
Bagasi mobil dibuka, anak laki laki kecil yang tergeletak tak sadarkan diri itu pun dikeluarkan dari mobil itu, kembali di ikat di atas kursi. Tangan dan kakinya diikat kencang dengan tali besar. Tangannya di ikatkan pada badan sandaran kursi dan mulut kecilnya dipelester dengan plester hitam.
"Jangan kau suntik lagi! Nanti dia bisa mati!" ujar laki laki dewasa yang menepis tangan wanita yang hendak kembali menyuntikkan cairan bening pada Lengan Kanaka. Wanita itu tertawa dengan air mata yang memenuhi wajahnya.
"Dia hanya akan pingsan selama beberapa jam..tidak akan mati! ", ucap Wanita itu.
"Jika kau melakukan ini karena wanita yang bernama Narnia itu? Lebih baik aku berhenti!" ucap Lelaki itu seraya berjalan berlalu dari hadapan wanita tadi. Segera wanita tadi menggengam tangan lelaki itu.
"Orion..tunggu.." ucap wanita itu.
"Kau tidak benar benar mencintai Narnia kan? Selama ini kau selalu membuntutinya seperti seorang penguntit. Kau tidak benar benar mencintainya, bukan?" tanya Wanita itu.
"Kau pikir aku seperti mu? mengerahkan segala cara untuk mendapatkan apa yang seharusnya bukan milikku? Kau bisa mencintai Lucas tapi yang kau lakukan sekarang hanya akan membuat Lucas menjauhimu. Aku tidak mencintai Narnia sama sekali, hanya saja rasa bersalahku pada wanita malang itu begitu besar. Kau hanya memanfaatkan semua itu dariku supaya kau tau keberadaannya, aku benar bukan?", tanya Orion.
"Dengarkan aku, Jesica.. sudah cukup sampai disini obsesimu untuk memiliki Lucas! Kau seharusnya tidak begini!Anak itu tidak bersalah! Dia tidak ada hubungannya sama sekali dengan masalah ini.. Dia hanya anak kecil! Kau tega masuk penjara hanya karena cinta dan perbuatan bodohmu ini?? ha??" lanjut Orion. Mendengar itu suntikan yang ada digenggaman Jesica terjatuh. Dia menangis sesenggukan. Melihat itu, Orion segera melingkarkan tangannya ke tubuh Jesica.
"Kembalikan anak itu kerumahnya. Kau harus mulai melihat kenyataan, membuka hatimu untuk cinta yang lain.. Lihat aku, aku bisa mencintaimu melebihi yang akan Lucas lakukan. Biarkan mereka hidup bahagia. Ok.." ucap Orion. Jesica menangis sembari memeluk tubuh Orion.
***
"Kanaka.. Kanaka.." teriak Narnia saat turun dari mobilnya. Dia berlarian berteriak memanggil nama Kanaka yang tak kunjung ia temukan disana. Narnia mulai menangis pilu di tepi danau itu. Lucas mencoba mengejarnya dan memandangi wanita itu menangis dengan sedihnya. Ia menahan air matanya sebisa mungkin, menahan semua kegetiran dan kekhawatiran yang sama, dan berjalan menuju arah Narnia bersimpuh.
"Narnia.." ucap Lucas segera melingkarkan tangannya ke tubuh Narnia.
"Bagaimana ini.. bahkan disini juga dia tidak ada.. Aku harus mencarinya kemana.." ucap Narnia sembari menangis. Lucas hanya terdiam, sesekali menepuk pundak Narnia, dan sedikit menghapus airmatanya yang menetes dengan jarinya. Tak lama kemudian, ponsel Narnia berbunyi.
"Apa?? Benarkah??Apa ibu serius??" ucap Narnia yang seketika tangisannya berhenti.
"Oohh syukurlah.. kalau begitu aku akan pulang.", ucap Narnia seraya menutup ponselnya.
"Bagaimana?" tanya Lucas dengan wajah cemas. Narnia mencoba menghapus air matanya dan mengambil nafas panjang.
"Kanaka sudah dirumah. Dia baik baik saja. " ucap Narnia. Mendengar itu Lucas menghembuskan nafas panjang dan dapat tersenyum lega.
"Syukurlah..ayoo aku antar kau pulang." ucap Lucas sembari membantu Narnia berdiri.
"Maaf.. aku merepotkanmu." ucap Narnia saat dalam perjalanannya menuju rumah Nyonya Lisa.
"Aku yang suka kau repotkan Jadi jangan sungkan." ucap Lucas sambil tersenyum.
