
Tanpa terasa 3 bulan berlalu setelah kepergian Tuan Edy. Nyonya Rossy yang sempat tumbang dan mendapatkan perawatan intensif Ki perlahan lahan mampu menata hati dan pikirannya. Dikamar mewahnya dia terbaring malam itu saat Lucas menghampirinya dan menanyakan keadaannya.
"Aku sudah lebih baik.. Bagaimana denganmu? Kau hidup sediri di apartemen itu.. Kau harus jaga kesehatan.. " ucap Nyonya Rossy sembari membelai wajah putranya itu.
"Ternyata berpisah dengan orang yang kita cintai itu begitu berat rasanya. Seolah tak ingin hidup lagi.." ucap Nyonya Rossy yang kembali menangis
"Mom.. sudahlah.. jangan seperti ini.." ucap Lucas mencoba menenangkan Nyonya Rossy. Nyonya Rossy terus memandang kedua mata Lucas.
"Kau juga.. sakit kan.. disini..", ucap Nyonya Rossy sembari menyentuh dada Lucas.
"Apa maksudmu, mom?" tanya Lucas sembari mengernyitkan dahinya.
"Aku terlalu banyak menyakitimu disini.. Aku tidak mungkin bisa mengobati luka itu. maafkan aku, Lucas.. maafkan atas segala keegoisanku selama ini. Aku sungguh menyesal. Kepergian papamu membawa perubahan bagiku. Sekarang aku hanya akan menjalani hidupku dengan lebih baik. Kau.. juga. jalanilah hidupmu lebih baik dari sekarang dan yang paling penting berbahagialah..yaa.." ucap nyonya Rossy pelan. Lucas memandang wajah ibunya, ia sangat tahu betapa Nyonya Rossy mengalami penyesalan teramat dalam setelah kepergian Tuan Edy. Selama ini Nyonya Rossy seolah menutup hati dan dirinya dari orang orang yang mencintainya.
Setelah menemani Nyonya Rossy beristirahat, Lucas keluar dari kamar itu dan tanpa sengaja bertemu Jesica yang sedang berdiri tepat didepan Kamar Nyonya Rossy.
"Jesica.." gumam Lucas.
"Aku masih menunggu keputusanmu tentang pertunangan kita." ucap Jesica pelan. Ia mencoba menjaga intonasi suaranya dan gaya bicaranya agar tidak gentar, padahal ia tahu pasti jawaban Lucas akan seperti apa. Lucas berhenti melangkah menatap ke arah Jesica yang berada satu langkah didepannya. Jesica segera memutar badannya dan menghentikan langkahnya. Kini matanya menatap Lucas.
"Jes.. sesungguhnya cintaku tetap tidak berubah..Aku kira pertunangan kita.. lebih baik kita batalkan saja. " ucap Lucas pelan. Mendengar itu Jesica tersentak, seolah segala yang telah dibangunnya selama ini sia sia. Ia mencoba menahan air matanya sekuat tenaga.
"Kau orang yang baik, kau cantik. Aku yakin kau segera akan menemukan cinta sejatimu..", ucap Lucas pelan. Dia menatap wajah Jesica. Ia nampak marah, nampak pasrah dan tidak berkata apapun. Tampak Jesica menunduk.
"Aku pergi dulu.." ucap Lucas seraya berlalu dari hadapan Jesica. Jesica masih terdiam, menunduk, dan mengepalkan tangannya. Lalu dia berjalan dengan penuh amarah masuk kedalam kamar Nyonya Rossy.
"Jesica?? kau membuatku terkejut . " ucap Nyonya Rossy saat melihat Jesica masuk.
"Tante, Lucas barusaja membatalkan pertunangan kami. Ada apa ini?? " tanya Jesica dengan wajah kesal.
"Jesica.. aku menyerahkan semuanya pada Lucas. Aku menyadari banyak hal setelah kepergian suamiku, semua karena keegoisanku. Kau tau Lucas sejak dulu memang sangat mencintai Narnia dan karena rencana jahatku mereka berpisah. Kini aku berharap Lucas menemukan kebahagiaannya sendiri, entah bersamamu atau Narnia, biar dia yang putuskan..Begitu pula denganmu.. Aku tau kau berharap banyak pada Lucas. Tapi aku juga meyakini satu hal..Kelak kau akan menemukan cintamu sendiri dan berbahagia bersamanya." ucap Nyonya Rossy sambil tersenyum.
"Omong kosong!!Aku tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan apa yang menjadi keinginan ku!", bentak Jesica sebelum berlalu pergi.