
Tanpa sadar Shatya sudah menangis terisak, betapa ia menyesal meninggalkan Sofiah dalam keadaan sekarat di dalam air, hatinya sangat sakit melihat orang yang dia sayangi harus berjuang sendiri untuk mempertahankan hidupnya.
"Tuan mengapa anda menangis disini?" tanya seseorang yang berdiri tiba-tiba di samping Shatya. "Mengapa anda tidak masuk saja? dan malah melihat mereka dari balik jendela ini?" tanya orang itu lagi, Shatya buru-buru menghapus air matanya dan tanpa menjawab pertanyaan orang itu dia pergi begitu saja menuju kamar mandi dan membasuh wajah disana.
Sofiah melepas pelukannya dan memandang Eun Woo, perasaannya sudah jauh lebih baik setelah air matanya berhasil membasahi sebagian dari baju Eun Woo.
"Bagaimana keadaan Naura?" tanya Sofiah..
"Keadaannya baik-baik saja, tapi meskipun dia yang lebih awal diselamatkan rupanya dia memiliki cedera yang lebih parah darimu."
"Aku merasa menyesal," gumam Sofiah. "Harusnya aku menahannya."
"Tidak apa-apa itu hanyalah sebuah kecelakaan," ucap Eun Woo.
"Lalu bagaimana dengan Shatya apa dia baik-baik saja?" tanya Sofiah lagi, Eun Woo menelan ludah dalam bahkan dalam keadaan sakit Sofiah masih tidak bisa melupakan Shatya..
"Dia sangat baik-baik saja," jawab Eun Woo.
"Apa dia tidak datang kemari?" tanya Sofiah.
"Dia sibuk merawat Naura.." Jawab Eun Woo.
"Ahh aku bisa menebaknya.." Ia mendengus sedih.
*****
Sudah satu minggu semenjak Sofiah pulang dari rumah sakit Shatya tidak kembali ke apartemen, Sofiah selalu duduk di sofa seorang diri menunggu kepulangannya, namun sampai saat ini pun Shatya belum juga kembali. Ia kemudian memutuskan pergi ke tempat Kerjanya di restoran Eun Woo.
"Ada apa, apa Shatya belum juga kembali?" tanya Eun woo pada Sofiah setelah gadis itu duduk di sofa.
"Hmm sepertinya dia sangat sibuk merawat Naura." Jawab Sofiah lesu ia merasa sakit dengan ucapannya sendiri.
"Sabar lah, dia pasti kembali. Tapi kenapa kamu sangat ingin menemuinya..?"
"Aku..., aku ingin pamit padanya," gumam Sofiah.
"Maksudnya?" tanya Eun Woo heran. Firasatnya jadi tak enak.
"Tiga hari yang lalu, aku bertemu temanku di sebuah toko."
tiga hari yang lalu...
"Tolong cepat ya mbak," ucap seorang gadis buru-buru, Sofiah yang sibuk mencari bahan untuk dibeli mendengar suara gadis itu, ia yakin itu suara Hana sahabatnya.
"Hana?" gumamnya saat berdiri tepat di samping Hana, Hana yang mendengar namanya di sebut langsung menengok kebelakang, betapa ia sangat terkejut melihat Sofiah.
"Sofiah..," gumam Hana tidak percaya, ia merasa takut dan menyesal saat melihat Sofiah.
Kini mereka duduk di restoran kecil dekat toko tempat mereka bertemu, Sofiah menatap dingin pada Hana, ingin meminta semua penjelasan dan pertanggungjawaban dari Hana.
"Ku fikir kau akan melarikan diri lagi," ucap Sofiah membuka suara.
"Maaf Sofiah aku sangat menyesal."
"Maaf aku sungguh menyesal, aku tidak benar-benar berfikir meninggalkanmu disana. Aku bahkan kembali untuk menjemputmu tapi aku tidak menemukan kamu disana lagi, aku mencari kemanapun tapi juga tidak menemukanmu."
"Benarkah??"
"Aku bersumpah Sofiah.. Hidupku akan sial tujuh turunan jika aku berbohong padamu.."
"Kamu berani bersumpah?"
"Tentu saja, karena aku memang tidak berbohong!!"
"Baiklah aku akan memaafkan kamu karena sudah kembali mencari ku..."
"Tapi kemana perginya kamu malam itu?" Tanya Hana.
"Ah sudahlah lupakan. Sekarang dimana password ku?"
"Tunggu sebentar," ucap Hana dan mengambil sesuatu dari tasnya. "Ini dia, dan ini uangmu serta Handphonemu yang malam itu terbawa olehku.." Sambil menyerahkannya pada sofiah.
"Jadi kau tidak menggunakannya?" tanya Sofiah.
"Aku memang sudah menggunakan uang itu, dan karena itulah aku menukarnya 3 x lipat, aku mohon dengan sangat jangan menolak uang ini dan membuatku semakin merasa benci pada diriku sendiri."
"Ternyata kamu masih peduli padaku meski sudah membuang ku seperti itu.."
"Heyy ayolah, aku sungguh sangat merasa lega karena kamu baik-baik saja.. Maaf malam itu aku sangat frustasi, pacarku bertengkar dengan orang tuanya karena ingin menikahi ku tapi org tuanya tidak suka padaku, malam itu ia membawaku pergi ke balai nikah dengan sangat terburu-buru sehingga membuat kami tidak menyadari bahwa kami telah meninggalman mu, akhirnya kami kembali lagi mencari mu namun tidak kami temukan, aku sangat takut, aku menangis dan menyalahkan diriku setiap hari, aku bingung bagaimana menjelaskan ini pada orang tuamu. Aku sungguh sangat takut dan menyesal. Maafkan aku karena lebih mengutamakan kepentingan pribadiku." Suara dan tangis Hana memang terdengar sangat tulus dan menyesal.
"Baiklah tidak apa-apa, lalu bagaimana? apa hubungan kalian baik-baik saja?" tanya Sofiah, begitu besar hatinya memaafkan sahabat yang telah meninggalkannya.
"Hm.. kami sudah menikah, orang tuanya juga sudah bisa menerimaku.."
"Ahh beruntung sekali kamu, selamat ya." gumam Sofiah
"Hei ada apa dengan wajahmu? apa jangan-jangan sekarang kau punya pacar?" tanya Hana menggoda Sofiah.
"Apaan sih kau, aku tidak punya. Aku akan segera pulang ke Indonesia, apa kamu tidak ikut?"
"Ahhh soal itu, aku tidak bisa pulang dulu. Aku sedang hamil." Dengan malu Hana mengatakannya.
"Wahhh benarkah? aku ikut senang mendengarnya. Baiklah-baiklah aku mengerti, tetaplah disini dan jagalah calon keponakan aku dengan baik ya."
"Terimakasih Sofiah, sekali lagi tolong maafkan aku.."
"Tidak apa-apa, lagi pula semuanya sudah berlalu.."
"Terimakasih Sofiah." Ucap Hana begitu bahagia dan memeluk Sofiah..
***
Sofiah tersenyum kecil setelah mengingat pertemuan singkat dengan sahabatnya. Eun Woo menatapnya lama, ia merasa sedih mengingat Sofiah akan segera kembali ke Indonesia, ingin rasanya meminta Sofiah untuk menetap namun dia tidak memiliki hak itu mengingat keluarga Sofiah sedang menantikan kepulangan Sofiah dan Sofiah juga sangat merindukan keluarganya.