
Malam itu, Narnia masih terduduk di depan pintu pagar setelah mengetahui mobil Lucas pergi, Narnia mulai menangis sejadi jadinya. Dia duduk didepan pintu pagar itu. Memikirkan perkataan Lucas tentang perpisahan 8 tahun yang lalu.
"Kini aku yang mengucapkan kata itu.." ucap Narnia sembari menutup wajahnya. Hatinya begitu sakit mengingkari semua yang sebenarnya dia inginkan. Narnia tahu, jika dia mengatakan yang sejujurnya tentang perasaannya pada Lucas, lelaki itu pasti akan terus memperjuangkan hubungan mereka, juga pasti akan memperjuangkan Kanaka. Tapi ketakutan Narnia lebih besar dari apa yang terlihat. Dia sama sekali tidak ingin ada orang lain yang menyakiti buah hatinya,Kanaka. Meski harus mengorbankan perasaannya, Narnia rela. Dia masih menangis disana. Dadanya terasa sesak hingga sulit bernafas.
"Aku menangis seperti ini lagi karena mu, Lucas.. " gumam Narnia. Yang mencoba mengangkat tubuh lemahnya dan berjalan masuk ke dalam rumahnya. Narnia mulai memandangi Kanaka yang telah jauh didalam alam mimpinya. Pikirannya melayang mengingat waktu yang telah ia lewatkan bersama Lucas beberapa bulan ini. Narnia menghampiri Kanaka dan merebahkan diri disamping Kanaka. Matanya tak luput memandangi wajah anak laki laki polos itu.
"Maafkan Mama.. Karena keegoisan mama untuk melindungimu, mama terpaksa menjauhkanmu dengan papa.." gumam Narnia.
****
"Lucas.. kamu udah pulang.." ucap Jesicca saat menyambut Lucas yang telah sampai di apartemennya. Lucas tampak memandang tajam wajah Jesicca dan membuka pintu apartemennya tanpa bertanya atau berkata apapun. Dia langsung menuju kamar mandi dan membasuh wajahnya yang sembab karena menangis. Dia lalu menyalakan shower dan membuka seluruh bajunya. Lucas membasahi seluruh tubuhnya dengan air mengalir.
"Perasaan seperti ini lagi yang ada di hatiku sekarang..benar sudah tidak ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya..Aku kembali merindu dan bukan hanya satu orang yang aku rindu sekarang tapi dua. Sungguh menyiksa..", gumam Lucas dalam guyuran air hangat di kamar mandinya. Saat keluar dari kamar mandinya, Lucas mendapati Jesicca telah berbaring di atas ranjangnya sambil menonton acara kesayangannya.
"Mau apa kesini?" tanya Lucas singkat sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk ditangannya. Lucas mengambil minuman dingin di dalam kulkasnya dan duduk diatas ranjang tepat di sebelah Jesicca. Melihat Lucas ada tepat disebelahnya, Jesicca tidak ingin melewatkan kesempatannya, dia lalu mendekatkan tubuhnya dan menyandarkan kepalanya di bahu Lucas. Senyumannya mulai merekah karena Lucas sama sekali tidak menolaknya.
"Kalau begini dari dulu kan bagus, sayang.." ucap Jesicca pelan. Lucas tetap acuh dengan apa yang dikatakan Jesicca, Dia lebih memilih menikmati minuman dinginnya. Matanya menatap televisi tapi pikirannya tertinggal dirumah Narnia.
"Eh, sayang.. Hari pertunangan kita dimajukan loh. Mommy dan aku sepakat akan mengadakan pertunangan itu akhir pekan ini. Bagaimana?" tanya Jesicca penuh semangat. Lamunan Lucas seketika buyar setelah mendengar perkataan Jesicca barusan. Dia terdiam sejenak. Hatinya menolak tapi rasanya sudah tidak ada hal yang ingin dia kejar lagi setelah pembicaraannya dengan Narnia.
"Terserah kamu sama mommy aja." jawab Lucas pelan. Mendengar itu Jesicca bertambah bahagia, seolah hal yang diinginkannya selama hampir 8 tahun ini akan segera terlaksana. Jesicca memberanikan diri mencium pipi Lucas. Lucas hanya diam, acuh tidak memperdulikannya dia tetap menghabiskan minuman dinginnya. Jesicca memberanikan diri lebih dekat dengan Lucas. Mendekatkan wajahnya sangat dengan hingga udara yang keluar dari hidung saat bernafas begitu terasa bagai desiran angin. Saat hendak meraih bibir Lucas, Lucas memalinkan wajahnya.
