
"Beri aku nomor ponselmu, nanti aku akan menghubungi kamu Jika pergi bekerja nanti," ucap Eun Woo sebelum sofiah masuk kedalam mobil.
"Itu akuuu," Ucap Sofiah terbata, wajahnya nampak sedih, Eun Woo menatapnya bingung.
"Ada apa?"
"Handphoneku dibawa temanku dan sekarang aku tidak tau dia dimana."
"Oooh begitu ya. Tidak apa-apa, Pergilah. Hati-hati ya..," ucap Eun Woo dengan senyum manisnya lagi. Sofiah membalas senyuman Itu sambil melambaikan tangannya dan masuk ke dalam mobil.
***
Di rumah shatya duduk di ruang tamu menunggu kepulangan Ryo dan Sofiah dengan gelisah dan Ketika suara pintu terbuka dia pura-pura duduk santai sambil membaca buku, terdengar suara kaki melangkah mendekat kearahnya.
"Aku baru tau jika kau belajar bahasa korea sampai malam begini," protes Shatya masih pura-pura sibuk dengan buku ditangannya.
"Apa kau menunggu kami?" tanya Sofiah.
"Hahaha mengapa aku harus menunggu kalian? Aku terlalu sibuk untuk itu," jawab Shatya pura-pura Cuek. Sofiah mengangguk kecil.
"Kalau begitu aku akan ke kamar," ucap Sofiah lalu berlari kecil menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Kalian dari mana saja?" tanya shatya pada Ryo. Namun belum sempat Ryo menjawab, handphone-nya berdering ternyata itu panggilan dari ayah Shatya.
"Sebentar tuan," ucap Ryo dan sedikit menjauh dari Shatya, Shatya bisa menebak siapa yang menelepon Ryo malam-malam begini.
"Lagi pula kenapa aku harus bertanya dan perduli mereka dari mana dan kemana??" ucap shatya pada diri sendiri dan beranjak dari ruang tamu untuk pergi ke kamarnya, sementara Ryo mendapati ruang tamu kosong setelah bicara dengan ayah Shatya.
"Sepertinya tuan muda sudah tidur," batin Ryo dan memutuskan untuk pulang ke rumahnya.
Esok hari tidak Seperti biasanya Sofiah sudah bangun di pukul 05.00 pagi, ia bahkan menyempatkan waktu untuk lari pagi dan membeli makanan, sebaliknya Shatya yang tidak pernah bangun pukul 07.30 kini baru saja bangun dari tidurnya dan baru selesai membersihkan diri pukul 08.30.
"Pagiiiiii," sapa Sofiah pada Shatya Ketika melihat pria itu tampan menuruni anak tangga.
"Hmm pagi." Jawab Shatya singkat dan cuek.
"Apa kau bilang? siapa yang kau bandingkan dengan diriku?" Tanya Shatya kesal saat mendengar ucapan Sofiah tadi.
"Ah kau mendengarnya, tapi aku tidak bicara tentang dirimu kok." Sofiah mengelak mencari alasan.
"Kau fikir aku ini tuli? tidak bisa mendengar suaramu bahkan meski berbisik?" ucap Shatya kesal dan berjalan mendekati Sofiah, semakin dekat sehingga membuat sofiah berjalan mundur matanya tidak bisa lepas dari wajah Shatya menatapnya dengan tatapan curiga.
"Apa yang akan dilakukan oleh pria gila ini?"
Sampai akhirnya dirinya terhenti disebuah meja makan yang membuatnya tidak bisa mundur lagi, sementara Shatya terus mendekat dan wajahnya kini tepat berada sangat dekat dengan wajah Sofiah, saking dekatnya Sofiah menutup matanya. Shatya tersenyum kecil melihat ekspresi Sofiah.
"Jangan bermimpi bahwa aku akan mencium mu," bisik Shatya pelan lalu menarik wajahnya menjauh dari wajah Sofiah kemudian ia tertawa karena merasa puas lagi-lagi bisa mengerjai Sofiah. Sementara Sofiah menarik nafasnya dalam Ia merasa sangat kesal dan mencoba mengendalikan amarahnya.
"Dasaar, dia fikir dia siapa seenaknya begitu? jangan Bermimpi bahwa dia akan mencium ku??? memangnya siapa yang ingin diciumnya!!" Sofiah mendengus kesal sambil memandang kepergiaan Shatya yang berjalan menuju kamarnya dengan senyuman.
"Dasaarrrr pria gilaaa!" teriak sofiah agar bisa didengar oleh shatya, Shatya yang mendengar teriakan itu hanya tertawa kecil dan terus berjalan ke kamarnya.
***
pukul 10.00 Shatya tiba di kampus dan seperti biasanya dia mendapati lokernya berisi banyak hadiah di dalamnya, tentu saja hadiah dari para gadis-gadis yang menyukainya di kampus. Namun seperti biasa pula dia akan Mengabaikan Semua hadiah itu dan pergi begitu saja.
"Annyeong haseyo," suara sapaan milik gadis cantik asal Korea, dan siapa lagi jika bukan Go Haa Jin.
"Annyeong," jawab shatya singkat dan duduk di bangkunya.
"Shatya setelah mata kuliah nanti maukah kau membantuku menyelesaikan tugas ku? ada beberapa hal yang membuatku bingung dan tidak aku mengerti," Go haa jin mencoba mencari celah agar bisa dekat dengan Shatya, sudah setahun ini ia mencoba menarik perhatian Shatya namun pria itu selalu bersikap dingin dan selalu punya alasan untuk menghindarinya.
"Mian (Maaf), tapi aku akan pergi menjemput seseorang setelah mata kuliah ini," tolak Shatya dingin.
"Ahh begitu rupanya, tapi siapa?" tanya Go Haa Jin penasaran apakah dia akan menjemput seorang wanita atau laki-laki namun tatapan dingin dari Shatya membuatnya menahan rasa ingin tahunya. Shatya sangat tidak suka ketika orang lain ikut campur dengan urusan pribadinya.
"Mian, aku akan fokus." Ucapnya. Perasaannya kembali merasa kecewa.
"Sial, Mengapa orang ini sulit sekali untuk ditaklukan apa aku ini terlihat biasa saja? sebenarnya gadis seperti apa yang dia inginkan? kenapa selalu menghindari ku?" Batin Go Haa Jin.