
Pagi itu pagi pagi sekali Lucas telah sampai di depan rumah Nyonya Lisa. Dia hanya berdiri tepat dimuka pintu gerbang menerawang jauh menatap rumah yang kini tampak lawas itu. Mengingat awal mula kisahnya dengan Narnia dimulai.
Narnia..sepertinya kisah kita memang berakhir sekarang.. Kau akan jadi yang terakhir dalam hidupku meskipun mungkin aku tidak bisa memilikimu. ucap Lucas dalam hati. Lamunannya pecah saat pintu pagar itu dibuka. Dan Lucas terkejut karena menemukan Narnia berdiri tepat di hadapannya. Lucas memandangi Narnia dengan pandangan penuh arti. Sebuah kata perpisahan yang mungkin tak sanggup ia ucapkan.
"Lucas?? Ada apa kau datang pagi pagi begini?" Tanya Narnia heran. Dia melihat kehadiran Lucas disana dan menyambutnya dengan senyuman.
"Aku hanya mampir. Kanaka sudah mau berangkat sekolah? Aku ingin mengantarkannya ke sekolah.."ucap Lucas sembari tersenyum. Narnia memandangnya dan mengangguk. Memberikan isyarat pada Lucas untuk masuk kedalam.
"Narnia.." panggilnya sembari menggengam tangan Narnia. Narnia memandang Lucas dengan tatapan bingung. Lucas menggengam tangan itu erat, memandanginya seolah tak ingin dia lepaskan. Narnia menatapnya dengan pandangan bingung dan penuh tanya.
"Lucas? Kau ini kenapa?" tanya Narnia. Lucas tidak menjawab. Dia hanya menggeleng sambil terus menggenggam tangan Narnia.
"Ayo masuklah.. kita sarapan sama sama.. Kanaka pasti senang melihatmu ada disini.." ucap Narnia sembari melepaskan tangan Lucas. Lucas mengikutinya dari belakang dan melihat Kanaka tengah duduk di kursi makan.
" Om Lucas!" teriak Kanaka seketika saat melihat Lucas. Kanaka turun dari kursinya dan berlari memeluk Lucas.
"Hai jagoan!! Om antar kesekolah yaa.." ucap Lucas sambil tersenyum. Kanaka mengangguk dengan senyum lebar di wajahnya. Setelah berpamitan akhirnya Lucas mengantarkan Kanaka ke sekolahnya.
"Jagoan.." panggil Lucas saat Kanaka hendak melangkah masuk ke dalam sekolahnya.
"Ya om.." jawab Kanaka seraya membalikkan badannya dan menghampiri Lucas yang telah bersimpuh disana.
"Om ada sesuatu buat kamu.. " ucap Lucas sembari memberikan sebuah peta pada Kanaka.
"Apa ini, Om?" tanya Kanaka bingung. Lucas membelai kepala Kanaka dsn mengecup keningnya.
"Itu peta.. Om sudah tandai dimana om akan tinggal setelah ini.", ucap Lucas pelan. Kanaka memperhatikan Lucas memandang wajahnya dengan tatapan yang sangat dalam.
"Apa Om akan pergi?", tanya Kanaka berharap Lucas menjawab pertanyaan itu dengan jawaban tidak, tapi harapan itu pupus ketika Lucas menganggukkan kepalanya. Mendengar itu Narnia terus memperhatikan Lucas. Pandangannya tak putus sedikitpun dari memandang wajah lelaki itu. Air mata Kanaka mulai mengalir pelan.
",Pekerjaan Om sudah selesai, jadi Om harus kembali kesana.. Om sudah beri tanda, besok Kanaka bisa main ketempat Om ya.." ucap Lucas sembari menahan tangis.
"Kenapa Om tidak tinggal saja disini?Kanaka sayang sama Om Lucas.. Kalau Om pergi, Kanaka nggak ada temen main lagi.. " ucap Kanaka dengan air mata dipipinya. Lucas menghapus air mata itu perlahan.
"Jagoan Om, nggak boleh nangis. Om hanya sementara perginya. Jika hari libur tiba, Om janji akan datang kesini.. Oke.. "ucap Lucas. Kanaka hanya bisa mengangguk sedih. Dan masuk perlahan kedalam sekolah dengan menundukkan kepalanya.
Narnia terus memandang ke arah Lucas. Yang akhirnya Lucas memandang Narnia dengan wajah sendu.
"Kau mau kembali kemana?" tanya Narnia dengan mata berkaca kaca.
"Amerika." jawab Lucas pelan.
"Kenapa tidak tinggal saja disini?", tanya Narnia
"Tidak ada alasan untukku tetap disini." jawab Lucas.
"Kapan kau akan berangkat?"tanya Narnia
"Pesawat Jam 12 siang nanti.." jawab Lucas pelan
Deg!
Narnia terdiam dan mulai perlahan berjalan ke arah mobil Lucas dan berusaha menahan air matanya. Lucas mengantarkan Narnia kembali ke rumah Nyonya Lisa.
"Narnia.." panggil Lucas saat Narnia turun dan hendak masuk kedalam rumah Nyonya Lisa. Lucas berdiri tepat dihadapan Narnia yang sedari tadi tetap terdiam tanpa kata didalam mobilnya. Narnia menatap wajah Lucas.
"Ada apa?" jawab Narnia pelan. Suaranya bergetar dan matanya berkaca kaca.
