
Shatya dan Sofiah duduk dipinggir pantai sambil menikmati keindahan tempat itu, menatap bintang jatuh dan sedikit berbincang-bincang.
"Mengapa kamu bisa ada disini? Apa sedang berlibur?" tanya Sofiah akhirnya menanyakan apa yang ingin ia tanyakan sejak tadi.
"Emm." Jawab Shatya tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Sofiah, matanya masih menatap bintang di atas langit.
"Bersama..., Naura?" Tanya Sofiah dengan sangat hati-hati.
Shatya Tersenyum. "Apa kau ini bodoh? jika aku datang bersamanya tidak mungkin aku menghabiskan waktu sepanjang hari ini dengan mu.."
"Apa yang terjadi dengan kau dan Naura?" Tanya Sofiah masih penasaran.
"Naura adalah sahabatku ,selamanya akan tetap seperti itu. Dia pulang ke Indonesia lebih dulu darimu, dia juga menitipkan permintaan maaf padamu.."
"Jadi kau dan Naura..."
"Hmm. Aku mencintaimu dan bukan dia.." Shatya menyela kata-kata Sofiah yang berhasil membuat Sofiah diam membisu. Hingga akhirnya beberapa sata kemudian dia membuka suara.
"Tapi kenapa kau tidak bertanya padaku apakah aku sudah punya kekasih atau tidak..?"
"Kau ini, apa kau fikir aku bodoh? sebelum datang kemari aku sudah mengirim seseorang untuk mencari tau semua tentangmu disini." Jawab Shatya lalu diam sejenak dan melanjutkan kata-katanya.
"Katanya ayahmu sakit dan kau harus bekerja keras mencari uang untuk biaya rumah sakit ayahmu dan juga menafkahi keluargamu sehingga tidak punya waktu berkencan, itu artinya kau tidak punya pasangan." Sofiah diam mendengar jawaban Shatya, menarik nafas dalam dan mengalihkan pandangannya dari Shatya ke bintang-bintang di langit.
"Kau tau rupanya.." Gumam Sofiah lirih. Shatya bisa merasakan kesedihan Sofiah saat itu, kemudian beralih menatapnya Dan dengan lembut menggenggam tangan mungil Sofiah membuat Sofiah beralih menatap kembali kepada Shatya.
"Maafkan aku karena tidak berada di sisimu saat kau sangat kesulitan. Aku sangat sedih mendengar semua cerita tentangmu.. Aku tidak bisa membayangkan betapa menderitanya kamu selama ini.." Kata-kata Shatya yang tulus itu membuat mata Sofiah berkaca-kaca namun kemudian ia tersenyum.
"Tidak apa-apa, lagi pula Aku senang ketika merasa sibuk, dengan begitu aku bisa melupakan sakit hatiku padamu yang jahat ini.." Jawab Sofiah, Shatya tertawa kecil. Tiba-tiba sesuatu terlintas di benak Sofiah.
"Eh tunggu.! jangan bilang yang melunasi biaya rumah sakit ayahku dan juga yang memindahkannya ke ruang VIP itu kamu???" Tanya Sofiah. Shatya menganggukkan kepalanya.
"Hmm itu aku, maaf karena tidak meminta Izin mu terlebih dahulu. Aku khawatir jika meminta izin mu kau akan menolak bantuan dari ku.. Ku harap kamu memaafkan aku atas kelancanganku ini." Mendengar itu Sofiah tersenyum sedih dan segera memeluk Shatya secara tiba-tiba membuat Shatya Kaget tidak menyangka Sofiah akan memeluknya. Namun pada akhirnya Shatya membalas pelukan Sofiah. Keduanya saling melepas rasa rindu mereka setelah 2 tahun berpisah.
"Terimakasih.." Gumam Sofiah dalam pelukan Shatya. Shatya semakin mempererat pelukannya mendengar Ucapan Sofiah tersebut.
"Aku sangat merindukanmu.." Kata Sofiah melepaskan pelukannya.
"Kau fikir kau saja?" Tanya Shatya "Setiap hari aku bahkan khawatir kau akan menikahi pria lain.."
