
Wery tertegun memandangi pria yang tengah duduk ala bigboss di kursi mewah, taknkalah mewah nya penampilan pira itu.
di bagian depan tertulis nama pria itu serta jabatan nya di perusahaan ini. Wery melangkah pelan.
hening. hanya suara ketukan heels nya membentur lantai terdengar mengalun membentuk irama,
musik hip hop? :)
Wery membungkuk kan badan nya pada Kim Namjoon Sajangnim nya, dan..
ah, ada seorang wanita cantik pula di ruangan ini,
'mungkin ini kekasih nya' batin Wery.
"nama" Namjoon berujar datar sambil jemari nya masih menari di atas keyboard komputer.
"nee?" Wery kebingungan, bukan kah ia sudah memakai kartu nama, mengapa ia masih harus mengenal kan nama nya.
"ah. maaf Nona, di sini setiap kali anda menghadap Sajangnim anda harus mengenal kan diri anda, nama anda dan anda di bagian mana" jelas wanita cantik tersebut.
"ah, begitu rupa nya. Saya Park Wery bagian Hubungan Internasional" Wery kembali membungkuk di hadapan Namjoon.
Namjoon mendongak, ia menyipit kan mata nya, dan menggeleng pelan membuat Wery semakin melongo.
'aku tidak bisa melihat wajah nya dengan jelas, tapi jika di lihat cukup sopan' batin Namjoon
"jadi, kau adalah karyawan baru itu?" tanya Namjoon datar.
"nee sajangnim, ini adalah hari pertama saya berkerja" Senyum simpul terulas di bibir gadis itu.
Namjoon mengangguk angguk paham.
"apa Jaehyun sudah memberitahu tugas mu?" jemari jemari Namjoon kini beralih ke laptop dan mengutak atik di sana.
"aa..kurasa saya belum mengetahui nya Sajangnim" lirikan mata Wery tertuju pada wanita cantik yang sedang menatap gerak gerik Namjoon dengan tatapan berbinar.
'apa sebegitu cinta nya pada sajangnim hingga mata nya berbunga bunga?' batin Wery.
"baik. aku akan menjelas kan tugas mu secara garis besar, selebih nya dia..."Namjoon menunjuk wanita yang sedari tadi duduk manis di sofa, sontak mata Wery mengikuti arah telunjuk Namjoon. "akan membimbing dan menjelas kan secara rinci pada mu beberapa hari "
"nee Sajangnim" Wery mengangguk angguk paham.
"kita akan sering bersama nanti" ucapan ambigu dari Namjoon membuat Wery mengerut kan dahi nya.
"nee...?" Wery mengerjap kan mata lamban.
"saya sudah mengata kan secara garis besar jangan banyak tanya" sarkas Namjoon membuat Wery mengigit kulit bibir bagian dalam.
"nee sajangnim"
"kalian berdua silah kan keluar, Nona Jung jelas kan baik baik pada karyawan baru ini apa saja tugas dan tata cara jika menghadap ke ruangan ku" Namjoon bicara sangat datar, saking datar nya mungkin meruntuh kan puncak gunung tertinggi di korea.
Wery hanya berkata sopan namun tidak ada unsur lembut lembut nya sama sekali.
sedang kan Whein banyak plus nya, sopan, lembut, dan lihat lah sekarang, ia membungkuk dengan anggun nya, walau pun ia adalah bawahan, namun kesan anggun melekat pada diri nya, membuat Wery merasa sedikit canggung.
beda sekali wanita yang sudah sangat berpengalaman dalam dunia kerja dengan wanita yang baru saja memasuki nya, Wery mesti banyak belajar dari wanita ini.
**************
"berapa lama kau berkerja di sini?" rasa penasaran diri Wery tak dapat ia tahan, ia bertanya saat ia dan Whein sudah masuk ke dalam lift.
"3 tahun, setahun setelah perusahaan ini di bentuk" sahut Whein.
Wery mangut mangut, pantas saja, rupa nya jiwa nya sudah memang sedikit menyatu dengan dunia kerja.
"berarti, perusahaan ini baru berdiri 4 tahun?" tanya Wery,
"nee, tapi sudah sangat terkenal bukan, itu karena mereka berkerja sangat keras dan tak patah semangat" jelas Whein, ia menyungging kan senyum simpul.
"mereka?" gumam Wery tapi masih terdengar oleh Whein.
"nee, Namjoon Sajangnim, Jaehyun daepyonim, Taehyung Daepyonim, mereka bertiga adalah pendiri perusahaan ini" jelas Whein.
"omo, ada tiga, aku kira perusahaan ini adalah warisan keluarga Kim" Wery terkekeh menyadari kekeliruan nya.
"ani, Namjoon daepyonim berusaha sendiri bersama sahabat dan sepupu nya tanpa bantuan orang tua nya, rumah tangga keluarga nya berantakan, ayah dan ibu nya sudah sama sama memiliki keluarga baru dan jarang memperhati kan diri nya" jelas Whein panjang lebar
" brokenhome?" tanya Wery ragu.
"nee" sahut Whein,
"ternyata brokenhome masih sering terjadi ya, dampak dari brokenhome sangat fatal, bisa berakibat buruk namun ada juga yang membentuk pribadi seorang anak menjadi orang yang pekerja keras dan mandiri, ya seperti Sajangnim sekarang" lanjut Whein.
"ya kau benar, beruntung orang tua ku baik baik saja hingga sekarang, walau pun sering bertengkar kecil" ujar Wery, ia mengingat saat orang tua nya bertengkar, tapi tetap saja ibu nya yang mendominasi, jika di ibarat kan sebuah pertandingan, ibu nya adalah pemenang nya.
"pertengkaran dalam rumah tangga adalah sebuah hal biasa, itu merupakan bumbu yang manis, tanpa konflik maka rumah tangga tersebut belum bisa di kata kan bahtera yang berhasil, ia akan sempurna bila pasangan tersebut bisa menyikapi dan menyesuai kan agar bahtera itu tidak tenggelam dan akhir nya membunuh perlahan lahan." Whein menjelas kan dengan senyuman tak luntur dari wajah nya.
Wery tercengang, benar benar wanita idaman. sudah cantik, sopan, anggun, lemah lembut di tambah pemikiran yang dewasa, laki laki mana yang akan menolak? sedang ia, sangat jauh dari tipe tipe begitu.
"dan yang di alami oleh keluarga Sajangnim, orang tua nya tak bisa menyeimbangi bahtera mereka hingga tenggelam di ego mereka sendiri, beruntung Sajangnim tidak salah pergaulan dan menjadi orang yang mandiri dan pekerja keras" Whein tersipu. dapat Wery tebak dari nada bicara nya, Whein sangat memuja pemuda Kim tersebut.
"hm, jadi apa kau kekasih Sajangnim?" pertanyaan Wery membuat Whein sedikit terhenyak, namun dalam sekejap ia kembali tersenyum.
"kami pernah dekat, namun sesegera mungkin sebutan itu akan untuk ku" Whein terkekeh pelan, Wery tersenyum canggung, ia kurang paham maksud perkataan Whein.
"ya, semoga saja, pantas kau banyak mengetahui banyak tentang latar belakang kehidupan Sajangnim" ujar Wery.
"nee, seperti nya aku banyak bicara ya, aku jadi lupa mengenal kan diri, aku Jung Whein, kau bisa memanggil ku Whein" Whein mengulur kan tangan nya,
"nee, aku Park Wery, panggil saja Wery. senang berkenalan dengan mu" Wery menyambut uluran tangan Whein.