"Kau pulanglah.. aku ingin istirahat. " ucap Lucas pelan. Jesicca dengan langkah kecewa, turun dari ranjang Lucas dan mengambil tas tentengnya.
"Besok mommy suruh kita cari cincin pertunangan.. besok aku kekantormu ya sayang.." ucap Jesicca dengan senyum khasnya.
"Kau saja yang cari. Besok aku sibuk. " jawab Lucas sebelum menarik selimutnya dan tidur.
****
Di rumah Narnia
Sudah hampir satu Minggu ini tidak ada hari tanpa Kanaka menanyakan keberadaan Lucas pada Narnia.
"Om Lucas lagi keluar kota, Kak.. " ucap Narnia mencoba dengan sabar memberikan alasannya. Kanaka masih tampak ngambek. Tidak mau bicara pada Narnia dan asyik dengan dunia mainnya sendiri.
"Kanaka marah? Hmm.. gini aja.. kita main ke rumah Opa di desa yuk.. mau?Kanaka bisa mancing sama opa, bisa menyusuri danau juga.. gimana?" ajak Narnia mencoba membujuk Kanaka dan Kanaka pun setuju. Akhirnya Kanaka, Narnia dan juga Nyonya Lisa bersama sama pergi ke rumah Tuan Edy. Setelah mengendarai mobil sewaan selama 2 jam, akhirnya sampai juga dirumah Tuan Edy. Rumah itu begitu besar dan juga sepi. Kanaks ya g sedari tadi menekuk wajahnya lalu seketika berubah sumringah. Dia berlari hingga ke depan pintu masuk dan mengetuknya.
"Opa.. Opa.." ucap Kanaka seraya mengetuk pintunya.
Tidak ada jawaban.
"Apa opa pergi ya?" tanya Kanaka yang tak lama mengetuk pintu itu lagi. Narnia mencoba melihat lebih dalam dari balik kaca jendela itu. Alangkah terkejutnya Narnia saat mendapati Tuan Edy tergeletak di lantai.
"Papa.." gumamnya dengan wajah panik. Dia segera berlari kebelakang rumah mencari pintu yang terbuka. Karena tak kunjung menemukannya akhirnya Narnia membuka pintu itu dengan paksa.
"Papa.." ucap Narnia saat melihat Tuan Edy yang kesulitan bernapas.
"aku panggil ambulance.." dengan sigap Narnia menelpon ambulance. Beberapa tenaga medis datang dan mulai memeriksa Tuan Edy
"Nona.. sepertinya saya akan merujuk Tuan Edy ke rumah sakit dikota, karena peralatan dirumah sakit ini kurang lengkap"ucap perawat itu. serta Merta Narnia mengangguk.
"Kau temani Tuan Edy di ambulance. Ibu dan Kanaka akan mengikuti dari belakang. ", ucap Nyonya Lisa. Dengan wajah panik Narnia masuk ke dalam ambulance menemani Tuan Edy. Dia terus menggenggam tangan mantan mertua yang sudah dianggapnya sebagai ayahnya itu.
"Maafkan aku papa, aku terlalu sibuk hingga jarang mengunjungimu", ucap Narnia dengan air mata berurai di pipinya. Setelah melalui perjalanan panjang, akhirnya sampailah di sebuah rumah sakit swasta Mesdistra. Tuan Edy segera mendapat perawatan di UGD. Salah satu dokter menerangkan bahwa Tuan Edy harus segera di operasi. Narnia menyetujui operasi itu, entah apa penyakitnya Narnia tidak begitu memahaminya yang dia inginkan agar ayah mertuanya segera dapat diselamatkan
Aku harus memberi tahu Lucas . ucapnya dalam hati sembari mengambil telponnya.
"halo"
"Lucas, kau ada dimana?"
"Dalam perjalanan menuju gedung untuk pertunanganku. Ada apa?"
Deg!
"halo.. Narnia.. ada apa?"
"Ayahmu masuk rumah sakit, tadi sewaktu aku dan Kanaka berkunjung kerumahnya dia jatuh pingsan. Ini dirawat di rumah sakit Medistra. aku menyetujui pihak rumah sakit untuk melakukan operasi. Kau bisa kemari?"
"oke.. aku menuju rumah sakit sekarang"
Telepon ditutup.
"kau beritahu Lucas?" tanya Nyonya Lisa. Narnia pun mengangguk sembari kembali duduk di bangku depan ruang operasi.
"Kok mama telpon om Lucas kenapa?" tanya Kanaka. Narnia membelai kepala anaknya itu.