"Hahaha benarkah?" Tanya Sofiah sambil tertawa. Namun Shatya tak menjawab-nya dan malah menatap Sofiah dengan serius. Suasana berubah menjadi sangat mendebarkan. Wajah Shatya semakin dekat ke wajah Sofiah membuat Sofiah menutup matanya. Dan akhirnya bibir lembut Shatya mendarat ke bibir Sofiah.. Keduanya menikmati suasana itu untuk membayar kerinduan panjang yang telah menyiksa batin mereka masing-masing.
Sekitar pukul delapan malam, Shatya akhirnya mengantar Sofiah pulang.
"Aku akan mengantarmu sampai ke dalam rumah.." Kata Shatya setelah mereka turun dari mobil.
"Emm baiklah." Jawab Sofiah sambil tersenyum, Shatya membalas senyuman Sofiah dan mereka pun berjalan masuk ke dalam rumah..
Saat Sofiah membuka pintu rumah tiba-tiba apa yang dilihatnya membuat ia sangat terkejut.
"Door..door..door..." Semua keluarga sudah menyambut kedatangan mereka membuat Sofiah kaget dan bingung.. Disana nampak ada ibunya, kakak perempuan-nya, dua orang ponakan anak dari kakaknya, juga ada ayahnya yang saat itu tengah duduk di kursi roda sambil tersenyum menatap kearahnya. Dan yang tak kalah membuatnya kaget di sana juga ada Naura, Eun Woo, Ryo, Kim Soo Hyun, Ayah dan Ibu tirinya Shatya.. Sofiah menatap bingung kepada semua orang terlebih lagi ruang tamu yang sudah di dekorasi indah layaknya ada party.
"Ada apa ini? mengapa semua orang berkumpul disini?" tanya Sofiah masih bingung. Semua orang hanya tersenyum manis menatapnya dan juga Shatya.
"Tanyakan saja pada Shatya.." Jawab Naura dengan senyum di wajahnya. Sofiah pun mengalihkan pandangannya kepada Shatya yang berdiri disampingnya dan menatapnya bingung.
Shatya merasa sangat gugup namun akhirnya dia mengutarakan niat tulusnya itu..
"Aku sudah merencanakan semua ini untukmu.., aku ingin melamar mu dihadapan keluargamu, keluargaku, pada mereka semua yang ada di ruangan ini." Kata Shatya membuat Sofiah tak bicara apapun, dia tidak bisa menggambarkan betapa bahagianya dia saat itu. Lalu Shatya bertekuk tepat di hadapan Sofiah untuk memberikan cincin lamarannya.
"Maukah kau menikah denganku?" Tanya Shatya mantap meski saat itu dia sangat gugup. Semua orang di dalam ruangan tersenyum haru terlebih lagi Sofiah, matanya berkaca-kaca, ia tak bisa menahan tangis.
"Hmm aku mau.." Jawab Sofiah.
Shatya merasa sangat senang dan memasangkan cincin berlian yang indah itu ke jari manis Sofiah. Usai memasang cincin tersebut Shatya kembali berdiri dan memeluk Sofiah dengan sangat bahagia.
"Terimakasih.." Bisik Shatya ke telinganya membuat Sofiah mempererat pelukannya.
"Ekhem, Ekhem.." Terdengar semua orang mulai berdehem. Sofiah dengan malu melepaskan pelukannya.
"Selamat kakak dan kakak ipar.." Ucap Kim Soo Hyun ikut senang dan memeluk Sofiah. Ia sangat antusias dan bahagia.
"Terimakasih adik ipar." Jawab Sofiah sambil mencubit hidung Soo Hyun. Mereka kemudian tertawa.
"Selamat ya Shatya, kau akhirnya bisa mendapatkan keinginanmu. Ingatlah untuk selalu menjaga menantu ibu dengan baik." Ucap ibu tiri Shatya.
"Terimakasih banyak ibu, aku pasti akan menjaganya."
Kemudian ibu Sofiah ingin mengucapkan ucapan selamat namun matanya sudah membasahi pipinya. Putrinya yang telah banyak menanggung derita akhirnya menemukan kebahagiaannya. Sofiah ikut sedih melihat ibunya.
"Shatya aku harap kau bisa menjaga putriku."
