
Malam yang panjang akhirnya berlalu, Sofiah bangun dari tidurnya setelah semalaman tertidur pulas. Sementara dilantai bawah tepatnya di ruang tamu Shatya duduk membaca buku kuliahnya sambil menikmati teh hangat. Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka rupanya itu Ryo.
"Selamat pagi tuan," sapa Ryo dan duduk di sofa tepat di depan shatya. Mereka memang tidak seperti atasan dan bawahan tapi seperti dua orang sahabat baik. Shatya tidak suka jika dirinya di perlakukan secara berlebihan.
"Kau sudah kembali rupanya, bagaimana keadaan ayahmu apa sudah baikan?" tanya Shatya.
"Ya tuan, sekarang dia sudah bisa makan dan berjalan seperti biasa. Maaf sudah membuatmu menunggu lama," jawab Ryo, Shatya merasa lega mendengarnya.
"Tidak apa-apa, ingatlah orang tua yang mengasihi kamu lebih penting dari apapun di dunia ini."
"Terimakasih atas pengertianmu tuan."
"Tak perlu sungkan seperti itu."
"Lalu bagaimana kabar anda dan nona Sofiah?" tanya Ryo.
"Kami baik-baik saja," jawab Shatya dan tiba-tiba terdengar suara khas Sofiah yang terdengar gembira mendekat ke arah mereka.
"Ryo kau sudah datang, mengapa kau menghilang lama sekali??" tanya Sofiah sambil berjalan kearah Shatya dan Ryo.
"Maaf selama ini tidak sempat membantu kalian padahal itu adalah tanggung jawab ku."
"Apa yang kau bicarakan, itu tidak benar kamu harus tetap mengutamakan apa yang harus kamu utamakan. Lagi pula aku bukan orang yang harus kamu layani tapi orang di depanmu itu." Ucapan Sofiah membuat Ryo tertawa.
"Apa kau tau, kami sangat merindukanmu," ucap Sofiah dengan tingkah imutnya. Shatya menatap dengan tatapan aneh pada Sofiah.
"Wahh benarkah? aku sangat merasa terhormat," ucap Ryo yang juga tiba-tiba bertingkah imut. Shatya manjadi geli dan jijik dengan tingkah mereka berdua.
"Setan apa yang merasuki kalian?" Protes Shatya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Sofiah sengaja mengabaikan pertanyaan Shatya.
"Hmm aku baik-baik saja, kalian pasti sangat menghawatirkan ku," jawab Ryo lagi-lagi Cute semakin membuat Shatya merasa tidak nyaman.
"Baiklah.. Aku datang kesini bukan hanya sekedar datang memenuhi tanggung jawab ku, tapi juga karena untuk menyampaikan sesuatu, bahwa ayah tuan meminta tuan untuk hadir di acara perayaan ulang tahun ibu tiri anda malam ini di rumah."
"Aku sudah bilang aku tidak akan pernah menginjakan kaki di rumah itu," ucap Shatya dingin, Ryo yang sudah terbiasa dengan kata-kata itu bersikap biasa saja namun Sofiah ia agak kaget namun pura-pura tidak perduli.
"Tapi tuan kali ini anda harus datang jika anda menolak presdir pasti akan sangat marah dikarenakan ini adalah acara ulang tahun ibu anda, tahun lalu juga anda menolak datang."
"Apa kau gila, dia bukan ibuku. Jika tidak ada yang ingin kamu katakan silahkan pergi antar Sofiah ke tempat kursus bahasa Korea." Perintah Shatya berusaha menahan kekesalannya.
"Hari ini aku tidak punya jadwal kursus bahasa Korea karna profesor sedang ada urusan mendadak," ucap Sofiah.
"Baiklah aku akan pergi, jika anda berubah fikiran hubungi aku dan aku akan menjemputmu," ucap Ryo dan berdiri dari duduknya.
"Kau tentunya tau bahwa aku tidak akan berubah fikiran." Jawab Shatya tegas dan dingin, Sofiah hanya bisa menatap bingung dengan kesedihan di hatinya.
"Baiklah tuan aku pergi dulu." Pamit Ryo dan bergegas keluar dari apartemen.
Shatya berusaha menenangkan kembali perasaanya dengan menyeruput teh Yang ada di atas meja, sementara Sofiah ingin mencoba membujuk Shatya..
"Harusnya kamu tidak begitu! tidak maukah kamu melihatnya meski sekali saja? mereka mengharapkan kehadiranmu," ucap Sofiah berusaha menyembunyikan ketakutannya karena telah mengatakan itu pada Shatya, Shatya menatapnya dingin.
"Memangnya tau apa kamu tentang hidupku? sejak awal aku sudah bilang jangan ikut campur dengan urusan pribadiku. Ingat, kamu adalah orang asing yang tidak punya hak memberi saran atas kehidupan pribadiku." Bantah Shatya dingin dan berdiri hendak meninggalkan Sofiah di tempat itu namun Sofiah kembali berkata dengan suara keras sambil berdiri dari duduknya membuat Shatya menahan langkah kakinya tanpa menoleh kearah Sofiah.
"KAMU BENAR MEMANGNYA SIAPA AKU SEHINGGA HARUS IKUT CAMPUR DENGAN URUSAN PRIBADIMU..!! AKU HANYALAH GADIS MALANG YANG KAU TAMPUNG DI TEMPAT INI KARENA KASIHAN DAN SEKALI WAKTU KAU PASTI AKAN MENENDANG KU KARENA AKU BUKAN SIAPA-SIAPA DISINI.. AKU HANYALAH ORANG ASING YANG MENGHARAPKAN BELAS KASIHAN DARI KAMU.. SETIAP HARI AKU MERINDUKAN AYAH DAN IBUKU.. TAPI AKU TIDAK BISA KEMBALI KARENA AKU TIDAK PUNYA UANG DAN AKU JUGA MALU MENAMPAKKAN WAJAHKU KEPADA MEREKA. SEMENTARA KAMU YANG PUNYA BANYAK KESEMPATAN BERTEMU KELUARGAMU MALAH LEBIH MEMILIH EGO DAN DENDAM DI HATIMU.." kata-kata sofiah yang dibarengi dengan tangisan itu membuat hati Shatya ikut merasa sedih, ia hanya bisa diam terpaku menahan air matanya. Rasa benci terhadap ayah dan ibu tirinya yang telah menyakiti ibunya dan membuat ia hidup menderita berdua dengan ibunya membuat dia tidak sanggup berhadapan lama dengan mereka.
"MAAFKAN ORANG ASING YANG SUDAH BERANI BICARA LANCANG INI.!" ucap Sofiah lagi dan menghapus air mata di pipinya lalu berlari menuju kamar, Shatya memandang kepergian Sofiah dengan mata yang berkaca-kaca. Hati dan fikirannya tengah bertengkar hebat.
Ia diam seribu bahasa entah kenapa ucapan Sofiah benar-benar menggerakkan hatinya.
Meski begitu dia bingung dengan apa yang harus dia lakukan.