"Opa adalah papa Om Lucas." ucap Narnia pelan. Tampak wajah Kanaka terkejut, tapi dia tidak mengeluarkan banyak pertanyaan. setelah itu dia hanya diam dan bersandar di bahu Narnia. Hari semakin malam dan operasi masih belum selesai.
"Narnia.." sapa Lucas saat sampai di depan ruang operasi. Kanaka yang mengetahui Lucas datang segera bangkit dari kursinya dan memeluk Lucas.
"Om.. opa sakit." ucap Kanaka dengan air mata yang sudah mengalir. Lucas menenangkan dengan memeluk Kanaka.
"Bagaimana papa?" tanya Lucas.
"Masih diruang operasi. Belum keluar." ucap Narnia. Lucas lalu duduk sembari terus memeluk Kanaka dalam pangkuannya.
"Om Lucas kok udah lama nggak main sama Kanaka?" tanya Kanaka pelan.
"Maaf, sayang.. Om.. sibuk akhir akhir ini.." jawab Lucas sambil tersenyum.
"Maaf.. menganggu acara pertunangan mu.", ucap Narnia pelan. Mendengar itu Lucas hanya terdiam dan memalinkan wajahnya.
"Sudah larut, lebih baik ibu dan kanaka pulang. Biarkan aku menunggu disini dengan Lucas. " ucap Narnia pelan. Nyonya Lisa mengiyakannya dan setelah berpamitan mereka pun pulang.
"Lucas!! apa maumu?? mempermalukan mama didepan tamu undangan?? kenapa sampai sekarang. belum datang juga??". bentak Nyonya Rossy saat Lucas menelpon ponsel ibunya itu.
"Papa sakit, mom..ini sedang dioperasi di Rumah sakit Mesdistra. Aku belum tau persis apa sakitnya.. Mommy kemarilah." ucap Lucas lemas sebelum akhirnya menutup teleponnya. Narnia tampak memandangi Lucas yang duduk didepan ruang operasi. Narnia hanya berdiri dari kejauhan. Sesekali Lucas menatap Narnia dan tak beberapa lama Nyonya Rossy dan Jesicca sampai kerumah sakit.
"Lucas.. bagaimana papamu??" tanya Nyonya Rossy cemas.
"Masih di operasi. Kita tunggu saja." jawab Lucas pelan. Narnia memberanikan diri mendekat dan menyapa Nyonya Rossy.
"Selamat Malam nyonya.." sapa Narnia sambil membungkuk kan kepalanya. Melihat Narnia, wajah Nyonya Rossy berubah kesal dan kembali berteriak
"Apa yang kau lakukan disini??apa?? kau wanita sialan!! pergi!!" bentak Nyonya Rossy.
"MOMMY!!!Hentikan!!" bentak Lucas keras dan seketika Nyonya Rossy terdiam memandangi Lucas dengan penuh tanya.
"Narnia tadi yang membawa papa ke rumah sakit. Aku juga diberitahu olehnya tadi!" ucap Lucas sedikit kesal. Nyonya Rossy mencoba menenangkan dirinya dengan Jesicca di sebelahnya. Lucas juga kembali duduk didekat mereka. sedangkan Narnia, dia berdiri jauh dari keluarga Lucas. Hanya berdiri dan menunduk. Melihat Narnia dari kejauhan, Lucas segera beranjak dari tempatnya dan menghampiri Narnia.
"Narnia.. pulanglah.. Sudah ada kami disini yang menunggunya.. Sekarang kau bisa pulang. ",ucap Lucas pelan.
Narnia menggeleng.
"Narnia.. aku mohon, pulanglah. Tidak enak rasanya jika kau ada disini. Kita sudah tidak ada hubungan apa apa sekarang.." ucap Lucas.
Narnia kembali menggeleng.
"Narnia.." ucap Lucas matanya tak pernah lepas dari menatap Narnia.
"Aku tidak mau. Aku mau menemani papa disini. Dia sangat berarti bagiku. Dia yang menyelamatkan aku dan juga Kanaka. Dia merawatku seperti anak sendiri, menemani dan memberiku semangat selama aku hamil dan melahirkan..Dia sangat berarti bagiku dan Kanaka. Aku tidak akan pergi. Seberapa besar kau dan keluargamu mengusirku, aku akan tetap bertahan disini. " ucap Narnia. Air matanya mulai mengalir. Lucas segera memeluknya.
"aku takut kehilangan dia.. Aku sungguh takut.. Dia sudah seperti pengganti ayahku.. Aku tidak mau kehilangan dia." ucap Narnia sembari memeluk Lucas.
"Tidak akan ada apa apa..Kau tenang saja." ucap Lucas sembari meneteskan air matanya. Mereka berpelukan erat. Beberapa saat