersebut.


"Sama-sama," ucap dokter. "Saya permisi dulu."


"Baik dokter..," ucap Eun Woo dan menatap kepergian dokter itu lalu masuk ke dalam ruangan.


Di sana ia melihat Sofiah yang sudah sadarkan diri namun masih terbaring lemah di atas tempat tidur, dan dengan senyuman ia menghampiri Sofiah lalu duduk di kursi samping ranjang Sofiah.


"Gwanchana?" tanya Eun Woo sangat lembut karena khawatir, mendengar pertanyaan Eun Woo Sofiah malah ingin menangis, matanya berkaca-kaca dan wajahnya merah menahan kesedihan dihatinya.


"Menangislah, aku sudah bilang kamu butuh mengeluarkan kesedihanmu, menyimpannya seorang diri hanya akan membuat kita semakin merasa sakit," ucapan Eun Woo membuat Sofiah melepaskan semua beban dihatinya dan menangis terisak. Eun Woo Memeluk Sofiah sambil menepuk-nepuk pundaknya dan tangisan Sofiah pun semakin deras.


Dibalik jendela seseorang memperhatikan mereka, ia juga merasa hatinya sangat sakit namun tak bisa berbuat apa pun, air matanya juga menetes, kenangan beberapa tahun lalu pun melintas kembali di kepalanya.


*8 tahun yang lalu*


Shatya baru saja pulang dari sekolah dan mendapati Naura yang menangis di bawah pohon rindang dihalaman rumah Shatya. Dengan panik Shatya berlari mendekati Naura yang menangis terisak disana..


"Ada apa Naura? kau baik-baik saja? apa sesuatu terjadi? mengapa menangis?" pertanyaan bertubi-tubi dilontarkan Shatya karena rasa khawatirnya.


"Shatya..," gumam Naura sambil menangis dan menatap Shatya, ia memegang tangannya yang bersimbah darah. Melihat tangan Naura yang terluka Sontak membuat Shatya cemas dan ketakutan.


"Naura tenang.., aku akan memanggil ibu." Shatya panik dan berlari ke dalam rumahnya untuk memanggil ibunya.


"Ibu.. ibu...," Panggil Shatya masih panik dan sangat takut.


"Ada apa Shatya? mengapa panik begitu??" tanya ibunya dan menghampiri putranya tersebut.


"Naura ibu..."


"Ada apa dengan Naura?" tanya ibunya mulai ikut khawatir.


"Tangannya terluka sepertinya dia mencoba melukai dirinya sendiri." Jawab Shatya.


"Dia ada di depan.."


"Ayo kita kesana.."


Tiba disana ibu Shatya syok melihat tangan Naura yang bersimbah darah..


"Ya Allah nak.., apa yang sudah kamu lakukan..??" tanya Ibu Shatya panik dan dengan segera mereka membawa Naura ke rumah sakit.


Di rumah sakit Naura langsung ditangani dokter dan beberapa menit kemudian dokter tersebut keluar dari ruangan. Shatya dan ibunya segera mendekati dokter tersebut dengan perasaan cemas dan takut.


"Bagaimana keadaannya dok?" tanya ibu Shatya panik.


"Anak itu mencoba membunuh diri akibat depresi yang tak bisa ditanggungnya. Sebagai orang tua kita harus lebih memperhatikan sikap kita agar tidak menyakiti mental anak.. Ia hanya butuh Ketenangan dan ketentraman jiwanya agar terhindar dari frustasi, dengan begitu kejadian hari ini tidak akan terulang lagi, sangat disayangkan anak itu begitu nekat padahal usianya masih sangat belia. Untung saja dia mengiris tangannya sedikit meleset dari urat nadinya sehingga dia masih bisa selamat," jelas dokter.


"Baiklah terimakasih dokter," ucap ibu Shatya perasaannya sudah lebih baik..


"Ya sama-sama. Tolong lebih perhatian lagi padanya, kasihan dia masih kecil mentalnya sudah terluka sedemikan itu."


"Baik dokter.."


***


"Kamu sudah bangun?" tanya Shatya setelah melihat Naura membuka mata.


"Aku dimana?" tanya Naura bingung.


"Kau di rumah sakit," jawab Shatya. Naura pun ingat kejadian dimana dia mengiris tangannya karena ketakutan setengah mati melihat ibunya yang dipukul dengan kejamnya oleh ayahnya sendiri. Ia pun akhirnya menangis, Shatya memeluknya untuk mencoba menenangkan.


"Tidak apa-apa, jangan takut ya, aku akan selalu menjagamu, akan selalu di sisimu, aku tidak akan pernah biarkan kamu dalam bahaya," ucap Shatya menenangkan Naura.


"Benarkah?" tanya Naura kecil yang menangis, Shatya tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya.


"Ya.. aku janji." Janji itu akhirnya terucap dari mulut Shatya.


"Aku akan terus memegang janjimu sampai kapanpun, ingatlah kau hanya akan menyelamatkanku jika aku dalam bahaya. Janji???"


"Aku janji." Jawab Shatya kecil sambil tersenyum dan mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Naura.


Tak lama orang tua Naura datang dengan perasaan cemas dan bersalah akibat perbuatan mereka anak mereka nekat melakukan bunuh diri padahal usianya masih sangat Belia. Sejak saat itu mereka memutuskan untuk pindah memulai kehidupan baru untuk menjaga dan menyembuhkan kembali mental putri mereka yang sudah sangat terluka, karena hal itulah membuat Shatya dan Naura berpisah.