
Namjoon, Wery dan beberapa orang yang bersama mereka berdua tiba di Daegu.
Namjoon menyewa sebuah villa yang cukup mewah, ia sangat anti jika harus bermalam di hotel, sedang kan dua orang pria yang bersama ia dan Wery sudah kembali ke Seoul.
Namjoon masuk ke dalam villa tersebut, meninggal kan Wery yang masih berdiri di depan pintu.
"kenapa anda masih di situ? berniat kembali ke Seoul?" tanya Namjoon ketus
"ani, bagaimana jika saya menginap di Hotel saja Sajangnim?" Wery balik bertanya.
tidak mungkin ia tidur satu atap dengan atasan nya yang sombong sejagad raya ini.
Nanjoon mengangkat kedua alis nya.
"baik lah, " ucapan Namjoon membuat Wery hampir memekik senang, baru saja ia membalik kan badan dengan senyum sejuta warna...
"bayar sendiri" Perkataan Namjoon membuat senyum nya luntur, bagai kan pakaian tersiram deterjen dalam jumlah banyak.
seperti perumpamaan; tadi Namjoon sudah menerbang kan hati nya hingga langit ke 5, membuat ia menari nari sambil mengepak ngepak kan sayap nya yang terlalu besar, membuat ia merasa di taburi bunga tujuh warna, lalu tiba tiba satu kalimat membuat sayap nya terlepas, dan ia terombang ambing meluncur cepat ke bawah bahkan sebelum ia melihat bentuk langit ke 7 itu seperti apa. boro boro langit ke 7, langit ke 6 saja belum sempat, beruntung ia masih tersangkut di dahan pohon kecil, yang siap retak kapan saja.
Wery membalik kan badan nya menghadap ke arah Namjoon, dan menampil kan senyum paling manis nya.
"eng,...Sajangnim, anda tahu saya sedang... sedang tidak punya uang, jadi beri lah sedikit kira nya uang dari isi dompet anda yang tebal itu..." Wery mengetuk ngetuk kan kedua jari telunjuk nya di depan dada nya, dan puppy eyes andalan nya,
"apa anda baru saja mengajak saya bernegosiasi?" ucapan sarkas Namjoon membuat Wery terhenyak,
dahan pohon yang retak tadi kini patah dan membuat ia jatuh bedebum ke tanah.
"ah, heheh, bukan begitu Sajangnim, maksud saya, apa salah nya anda membantu karyawan anda yang malang ini" Wery mengerjap ngerjap kan mata nya.
"anda membuat saya jijik," lagi lagi, Wery yang sudah jatuh harus merasakan punggung nya terinjak.
"Sajangnim..."
"apapun alasan anda, saya tidak mau mendengar kan, saya tidak suka penginapan bernama Hotel itu, dan tidak akan mengeluar kan sepeser uang saya ke sana, anda paham? jika anda tidak suka silah kan," Namjoon berucap dingin dan berlalu meninggal kan Wery yang masih dengan tatapan konyol nya.
BUM
sudah jatuh ke tanah sekarang ia salah pijakan hingga terperosok ke dasar jurang dan meninggal secara menggenas kan,
miris sekali.
***************
Hyunia mengering kan rambut nya dengan hairdryer, ia mengambil ponsel nya di nakas dan melakukan panggilan video pada seseorang, ia meletak kan ponsel nya bersandar pada salah satu benda di atas meja rias tersebut.
setelah menunggu tak terlalu lama, panggilan tersebut menghubung kan dengan orang yang di tuju nya.
" kau pasti merindu kan ku Chagi" tebak orang tersebut.
"begitu kah? kalau begitu aku mati kan" Tarhyung mendekat kan jemari nya ke atas layar ponselnya.
"nee, nee, aku merindu kan mu, jangan di mati kan" Hyunia menatap ke layar ponsel nya dengan tatapan memelas.
"hahaha, kau sangat lucu,kenapa harus berbohong tadi?" tanya Taehyung
Hyunia mengecil kan suara pengering rambut nya.
"karena tebakan mu selalu benar" Hyunia menggerak gerak kan pengering rambut tersebut.
"begitu kah, kalau begitu aku akan menebak sesuatu dari mu" ujar Taehyung
"oh ya, apa itu?" Hyunia menoleh ke layar ponsel nya.
oh? ia baru menyadari Taehyung sedang berbaring.
"kau pasti baru saja selesai mandi" tebak Taehyung.
"yak, tentu saja kau benar, lihat, aku masih mengering kan rambut basah ku" Hyunia memperlihat kan pengering rambut nya.
"hahah, siapa tahu juga, kau mengering kan rambut mu yang sudah kering" Taehyung tertawa dengan bibir kotak khas nya itu.
"yak, memang nya ada orang sedungu itu? sudah kering malah di kering kan lagi, bisa bisa membuat rambut seperti ramen mentah" Ujar hyunia, ia terkekeh di akhir kalimat nya.
"aku pernah chagi, waktu itu aku lupa bahwa rambut ku sudah kering" ucap Taehyung.
tawa Hyunia pecah saat Taehyung mengata kan kekonyolan nya
"hahah, konyol sekali. lalu bagaimana keadaan rambut mu setelah itu?" Hyunia memati kan pengering rambut nya dan meletak kan nya di atas meja.
"tidak ada, hanya seperti benang kaku, tidak sampai seperti ramen mentah" ujar Taehyung lagi.
"oh ya, ku kira seperti ramen mentah, " Hyunia mengulum senyum nya menahan tawa nya.
"ya tidak lah. Chagiya, aku masih punya satu tebakan untuk mu" perkataan Taehyung membuat Hyunia memfokus kan manik nya ke layar ponsel nya, ia hanya mengangguk menunggu kalimat Taehyung selanjut nya.
"aku yakin kau sedang memikir kan sesuatu selain aku dan pekerjaan mu" ucap Taehyung.
"aku? aku tidak memikir kan apapun selain hal itu, ku rasa tebakan mu salah kali ini tuan Kim" sahut Hyunia,
"benar kah? aku kira kau akan memikir kan anak anak kita kelak" ucapan Taehyung membuat Hyunia mengerjap cepat.
"nee? ulangi lagi" ujar Hyunia. ia ingin memasti kan pendengaran nya tidak salah.
"ani, aku tidak akan mengulangi nya lagi, karena tebakan ku salah" sahut Taehyung.
"yak, Taehyung-ssi, ulangi lagi" Hyunia berucap kesal, dan Taehyung hanya menanggapi nya dengan kekehan.