What's Wrong With My CEO?

What's Wrong With My CEO?
bag 10


Choi Hanah mendengus kesal menatap ke samping jendela mobil yang ia tumpangi.


ia kesal dengan Jaehyun, tadi siang ia mengajak Jaehyun menonton film kesukaan nya, namun Jaehyun bilang ia harus mengurus berkas yang akan ia presentasi kan dengan klien mereka lusa, padahal mereka sudah sangat jarang menghabis kan waktu berdua.


mereka memang sering bertemu dan makan siang bersama di kantor, namun itu terasa berbeda suasana nya jika di banding kan dengan quality time mereka.


Jaehyun meraih jemari Hanah, mengecup nya dalam, dan mengenggam jemari tersebut.


"mianhae, kau tahu bukan aku harus berkerja keras, klien kita kali ini adalah orang yang cukup besar pengaruh nya di Seoul, ku mohon mengerti lah" Jaehyun tak tahu sudah berapa kali ia mengata kan kalimat tersebut seharian ini, seakan tak ada kata bosan jika menjelas kan nya pada Hanah.


Hanah tetap diam.


"jika ingin menghabis kan waktu bersama tidak perlu dengan acara menonton film di bioskop, bukan kah kita selalu bersama."


senyap, tak ada tanggapan.


"kita harus punya cara sendiri yang tidak harus sama dengan pasangan lain jika memang ingin memiliki quality time kita. maaf jika aku jauh dari kata yang di sebut pria romantis yang mengajak gadis mereka pergi menonton film, makan di restoran yang banyak bunga dan penuh kejutan, atau mengajak mu jalan jalan ke pantai, karena aku punya cara sendiri mencintai mu dan tak perlu menilai cara orang lain memperlakukan gadis mereka." Jaehyun menjelas kan panjang lebar, tanpa ia sadari Hanah menitik kan air mata nya,


Hanah merasa diri nya sangat egois, menuntut Jaehyun agar mencintai nya dengan cara yang ia ingin kan, namun pria itu sudah memiliki cara nya sendiri. bukti nya, walau pun mereka jarang sekali menonton, makan di restoran mewah, jalan jalan di pasar malam, namun Hanah tak pernah sekali pun merasa bahwa waktu mereka terbuang sia sia,seolah olah Jaehyun benar benar menghargai kebersamaan mereka.


Hanah merasa sangat beruntung dan selalu bersyukur bila bersama Jaehyun, semua waktu yang mereka lalui merupa kan anugerah terindah nya, mendengar setiap rentetan kalimat dan nasihat dari bibir Jaehyun.


Jaehyun selalu bisa membuat ia merasa bahwa semua nya tak harus selalu tergantung pada sesuatu yang sudah orang lain lakukan, mereka punya hidup sendiri dan punya cara sendiri, sama persis seperti cara Jaehyun mencintai nya, Hanah selalu mensyukuri dan tak pernah berhenti bersyukur atas kehadiran Jaehyun.


"aku minta maaf" Hanah membalas genggaman Jaehyun, membuat empu nya tersenyum hingga dimple yang selalu menjadi salah satu destinasi hati nya muncul.


"kenapa? kau tidak salah" ujar Jaehyun, sesekali menoleh ke ke wajah Hanah di sela sela menyetir nya.


"aku senang kau menyadari nya, tapi selama ini aku juga belajar juga dari sikap ego mu, aku harus lebih sabar dan harus punya cara menghadapi ketika ego mu itu mengalah kan logika mu, aku akan membimbing mu perlahan, bagaimana cara membeda kan di mana seharus nya kita meluap kan ego kita dan di mana seharus nya logika berperan."


Hanah terdiam mendengar penuturan Jaehyun, tak salah ia melabuh kan hati nya di pada Jaehyun.


"jika ego mu kembali menguasai akal sehat mu, maka aku akan mengguna kan logika ku menghadapi mu, dengan begitu hubungan kita akan baik baik saja"


"aku merasa bersyukur sekali di pertemu kan dan di ijin kan menjadi orang yang kau sayangi, seberapa banyak pun aku mengucap kata syukur itu belum cukup" Hanah tersenyum manis.


Jaehyun mengelus pelan kulit tangan Hanah.


"tapi, mungkin saja aku juga terlalu egois bukan?" ucapan tiba tiba Jaehyun membuat Hanah mengerut kan kening nya.


"aku juga terlalu memaksa mu agar mengikuti cara ku mencintai mu yang terlalu monoton, " ujar Jaehyun, mata nya masih fokus pada jalanan kota seoul.


"aku tak mengerti" Hanah tak paham kemana arah pembicaraan Jaehyun.


"aku juga akan berusaha memahami seperti apa cara yang ingin kau tuju kan pada ku atau bagaimana cara mencintai sesuai keinginan mu, dengan begitu kita bisa saling memahami dan menyesuai kan satu sama lain" ucap Jaehyun, ia menoleh sejenak ke arah Hanah, memperhati kan mimik wajah gadis itu.


"ku rasa itu ide bagus" senyum cerah terukir di wajah Hanah.


"hm, jadi bagaimana jika kita berjalan jalan akhir minggu ini, aku tiba tiba saja ingin makan es krim" Jaehyun mengulum senyum nya.


"tentu saja, " Hanah tertawa mendengar penuturan Jaehyun, terlebih mimik wajah pemuda itu setelah nya.