
Perjalanan menuju apartemen Lucas tidaklah jauh. Setelah 20 menit berkendara, akhirnya mereka pun sampai di halaman apartemen yang nampak indah itu. Tidak seperti bayangan yang ada pada otak Narnia. kompleks Apartemen itu tampak mewah, rapi, sangat bersih. Lengkap dengan fasilitas kesehatan, perbelanjaan dan juga olah raga. Dilengkapi dengan kolam renang dan gym tentunya. Setelah memarkirkan sepeda motornya, Lucas membawa koper dan Narnia berjalan menuju lift dan dia memencet angka 20 pada tombol lantai. Narnia tampak memandang sekeliling dan pandangannya terhenti pada Lucas yang terus memperhatikannya.
"ada apa?" tanya Lucas heran melihat kepala dan mata Narnia terus celingukan.
"kau bilang apartemenmu kecil? ini tidak kecil.. " ucap Narnia. Melihat isterinya menggerutu Lucas pun tersenyum.
"bagian yang kau lewati tadi memang besar, tapi blok ini kecil. Aku menyewa hanya satu kamar saja.. kamarnya hanya sebesar kamar hotel.", ucap Lucas. Setelah pintu lift terbuka pada lantai yang mereka tuju, Lucas pun menggandeng tangan Narnia. Dan langkah Lucas terhenti saat sampai pada kamar nomor 2020. Lucas membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan Narnia masuk ke dalam. Narnia berjalan perlahan masuk ke dalam apartemen yang tertata rapi itu.
"selamat datang.. Ini kamar mandi, itu dapur dan ada minibar sekaligus meja makan, ada ruang tamu sekaligus ruang keluarga, kamar disitu dan ada balkon nya.. " ucap Lucas sambil tersenyum.
"kemarin aku pergi lajang, pulang bawa istri." lanjut Lucas sambil terkekeh. Narnia tampak tersenyum mendengarnya. Dia tampak asyik melihat sekeliling dan berjalan menuju balkon. Dengan sigap Lucas membuka pintu menuju balkon dan ada dua bangku disana. Narnia pun tersenyum memandang Lucas.
"apartemenmu rapi.." ucap Narnia.
"yaah.. hanya aku yang tinggal disini.. lagipula juga udah ga kuliah jadi bisa rapi. " jawab Lucas yang lalu segera duduk di bangku balkon.
"sudah lama memangnya tinggal disini?", tanya Narnia.
"lumayan.. sejak jadi residen sampai sekarang yaah.. udah 2 tahun lah disini. " jawab Lucas.
"waktu kuliah kedokteran tinggal dimana?" tanya Narnia seolah dia ingin menggali informasi sebanyak banyaknya dari suaminya itu.
"wah . kamu pinter juga ya.."ucap Narnia. Mendengar itu Lucas hanya terkekeh. "jangan membayangkan terlalu tinggi.. aku tidak sepintar itu.." timpal Lucas yang kemudian masuk kembali ke dalam kamarnya, Narnia mengikutinya masuk dan duduk di sofa depan televisi.
"terus kenapa jadi driver Ojol?" tanya Narnia. Lucas memperhatikan Narnia
"kenapa? ga suka punya suami jadi driver Ojol?" tanya Lucas. Narnia segera meralat pertanyaannya.
" Bukan.. maksud aku kenapa terus akhirnya mau jadi driver Ojol?
"Sejak memutuskan jadi residen aku sudah membiayai hidupku sendiri. Kerja apa aja saat waktu luang. Aku meminta teman untuk mendaftar jadi Ojol setelah udah nggak jadi residen. Atas nama dia, tapi yang kerja aku. Cuma ga mau Mami ku tau aja.. " ucap Lucas.
"oiya.. kapan kau ajak aku meminta restu pada orang tuamu?" tanya Narnia. Mendengar itu Lucas tampak tidak terlalu antusias. Dia menyandarkan badannya ke sofa dan kepalanya ada di pangkuan Narnia.
"besok sajalah.. " ucap Lucas. Mendengar itu Narnia hanya terdiam.
"kalau begitu ceritakan dulu tentang keluargamu." ucap Narnia. Mendengar itu Lucas nampak terdiam sejenak.
"keluargaku ya.. kalau Papaku kan kemarin kamu udah ketemu kan.. trus ada Mami.. dia orangnya sangat keras kemauannya, tidak mau dibantah Yaaa tingkahnya masih seperti anak kecil. Lalu ga ada lagi.. cuma itu..", ucap Lucas. mendengar itu Narnia sangat terkejut mengetahui fakta bahwa suaminya ini adalah anak tunggal.