"Aku masih berharap kau menahan kepergian ku.. Tapi sepertinya itu hanyalah harapanku. Aku tidak ingin mengucapkannya tapi sepertinya aku tidak bisa menahannya. Aku akan pergi, Narnia.. terimakasih untuk semuanya. Terimakasih kau sudah mengijinkan aku menemui Kanaka. Aku mencintaimu..selalu mencintaimu.." ucap Lucas pelan. Dia memperdalam pelukannya. Mencoba untuk lebih lama mendekap tubuh wanita tercintanya itu.
"Aku pergi.." ucap Lucas seraya melepaskan pelukan Narnia. Dia berjalan cepat tanpa membalikkan badannya sama sekali. Lucas masuk kedalam mobil dan melaju begitu saja. Narnia kembali menangis menatap mobil yang telah berlalu itu.
"Bahkan kau tidak menoleh padaku?" gumam Narnia dengan air mata mulai berderai di pipinya. Narnia berdiri cukup lama didepan pagar rumahnya.
"Narnia.. " sapa Nyonya Lisa seraya menyentuh pundak putrinya. Narnia setengah terkejut dan kembali menghapus air matanya.
"Ada apa?" tanya Nyonya Lisa pelan.
"Lucas .. akan pergi Bu.." ucap Narnia pelan. Suaranya nampak tergetar tapi dia berusaha tegar. Nyonya Lisa mengernyitkan dahinya memandangi Narnia yang berusaha keras untuk tampak baik baik saja, tetapi bagi Nyonya Lisa dia bisa merasakan kesedian yang mendalam yang dialami oleh putrinya itu.
"pergi? meninggalkanmu? meninggalkan Kanaka?" tanya Nyonya Lisa. Narnia mengangguk.
"Sampai saat ini dia tidak mau Kanaka tau bahwa Lucas adalah papanya. Dia hanya tidak mau jika dia merasa mengambil Kanaka dari aku.."ucap Narnia pelan sembari menunduk dan terus memegangi kedua tangannya.
"Apa kau sedih?" tanya Nyonya Lisa. Narnia kembali memandang ibunya dan tidak menjawab.
"Kenapa tidak kau cegah dia pergi?" lanjut Nyonya Lisa.
"Aku...a-aku.."
"Gengsi??" tebak Nyonya Lisa
"Ibu???"
"Tebakanku benar, bukan?" tanya Nyonya Lisa. Mendengar itu Narnia segera masuk kedalam rumah meninggalkan ibunya.
"Kenapa? Kau ingin lari lagi iya? lari dari kenyataan bahwa sebenarnya kau masih mencintai laki laki itu, iya??" ucap Nyonya Lisa. Narnia terdiam dan berbalik.
"Ibu??"
"Apa menurutmu semua gengsimu itu adil untuk Lucas?? Adil untuk Kanaka??Kau boleh membiarkan Lucas pergi tapi paling tidak beritahu Kanaka siapa Lucas sebenarnya.. katakan jika Lucas adalah papanya.." ucap Nyonya Lisa.
"Om Lucas apa Oma??" suara kecil itu begitu mengagetkan Narnia dan Nyonya Lisa. Anak laki laki kecil itu tiba tiba pulang dan berdiri tepat didepan pintu, mendengarkan semua pembicaraan Narnia dan Nyonya Lisa.
"Kanaka.. Kok Kanaka udah pulang??" gumam Narnia yang segera menghampiri Kanaka yang mematung didepan pintu, matanya mengisyaratkan berjuta pertanyaan yang mungkin akan menyulitkan Narnia untuk menjawabnya.
"Kanaka.." gumam Narnia
"Om Lucas apa? Apa benar dia papaku?" tanya Kanaka pelan. Matanya menatap tajam ke arah Narnia dan menanti jawaban pasti Narnia. Mendengar pertanyaan itu, Narnia terdiam sejenak, kemudian dengan air mata yang terus mengalir dia mengangguk pasti. Narnia segera memeluk Kanaka yang menangis tersedu sedu.
"Ayoo ketempat Om Lucas mah.. Kanaka nggak mau dia pergi . Kanaka pengen dia disini.. Kanaka pengen punya papa.." ucap Kanaka sembari menangis. Narnia pun mengangguk dan segera menelpon taxi online.
"Jika berangkat jam segini kita bisa ke apartemennya..", ucap Narnia sembari menggandeng Kanaka memasuki taxi online yang telah menanti didepan pintu. Setelah bertanya dengan security dan memencet bel pintu apartemen Lucas beberapa kali tapi tak ada sahutan, akhirnya Narnia memutuskan membawa Kanaka menyusul Lucas di airport. Dalam perjalanan Narnia terus memeluk Kanaka sembari sesekali memeriksa jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.
Sesampainya di airport, Narnia segera menggandeng Kanaka berlari menuju penerbangan luar negeri yang jaraknya lumayan jauh dari pintu masuk bandara. Saat sampai di depan pintu penerbangan luar negeri, Narnia berhenti. Nafasnya terengah engah, matanya terus menyisir setiap sudut tempat didekat pintu keberangkatan itu, tetapi dia tidak menemukan sosok Lucas disana.
"Mana papa, mah?", tanya Kanaka yang juga tak hentinya memperhatikan sekelilingnya.
"Mama belum nemuin, kak.." gumam Narnia. Hatinya bertambah gundah saat melihat jam tangannya dan waktu telah mendekati pukul 12. Narnia mencoba meraih ponselnya dan menelpon nomor Lucas. Dan tak kunjung diangkat. Narnia mulai putus asa. Dia kembali memeluk Kanaka dan meneteskan air matanya.
"Kayaknya kita terlambat, Kak.."gumam Narnia yang tanpa sadar menangis di pelukan Kanaka.