
Hari ini banyak nasabah Bank yang datang untuk berbagai keperluan. Dan dari semuanya itu tempat paling ramai adalah Teller. Antrian panjang di depan meja teller tak jarang membuat para Teller frustasi. Hampir semua dari mereka melewatkan jam makan siang mereka, konsentrasi mulai menurun dan tubuh mulai terasa sangat lelah saat sore hari tiba.
"hari ini gila..rame bangeeeettt" ucap Mitha saat melemparkan badannya ke kursi kerjanya. Melihat itu Narnia hanya tersenyum sembari terus membereskan uang uang dan menghitung uang yang ada dihadapannya.
"tanggal muda.. " ucap Rini yang juga sibuk mencocokkan keuangan yang ada.
"tapi pencairan kredit juga banyak.. auuuhh.. stresnya.." ucap Mitha. Dia segera membetulkan posisi duduknya ketika Kak Theo datang menghampiri.
"bagaimana? masih belum selesai juga mengitungnya? aku harus segera setor ke pusat ni.." ucap Kak Theo.
"sebentar lagi kak.. " jawab Narnia sambil tersenyum.
"cocok!!! waaaahhhh legaaanyaaa.." teriak Rini saat usai melakukan pengecekan. Semua orang menghela nafas panjang. lalu menyerahkan uang tersebut kepada kak Theo untuk disetorkan ke Kantor Pusat.
"ayoow kita istirahat." ucap Mitha yang disambut gembira rekan rekannya yang lain. Narnia membuka Cepol rambutnya dan menggantinya dengan kuncir kuda. Dia segera berjalan menuju loker dan ruang istirahat dan mengambil kotak makan siang yang entah sejak jam berapa ada di atas meja pantry. Makan siang yang terlalu terlambat itu berjalan cepat sebelum akhirnya Kak Arin headteller mereka kembali memanggil.
"ada apa?" tanya Rini penasaran.
"ooh.. aku akan terlambat kencan lagi.." gerutu Mitha yang lalu diserbu tawa teman temannya.
Narnia dan kawan kawannya kembali ke meja kerja mereka. Kak Arin sudah duduk dikursinya dan ada Kak Theo juga disana.
"ada masalah apa kak?" tanya Narnia penasaran.
"kalian sudah benar benar menghitung uang yang ditansaksikan hari ini dengan seksama? benar??" tanya Kak Arin tegas. Narnia dan kawan kawannya saling beradu pandang.
"s-sudah kak.." jawab Rini sedikit gugup.
"Narnia.. benar tidak ada yang kurang??" tanya Kak Theo mengagetkan Narnia.
"a-apa maksudnya kak?saya sudah memberikan semuanya.. totalannya cocok.." jawab Narnia. Kak Theo berjalan menghampiri Narnia.
"kecocokan uang dengan yang kalian hitung memang sudah. 4,9 Milyar. Tapi pertanyaannya apa pernah kita mengambil modal 4,9 Milyar??Hari ini aku ambil uang dipusat 5 milyar! kenapa hanya ada 4,9 Milyar???Dan Kak Arin menemukan plastik ini di bawah kursimu!!" ucap Kak Theo yang lalu membuka isi plastik kresek hitam dibawah kursi Narnia. Narnia membelalakkan matanya melihat setumpuk uang 100 ribuan disana.
"t-tapi.. s-saya tidak tau apa apa tentang ini kak.. sungguh" ucap Narnia dengan mata berkaca kaca.
"Ayo jelaskan kenapa uang itu ada ditempatmu!!" tanya Kak Arin. Narnia kembali menatap kedua seniornya itu.
"walaupun saya berkata saya tidak tahu kenapa uang itu ada disana kalian juga tetap tidak akan percaya kan? Lebih baik saya mengundurkan diri sekarang juga. Silahkan selidiki kebenarannya! Saya akan memberikan surat pengunduran diri saya besok. Permisi.." ucap Narnia dan segera dia meninggalkan ruang Teller dan berlari menuju ruang loker. Narnia menangis sendu mengingat tuduhan kejam yang ia terima itu. Dia lalu segera membereskan barang barangnya dan segera keluar dari kantornya. Narnia berjalan cepat tanpa mempedulikan teman teman kerjanya memanggilnya. Dia segera memanggil Ojek Online melalui ponsel Android nya.
Narnia terdiam, berdiri tepat dipinggir jalan. Pandangannya kosong, wajahnya sembab, dia masih tidak habis pikir dengan kejadian yang menimpanya.Dia pun tidak sadar jika ojek online yang dia pesan sudah ada di depan mata.
"Kak Narnia?" tanya driver Ojol itu. Narnia masih terdiam, menatap kosong pada satu titik.
"Kak Narnia.."panggilnya sekali lagi dan panggilan itu membuyarkan lamunannya.
"oohh.. iya.." ucapnya seraya menerima helm yang diberikan oleh driver Ojol itu.
"kau baik baik saja?Masih ingat padaku?" tanya Driver itu saat membuka masker mulutnya. Narnia menatapnya, wajahnya tampak sembab dan tidak bergairah.
"kau.. kenapa?apa ada masalah?" tanya Driver Ojol itu lagi. Dengan lemas Narnia naik ke atas motornya, kembali melingkarkan tangannya ke pinggang sang Ojol. Saat sampai di depan rumah, tidak ada senyuman sama sekali. Dia berjalan lemas, setelah memberikan helm itu kembali pada si driver Dia masuk dengan lemas ke dalam rumah. Dan jatuh terduduk di depan pagar rumahnya. Dia tampak kembali menangis sesenggukan di depan sana.
"mbak.." sapa driver Ojol itu yang sama sekali belum beranjak dari tempatnya. Narnia menoleh ke arahnya dan membuka pintu pagarnya. Mereka saling berdiri berhadapan.
"ada apa mas?" tanya Narnia lesu.
"Maaf, mbak... mbak belum bayar." ucap Driver itu. Seketika mata Narnia membelalak, tangis sendunya berhenti seketika dan memandang ke arah driver itu dan ternyata dia driver ganteng yang Narnia temui kemarin.
"bukannya udah pake O..." Narnia segera mengecek aplikasi ojek online miliknya dan ternyata saldo OCast nya telah kosong.
"aduh.. maaf sekali mas.. tunggu sebentar.." ucap Narnia dengan wajah merah merona karena malu. Dia mengambil dompet yang ada di dalam tasnya dan membayar uang ojeknya.
"sedang tidak bersemangat ya?" tanya driver itu. Narnia hanya tersenyum tipis.
"ini.. kembaliannya untuk mas aja." ucap Narnia sembari memberikan sejumlah uang.
"maaf yaa.. tadi saya terbawa emosi sampai lupa bayar.." ucapnya malu. Driver ganteng itu pun tersenyum. Mereka saling berhadapan dan saling tersenyum. Sebelum akhirnya Narnia kembali menutup pintu gerbangnya setelah melambaikan tangannya. Dia tersenyum tipis memasuki rumahnya seolah melupakan sejenak masalah yang menimpanya dikantor tadi.