BROKEN VOW

BROKEN VOW
Episode 5 : Who Are You??


Malam itu Narnia dan Lucas membeli beberapa makanan berat, air mineral dan juga beberapa camilan di Kantin Rumah sakit. Narnia tampak melihat Jam tangan Lucas yang telah menunjukkan pukul 10 malam.


"kamu ga pulang?" tanya Narnia. Lucas menggeleng sembari membawa semua barang yang mereka beli tadi.


"Kamu ga usah nanggepin serius omongan bapak tadi.. Dia ... "


"kalau aku memang mau serius sama kamu gimana?" tanya Lucas santai. Mendengar itu Narnia berhenti berjalan dan memperhatikan Lucas yang tengah masuk ke dalam lift.


"mau berdiri disitu aja. Ayo masuk..", ucap Lucas. Narnia pun segera masuk ke dalam lift yang membawa mereka ke lantai 10 rumah sakit. Tempat bapak dirawat. Saat pintu lift terbuka, Narnia dan Lucas terkejut melihat ibu dan Evelyn sedang berpelukan di luar kamar. Narnia dan Lucas segera berlari menghampiri. Narnia menangis melihat Bapak yang kembali mengalami kesulitan bernafas. Lucas masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi oleh perawat dan beberapa dokter residen.


Lucas segera mengambil statoskop salah satu dokter residen dan kembali memeriksa Bapak.


"serangan jantung lagi.." gumam Lucas yang dengan segera mendudukan Bapak dan membuka semua baju bapak, memasang oksigen pada mulut dan hidung bapak.


"Berikan Nitrogliserin!", ucap Lucas


"t-tapi.." ucap salah satu perawat. Bapak kembali tak sadarkan diri. Lalu Lucas segera menidurkannya dan kembali melakukan CPR.


"panggil dokter!! sekarang!! code blue..!! code blue!!" teriak Lucas sembari melakukan CPR. Lucas naik diatas badan Bapak dan melakukan CPR. Saat para dokter datang salah satunya mengatakan untuk membawa bapak Ke ICCU untuk diperiksa secara intensif. Perawat Segera membawa Bapak ke ICCU dan Lucas masih tetap melakukan CPR pada bapak karena masih belum menunjukkan tanda tanda detak jantung.


"code blue!! code blue!!" teriak Lucas. para perawat mendorong ranjang Bapak dengan lebih cepat hingga sampai ke ruang ICCU. Para perawat dan dokter di ICCU segera memeriksa kondisi bapak dan membiarkan Lucas melakhkan CPR. Tak berapa lama kemudian nafas Bapak kembali muncul. Melihat itu, Lucas segara turun dari ranjang Bapak. Badan nya penuh peluh karena melakukan metode CPR seorang diri. setelah bapak ditangani oleh tim di ICCU, Lucas keluar ruangan ICCU dan mendapati Narnia dan keluarganya sedang menangis bersama sambil berpelukan di depan ICCU.


" Bapak sedang ditangani.. tapi sekarang kondisinya masih kritis." ucap Lucas dengan nafas terengah engah. Dia lalu mrngsmbil air mineral yang dibawa Narnia dan meminumnya. Lucas duduk di lantai tertegun sembari memperhatikan kedua tangannya. Saat melihat dokter yang menangani Bapak di UGD melewatinya Lucas segera memanggilnya.


"Wei!!" teriak Lucas sembari mencengkeram krag jas putih dokter itu. Melihat itu, Narnia dan Evelyn mencoba melerai dan menenangkan Lucas.


"kau dokter atau bukan?? haa?? diagnosamu bisa membunuh pasien tau!!" ucap Lucas kesal.


"LUCAS!!! LEPAS!" teriak seorang laki laki berseragam dokter yanh datang dengan sekelompok orang yang semuanya adalah dokter senior.


"kamu pikir apa yang kamu lakukan! lepas!", teriaknya lagi.


"Papa?" gumamnya. Mendengar perintah itu Lucas segera melepaskan cengkramannya. Semua orang tercengang saat Lucas memanggil seorang Prof. Dr. dr Edy Prasetya Indarnata, Sp.JP, Sp. PD- KKV seorang dokter senior dan merupakan wakil direktur dari Rumah sakit Medistra Utama.


"maaf.. aku terbawa emosi." ucap Lucas pelan. Narnia lalu memeluk Lucas dan mencoba menenangkannya. Tak berapa lama dr. Edy keluar dari ruang ICCU dan berjalan mendekati Ibu Narnia.


"Nyonya istri dari Bapak Eko?" tanya dr Edy. Ibu Narnia mengangguk. wajahnya terlaku sembab dan matanya terlalu bengkak karena sepanjang hari ini terus menangis.


dr. Edy berbincang sejenak mengenai kondisi suaminya. Ibu Narnia tampak menangis. Lalu dr. Edy berpamitan dan menemui Lucas.


"pacar?" tanya dr Edy.


"iya.."jawab Lucas tegas.


"Kau tau kondisi ayahmu tidak dalam kondisi yang baik.2x terkena serangan jantung di hari yang sama sangat membahayakan jiwanya. Kita coba pantau 24 jam semoga ayahmu bisa melewati masa kritis ini. " ucap dr Edy. Ucapan itu membuat Narnia kembali menangis. Lucas memeluknya dan membiarkan Narnia menangis dalam dekapannya.


Malam berlalu begitu panjang. Makanan yang tadi dibeli sama sekali tidak tersentuh. Ibu duduk dilantai rumah sakit ditemani oleh Evelyn sedangkan Narnia duduk diatas bangku bersama Lucas.


"siapa kau? kenapa bisa melakukan tugas dokter lebih baik dari dokter jaga itu?" tanya Narnia pelan dengan kepala yang bersandar di pundak Lucas.


"aku.. anak dari dokter spesialis tadi.." jawab Lucas singkat. Narnia lalu bangun dan memperhatikan wajah Lucas.


"jujur..ceritakan padaku, siapa kau? aku ingin lebih mengenalmu, Lucas.." ucap Narnia. Wajahnya lesu dan tampak sembab, dia juga nampak tidak bergairah dengan jawaban yang berbelit Belit.


"bisa dibilang aku dokter. Tapi bisa dibilang juga bukan." jawab Lucas pelan sembari memperhatikan Narnia.


"aku sempat sekolah kedokteran, sudah lulus, sudah koas dan sudah menyandang gelar dokter umum. Sempat praktek di sebuah rumah sakit juga milik keluarga papa satu tahun. Dan memutuskan mengambil spesialis jantung sama seperti papa. Yaaa... menjadi residen 1 tahun tapi setelah itu aku berhenti." ucap Lucas pelan.


"kenapa?" tanya Narnia sembari mengernyitkan dahinya.


"Ibuku tidak terlalu suka aku menjadi dokter. Dia ingin anaknya menjadi Direktur di perusahaan milik keluarganya. Makanya aku berhenti. Mencoba keluar dari rumah dan mencari peruntungan hidup sendiri, survive sendiri tanpa uang dari orang tua. Dan akhirnya kita ketemu..", ucap Lucas sambil tersenyum. Narnia memandang lembut ke dalam mata Lucas.


"sekarang katakan kondisi Bapak bagaimana?", tanya Narnia. Air matanya kembali mengalir keluar dari pelupuk matanya. Lucas menghapus air mata itu.


"kita berdoa saja supaya ayahmu bisa melewati masa kritis ini. " ucap Lucas sambil tersenyum. Narnia kembali menyandarkan kepalanya di pundak Lucas dan sesekali menghapus air matanya yang masih mengalir.