
"Aku tidak apa-apa, padahal aku hanya meminta Naura untuk sarapan dulu sebelum pergi tapi tiba-tiba dia marah dan mendorongku. Mungkin dia masih kesal padaku karena ucapan ku pagi tadi, tapi Sofiah sungguh aku tidak ada niatan menyinggung perasaanmu," ucap Naura sambil berdiri di bantu oleh Shatya. Ia sangat manipulatif.
"Apa yang kamu katakan? itu tidak benar Shatya dia berbohong." Sofiah panik mencoba membela dirinya.
"Sofiah! aku lihat dengan mata kepalaku sendiri kalau kamu yang menangkap tangannya lalu mendorong Naura hingga ia terjatuh," bantah Shatya menatap Sofiah dengan tatapan kecewa atas perbuatannya.
"Tapi aku melakukan itu kare.." Sofiah masih mencoba membela diri namun Shatya terlanjur menyela kata-katanya.
"Aku tau kamu kesal dengan ucapan Naura pagi tadi, tapi kamu tidak perlu membalasnya dengan kekerasan fisik seperti ini!!" Bentak Shatya, Hati Sofiah merasa sakit mendengar itu.
"Memang benar kamu adalah cinta pertamanya dan selamanya hanya akan tetap kamu." Batin Sofiah menatap Naura. Tatapan mata Sofiah membuat Naura merasa menang dan tersenyum licik.
"Aku sungguh tidak melakukannya."
"Apa salahnya mengakui kesalahan? Sekarang minta maaf lah.." Shatya masih membela Naura membuat sofiah merasa sangat terpukul..
"Apaa? Aku tidak melakukan apapun!" bantah Sofiah wajahnya merah menahan air mata.
"Tapi aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, aku bahkan tidak habis fikir mengapa kamu bisa melakukan hal seperti ini." Shatya masih menyalahkan Sofiah, Naura tersenyum puas, rencana jahatnya telah berhasil.
"Tidak apa-apa Shatya, aku baik-baik saja. mungkin Sofiah tidak sengaja melakukannya," ucap Naura bersandiwara seolah ia memihak Sofiah.
"Naura bahkan tidak menyalahkan mu, tapi hanya untuk meminta maaf saja Sulit bagimu."
"Baiklah jika yang kau lihat adalah aku yang bersalah," kata Sofiah menahan rasa sakitnya.
"Maafkan aku Naura, aku sangat menyesal." kata Sofiah matanya menahan butiran embun kecil.
"Tidak apa-apa Sofiah tidak perlu perduli dengan apa yang dikatakan Shatya, dia memang selalu seperti itu saat sangat menghawatirkan aku, itu kami telah saling menjaga satu sama lain sejak kecil," ucap Naura sangat dramatis.
"Permisi." Pamit Sofiah dan segera keluar dari apartemen, Shatya dan Naura hanya memandang kepergiannya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Shatya pada Naura.
"Aku baik-baik saja," jawab Naura tersenyum tipis sambil pura-pura menahan sakit.
"Baiklah jika begitu aku akan pergi ke kampus," ucap Shatya.
"Tidak perlu, aku buru-buru. Lain kali tidak usah memasak." Shatya kembali bersikap dingin.
"Kenapa kamu begini lagi? kamu masih menyayangiku kan Shatya? kamu tidak lupa dengan janjimu padaku kan???" tanya Naura terbawa perasaannya. Shatya, jantungnya berdegup kencang, perasaannya kembali terasa perih. Ia tak suka membahas hal ini.
"Hentikan Naura, sejak awal kita sepakat membiarkan kamu tinggal disini hanya atas dasar sahabat tidak lebih," jawab Shatya menahan sesak di dadanya.
"Masa bodoh Shatya, kau sudah membuat janji denganku. Bagaimanapun caranya cintai aku seperti dulu lagi," ucap Naura emosi, Shatya tak menjawab dan malah pergi berlalu meninggalkan Naura yang diam berdiri menatap kepergiannya dengan air mata.
****
Setelah Selesai Kursus bahasa Korea Seperti biasa Sofiah dijemput Eun Woo untuk bekerja. Saat di restoran itu Eun Woo memandang Sofiah yang tengah sibuk dengan pekerjaannya, ia merasa aneh sebab sejak tadi Sofiah hanya diam, wajahnya pun sangat murung menahan kesedihan.
mungkinkah sesuatu terjadi? batin Eun Woo namun masih memilih diam padahal rasanya ia sangat ingin bertanya terlebih lagi mengingat Shatya tidak ikut bekerja lagi hari ini. Namun ia pun menepis semuanya dan ikut membantu Sofiah bekerja meski perasaannya gundah, Sofiah terus fokus bekerja sampai waktu jam kerja pun berakhir.
"Sofiah," panggil Eun Woo dan menatap Sofiah yang hendak bersiap untuk pulang.
"Hmm, ada apa?" Sofiah menyahut sambil memandang Eun Woo, pemuda tampan itupun tersenyum simpul.
"Apa kau juga menganggap aku sahabat seperti aku menganggap mu Sahabatku?" tanya Eun Woo kali ini terdengar serius namun tetap tersenyum tipis.
"Tentu saja Kau adalah sahabatku." Jawab Sofiah. "Tapi kenapa tiba-tiba menanyakan itu?" Tanya Sofiah Bingung.
"Karena kau selalu menyembunyikan masalahmu dari aku, jika aku memang sahabatmu harusnya kau bisa lebih terbuka dan menceritakan apa pun kesulitanmu," jawab Eun Woo wajahnya nampak sedih., mendengar penuturan Eun Sofiah malah menangis tidak bisa lagi menahan kesedihannya dan menutup wajahnya dengan telapak tangan. Eun Woo bisa memahami situasi ini dan memeluk Sofiah untuk menenangkannya.
"Menangislah jika memang berat, tumpahkan semua kesedihanmu, ada waktunya kamu pura-pura kuat namun ada saatnya juga kamu harus menangis ketika semua semakin melelahkan kamu," bisik Eun Woo dan menepuk-nepuk pundak Sofiah sehingga membuat Sofiah semakin terisak dalam tangisnya di pelukan Eun Woo membuat pakaian Eun Woo basah dengan air matanya karena wajahnya yang tersembunyi di dada bidang Eun Woo.
****
Shatya turun dari mobil yang dikendarai Ryo, ia tepat berada di depan rumah makan tempatnya dan sofiah bekerja.
bersambung 😊
Terimakasih banyak sudah berkunjung dan mengikuti alur cerita sampai kesini, maaf jika ada kesalahan dalam penulisan kalimat. semoga terus mengikuti kelanjutannya ya..😊😊