
Hari sedihnya benar benar masih terus berlanjut hingga bulan berlalu. Narnia masih enggan keluar rumah dan bertemu dengan banyak orang. Dia menghabiskan semua waktunya hanya dirumah.
"Evelyn.. Narnia benar belum mau masuk kerja lagi?" tanya Nyonya Lisa saat sedang asyik membuat kue didapur. Evelyn hanya menggeleng dengan wajah sedihnya.
"kerja atau tidak sekarang tidak penting Bu. Yang penting sekarang dia mau makan walaupun hanya sedikit. aku juga bisa memahami betapa sakitnya perasaan Narnia sekarang, Bu.." ucap Evelyn sembari memasak untuk sarapan mereka. Narnia melihat perbincangan kakak dan Ibunya itu lalu bergabung dan duduk di kursi makan.
"kalian membicarakanku? terdengar begitu jelas .." ucap Narnia sembari mengambil anggur di meja makan dan memakannya.
"kami sedang memikirkan cara supaya kau bisa kembali bersemangat lagi.." ucap Evelyn. Tiba tiba Narnia merasa sangat tidak enak, perutnya bergemuruh dan seolah ada sesuatu yang hendak dia muntahkan. Seketika Narnia berlari ke kamar mandi.
"Dek.. kamu kenapa?" tanya Evelyn sembari mengetuk pintu kamar mandi. Narnia membuka pintu itu dan membersihkan mulutnya.
"anggurnya busuk kayaknya.. rasanya aneh.", ucap Narnia sembari mengernyitkan dahinya.
"sudah.. ayo sarapan dulu.." ucap Nyonya Lisa dari kejauhan. Narnia mendekati meja makan dan mengambil piring yang sudah berisi nasi goreng pedas lengkap dengan telur mata sapi dan kerupuk. Narnia duduk dan saat hendak menyantap nasi goreng itu dia kembali berlari ke kamar mandi.
"Narnia kenapa sih Bu?" tanya Evelyn bingung. Nyonya Lisa hanya mengangkat bahunya karena tidak tau persis apa yang sedang dialami oleh putrinya.
"kamu kenapa sih dek? sakit?" tanya Evelyn bingung. Narnia hanya menggeleng.
"nggak tau rasanya.. aneh.. iihh bauk ini Lo mbak.. nasi goreng.." ucap Narnia sebelum akhirnya kembali lagi ke kamar mandi.
"nasi goreng? bau? " gumam Evelyn yang seketika mencium nasi goreng buatannya.
"baik baik aja kok.. nggak basi juga..baunya enak.. kok dia bisa muntah muntah begitu ya Bu?" tanya Evelyn bingung.
Mendengar ucapan Evelyn tiba tiba Nyonya Lisa menjerit.
"ibu?? apaan sih bikin kaget??" ucap Evelyn kesal. Nyonya Lisa segers berlari menghampiri Narnia yang tampak lemas duduk didepan kamar mandi.
"dek.. ibu mau tanya, tapi dijawab jujur ya.." ucap Nyonya Lisa. Narnia memegangi kepalanya yang terasa begitu pusing dan dengan mata sayu menatap ibunya.
"sebelum kau bercerai apa.. kau.. berhubungan dengan Lucas?", tanya Nyonya Lisa pelan. Mendengar itu Narnia mencoba mencerna perlahan pertanyaan ibunya itu.
"hah!!" teriak Narnia seketika.
"kenapa dek?" tanya Evelyn mulai bingung dengan situasi ini. Narnia tidak menjawab dia hanya berteriak dan kembali menangis.
"aku harus gimana Bu?", ucapnya sembari terus menangis.
Pagi itu, Narnia, Evelyn dan Nyonya Lisa duduk termenung di ruang tamu, mereka memandangi sebuah alat kecil yang terpampang jelas didepan mata dengan dua garis biru ditengahnya.
"aku harus bagaimana?" ucap Narnia bingung sembari mengacak acak rambutnya.
"itu tandanya hamil Bu?" tanya Evelyn dan Nyonya Lisa pun mengangguk. Nyonya Lisa lalu mendekati Narnia dan menggengam tangan Narnia.
"kau bilang saja pada Lucas kalau kau hamil.. yaa walaupun kalian sudah bercerai tapi siapa tau dia bisa membuka hatinya untuk menerima anak ini." ucap Nyonya Lisa pelan . Mendengar itu Narnia menggeleng.
"aku tidak mau kehilangan anakku lagi Bu.. Ibu Lucas sangat mengerikan. Dia tega menabrakku untuk membuatku keguguran, kali ini lebih baik tidak ada yang tau siapa ayah anak ini. Aku tidak mau ada orang yang menyakiti anakku lagi, Bu. aku sungguh beruntung bisa memiliki dia lagi dalam perutku. Dia akan menjadi penyemangat kecilku untuk menjalani hidup. Aku akan berusaha lebih baik lagi mulai sekarang. Bukankah kita harus tetap bahagia menyambut anak ini..ya kan Bu?" ucap Narnia. Mendengar itu Nyonya Lisa pun menangis haru dan memeluk kembali putrinya.
"selamat nak..disaat sulit kau tetap mendapat kebahagiaan seperti ini.. Ini sungguh luar biasa.. Aku akan punya cucu.", ucap Nyonya Lisa dengan senyum gembira.