"Nyonya Rossy.. ohh tidak maksudku mamamu.." Narnia menghentikan kata katanya saat melihat Lucas memandang ke arahnya.
"Dia memberikan restunya sendiri pada kita jika kau ingin memutuskan kembali padaku. Tapi aku tidak akan memaksamu. Mommyku memang sudah berubah setelah kepergian papa. Yaah untung saja berubah menjadi lebih positif. Aku jadi tidak pusing lagi jika akan rujuk denganmu."ucap Lucas sambil tersenyum. Narnia memperhatikan Lucas dan kembali tersenyum.
"Kanaka.. Kanaka bikin Mama khawatir.. Kanaka dari mana?", tanya Narnia saat memeluk tubuh mungilnya.
"Kanaka..tadi dije--- Om Lucas!", teriak Kanaka girang saat melihat Lucas masuk ke dalam rumah Nyonya Lisa. Kanaka melepaskan pelukannya dari Narnia dan berlari ke arah Lucas. Anak laki laki itu memeluk Lucas dengan eratnya.
"Katakan sama Om..Kanaka dari mana? Mama dan Om khawatir cari cari Kanaka. Kenapa baru pulang sekarang.." tanya Lucas sembari menurunkan Kanaka dari gendongannya.
"Kanaka tadi dijemput sama Tante Jesica terus Kanaka tidur dijalan. Kanaka lupa, tau tau Tante Jesica sama Om Orion bangunin Kanaka untuk makan dan beliin Kanaka itu..", ucap Kanaka sembari menunjukkan sebuah wadah besar berisi makanan. Lucas terdiam, mengernyitkan dahinya dan memandang ke arah Narnia.
"Ayo kita makan sama sama, Om..", ucap Kanaka seraya menarik tangan Lucas.
"Ehmm.. Kanaka.. Om Lucas ada acara sekarang.. Om permisi dulu ya. Besok om Lucas datang lagi.. kita bisa main sama sama.. Oke..", ucap Lucas pelan. Dengan rasa kecewa Kanaka melepaskan genggaman tangannya perlahan dan menunduk.
"Kanaka jangan sedih.. Om Lucas besok kesini lagi untuk main sama Kanaka.. yaa..", ucap Narnia pelan. Kanaka tampak mengangguk.
"Sekarang Kanaka ganti baju dulu yaa..Mama antar Om Lucas kedepan."ucap Narnia. Setelah berpamitan, akhirnya Lucas berjalan ke depan dan Narnia mengantarnya.
"Menurutmu untuk apa Jesica mengajak Kanaka pergi?" tanya Lucas heran, pikiran itu selalu mengganggunya sejak tadi.
"E-entahlah.." jawab Narnia pelan. Dadanya berdegup kencang sedaritadi sebenarnya mengetahui Jesica dan Orion yang telah membawa putranya pergi. Lucas memandang ke arah Narnia yang tampak diam dan tangannya terlihat gemetar.
"Kau kenapa?" tanya Lucas pelan sembari menyentuh pundak Narnia.
"Ah..A-aku ti-ti-dak a-pa.. a-pa.." jawab Narnia terbata bata. Dia mencoba menenangkan dirinya yang daritadi tampak gelisah dan gemetar agar tidak nampak saat Lucas memandangnya. Lucas kemudian memeluk Narnia.
"Apa selama ini Jesica dan Orion yang mengancammu untuk menjauhiku?", tanya Lucas dalam pelukannya. Narnia terdiam tapi air matanya mengalir.
"Narnia.." ucap Lucas seraya menjauhkan Narnia dan memandang wajah sedihnya yang terus menunduk.
"Apa aku benar? Mereka yang selama ini mengancammu?" tanya Lucas sekali lagi. Pertanyaan yang diajukan tepat dihadapan Narnia itu memaksa Narnia untuk mengangguk dan kembali menangis.
Deg!
Lucas kembali memeluk Narnia dengan tatapan penuh tanya. Ia terus mengernyitkan dahinya. Emosinya mulai tak terkendali.
"Kau jangan khawatir.. aku tidak akan membiarkan seseorang menyakitimu dan Kanaka. Oke.. kau tenanglah.. yaa.. Sekarang kau hapuslah air matamu, temani Kanaka. Jesica Dan Orion biar aku yang urus.", ucap Lucas sembari menghapus air mata Narnia.
"Tapi..",
"Kau tenang saja..mereka tidak akan mampu menyakitiku." Jawab Lucas sembari masuk kedalam mobilnya yang tak lama berlalu dari hadapan Narnia.