
Lampu ruang operasi telah dimatikan, tanda bahwa operasi telah usai. Semua orang berdiri saat mengetahui Perawat membawa tuan Edy keluar menuju kamar VVIP sesuai permintaan keluarga.
"Bagaimana keadaannya, dokter?" tanya Lucas.
"dr Edy mengalami pnemuthorax kami sudah mengoperasinya dan memberikan selang di paru parunya. Malam ini sangat krusial, semoga dr Edy dapat melewati semuanya." ucap dokter itu sebelum pergi. Mendengar itu tampak Nyonya Rossy mulai lunglai dan tak bisa berdiri tegak.
"Mom.. duduklah.." ucap Lucas sembari memegangi Nyonya Rossy.
"Kenapa kau berbuat begini padaku.. lama tidak bertemu dan kau datang padaku dalam keadaan seperti ini.. Sayang.. ayoo bangunlah.."ucap Nyonya Rossy sembari menangis di tepian ranjang suaminya. Jesicca Tak pernah jauh dari sisi Nyonya Rossy. Dia terus memegangi Nyonya Rossy agar tidak terjatuh. Narnia hanya dapat memandangi dr Edy dari dekat pintu.
"Kau bisa pulang sekarang..", ucap Lucas saat kembali mendekati Narnia. Narnia terdiam ditempat, pandangan matanya tak pernah lepas dari Tuan Edy yang sedang terbaring di tempat tidurnya.
"Tidak.. Ijinkan aku disini. Aku akan menunggu diluar ruangan.. yaa.. boleh yaa..", pinta Narnia dengan mata berkaca kaca. Lucas memandang wajah Narnia lalu melingkarkan tangannya dipundak Narnia.
"Kau duduklah disini.. Jangan hanya berdiri saja nanti kau lelah.." ucap Lucas sembari duduk di sebelah Narnia. Lucas tampak menengadahkan kepalanya, menyandarkan punggung dan juga kepalanya ke tembok . Matanya menerawang jauh entah apa yang sedang ia bayangkan.
"Aku tidak menyangka papa akan mengalami hal seperti ini..Kau... masih sering mengunjunginya?", tanya Lucas . Narnia mengangguk.
"Dia yang menampungku saat aku hamil dan melahirkan, dia juga memberikan perawatan terbaiknya dirumah saat aku melahirkan. Dia tidak pernah membiarkan aku dan Kanaka hidup kekurangan Dia memberikan aku pekerjaan di perusahaan itu dan pada akhirnya kita bertemu lagi. Dan hubungsnnya justru bertambah rumit..", ucap Narnia pelan. Mendengar pembicaraan Narnia, Lucas sedikit tersenyum kecil.
"Rupanya dia memang sengaja mempertemukanmu dan aku di perusahaan itu. Kau dipekerjakan olehnya dan dia pula yang membujukku untuk membeli perusahaan itu. Sejak awal dia memang menginginkanku membicarakan kembali semua yang telah kita lewati. Tapi aku tidak pernah mendengarnya.. hingga kita bertemu dsn terlalu banyak hal menyakitkan yang menimpamu.. Aku paham kenapa kau tidak mau kembali ..", ucap Lucas. Narnia dan Lucas saling memandang langit langit rumah sakit. Pandangan mereka sama, sendu. Mata mereka pun berkaca kaca hanya mereka menahannya untuk tidak menangis.
"Aku sangat bahagia bisa bertemu dengan Kanaka..sungguh.. " ucap Lucas sambil tersenyum.