"Jangan hawatir ibu, aku pasti akan selalu menjaganya dengan baik." Mendengar jawaban Shatya membuat ibu Sofiah merasa tenang.
"Dan kau Sofiah, bersikap baiklah pada Shatya, belajarlah juga cara memasak yang benar, jika Sofiah menyusahkan mu atau membuatmu kecewa beritahu ibu saja biar ibu memukulnya."
Ucapan ibu Sofiah di sambut tawa oleh semua orang terutama Shatya.
"Iya baik ibu." Jawab Shatya masih tertawa.
"Selamat tuan muda, anda akhirnya akan segera menikahi nona Sofiah dan membawanya pergi bersama anda, anda tidak perlu menangis lagi karena merindukan nona Sofiah." Tak lupa Ryo mengucapkan ucapan selamat pada tuan mudanya.
"Hyaa kau tidak perlu mengatakan itu di depan semua orang." Respon Shatya membuat semuanya kembali tertawa.
Semua orang akhirnya mengucapkan selamat terutama Eun Woo dan Naura.
"Selamat ya untuk kalian, juga padamu Sofiah aku belum sempat minta maaf secara langsung, maafkan aku ya.." Kata maaf Naura dengan tulus.
"Aku tidak marah padamu.." Kata Sofiah kemudian mereka saling berpelukan sehingga membuat suasana kembali cair. Usai melepaskan pelukannya mereka saling menatap dan tersenyum satu sama lain.
"Selamat ya Sofiah dan Shatya. Semoga kalian bahagia.." Kata Eun woo.
"Terimakasih Eun.." Jawab Sofiah dan Shatya.
"Dan jika Shatya menyakitimu maka datanglah kamu padaku, aku ini sangat setia.." Kata Eun bercanda. Membuat Shatya mengerutkan keningnya pertanda tidak setuju.
"Hei dasar kau, harusnya aku tidak perlu mengajakmu.." Kata Shatya pura-pura kesal namun akhirnya mereka tertawa.
"Hei paman tampan." Dua ponakan kecil Sofiah anak dari kakaknya datang dan menatap dingin pada Shatya. Membuat mereka semua bingung terlebih lagi Shatya.
"Jika kau berani menyakiti bibi ku maka Kami berdua pasti akan membunuhmu.." Seketika mereka semua tertawa mendengar kata-kata Aldo kecil yang saat itu berusia lima tahun..
"Iya benar." Lisa adik Aldo menambahkan.
"Hmmm percayalah padaku, bahwa aku tidak akan menyakiti bibi kesayangan kalian." Jawab Shatya yang sudah bertekuk di depan dua orang bocah tersebut.
"Terimakasih paman." Jawab kedua saudara kecil itu sambil tersenyum.
"Hei Aldo, Lisa Ayo kemari nak.." Panggil ibu mereka.
"Iya ibu.." Jawab kedua bocah itu dan berlari kepada ibunya, Shatya memandang mereka sambil tersenyum.
"Ayo semuanya kita makan malam.." Panggil ibu tiri Shatya yang saat itu tengah membantu ibu Sofiah menyajikan makanan di atas meja.
Semua orang pun pergi menyantap makan malam mereka penuh kebahagiaan.
"Aku serahkan putriku kepada mu.. Jagalah dia dengan baik.." Bisik ayah Sofiah pada Shatya yang duduk disampingnya saat mereka tengah menyantap makan malam.
"Iya om aku pasti akan menjaganya." Jawab Shatya mantap.
Disisi lain ayah Shatya juga nampak membisikan sesuatu kepada Sofiah.
"Jika Shatya macam-macam padamu beritahu saja aku, aku pasti akan menghukumnya dengan sangat berat." Mendengar itu Sofiah tersenyum malu.
"Baik om.." Jawab Sofiah membuat ayahnya tertawa.
"Ayo makanlah.." Pinta ayahnya.
"Iya om.."
Shatya dan Sofiah saling menatap dan Tersenyum setelah mendapat bisikan dari ayah mereka itu..
Makan malam pun terus berlanjut dengan sangat damai, penuh canda dan penuh kebahagiaan yang tidak akan pernah Sofiah dan Shatya lupakan.