"Kanaka juga.. belum pernah aku melihat dia sebahagia itu.. Dia begitu ceria dan bersemangat setelah bertemu denganmu. Mungkin karena ikatan batin diantara kalian. Maafkan aku, Lucas.. aku belum bisa memberitahu Kanaka kalau k---",
"sudahlah.. tidak perlu.. Biar aku saja yang tahu.. Biar aku yang bertanggungjawab atas Kanaka walaupun tidak secara langsung..Aku pikir hubunganku dengan Kanaka sudah cukup baik sekarang.. jangan sampai dia berpikir yang tidak tidak jika memberitahu yang sebenarnya..", ucap Lucas. Tanpa sadar hari semakin larut. Lucas dan Narnia menghabiskan malam bersama dibangku itu. Narnia meletakkan kepalanya di bahu Lucas dan terlelap.
"Sayang.." ucap Nyonya Rossy sembari menggenggam tangan tuan Edy.
"Kenapa kau sakit seperti ini? Apa kau tidak ingin membuka matamu untuk melihatku, sayang?" ucap Nyonya Rossy sembari menangis.
"Aku mencintaimu.." ucap tuan Edy lirih. Mendengar itu Nyonya Rossy segera menciumi tangan tuan Edy
"Sayang.. "
"Aku sudah bilang aku mencintaimu, kau justru marah dan memintaku menceraikanmu. Kau tidak pernah berbicara lagi denganku. Aku sangat merindukanmu Rose.." ucap Tuan Edy lirih. Nyonya Rossy menangis mendengar itu.
"Kau tidak melihat Lucas?Dia dan Narnia sama sama tersiksa berpisah karena sebuah kesalahpahaman yang kau ciptakan. Kau memisahkan mereka dan membuat Kanaka, cucu kita tidak mendapatkan kasih sayang ayahnya..Rossy.. cobalah buka hatimu.. aku yakin kau akan bisa memahaminya walaupun terlambat. ", ucap tuan Edy. Nyonya Rossy masih menangis tersedu sedu mengingat segala kebencian dan keangkuhannya.
"Aku tahu aku salah sayang.. Aku tahu.. Aku akan lebih membuka hati mulai sekarang, sungguh.. Kau cepat sembuhlah.. Nanti aku akan menemanimu memancing di danau, menghabiskan hari bersama hanya kita berdua di rumah masa kecilmu.. Kau sehat lah yaa..sayang.." ucap Nyonya Rossy. Tuan Edy tampak tersenyum mendengar itu.
"Itu terdengar sangat indah.. Aku rindu saat saat itu, Rose.." ucap Tuan Edy lirih. Nyonya Rossy menangis di atas ranjang tuan Edy sembari masih menggengam tangan Tuan Edy dan tiba tiba peralatan yang menempel pada tubuhnya berbunyi sangat keras.
"hah.. sayang.. ada apa.. sayang.. Lucaaaasss.." teriak Nyonya Rossy panik seketika.
"bagaimana ini sayang.. bagaimana ...", teriaknya lagi. Lucas dan Narnia terbangun karena suara gaduh tanda code blue. Banyak perawat dan dokter yang berlari ke kamar Tuan Edy. Seketika Lucas dan Narnia beranjak dari tempat duduknya dan masuk ke dalam ruangan.
"Lucass...kenapa alat itu berbunyi.. kami sedang mengobrol tadi.. " ucap nyonya Rossy sembari menangis. Lucas memeluk ibundanya dan memperhatikan para dokter mencoba menyelamatkan Tuan Edy, melakukan prosedur code blue akibat gagal nafas. Hingga alat detektor jantung itu menjadi sebuah garis lurus. Mendengar suara alat itu, Lucas segera menatap tajam ke arah tuan Edy yang terbaring diranjang itu. Lucas bersimpuh tepat disebelah ranjang Tuan Edy.
"papa..."teriaknya sambil menangis pilu. Mengetahui kabar duka itu, Narnia pun ikut menangis. Dia merasa kehilangan orang yang selama ini selalu ada untuk membantunya.
"waktu kematian 05.30 " ucap salah satu dokter. Semua orang nampak sedih karena kehilangan teman sejawat sekaligus senior dan keluarga barusaja kehilangan sosok suami, ayah dan juga kakek. Kesedihan begitu pekat didalam ruangan itu pagi ini.