
setelah pulang dari makam Min Sun, Namjoon tampak diam, Wery hanya menatap nya maklum.
ia tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang sangat kita sayangi.
"eng, Sajangnim, ku dengar dengar Daepyonim dan Hanah akan melangsungkan pernikahan minggu depan, mereka hebat sekali ya, kenapa Hanah tak memberitahu ku"lirih Wery, ia memandang keluar jendela.
"Wery-ssi, " Wery menoleh mendengar nama nya di panggil.
"apa alasan mu menyukai ku?" pertanyaan Namjoon membuat Wery tersenyum.
"ah ya, dulu Min Sun eonnie pernah bercerita jika warna kesukaan mu itu warna perak.
kenapa kau menyukai warna perak?" tanya Wery, ia mengalihkan pandangannya pada Namjoon,
"entah lah itu sulit di jelaskan, intinya aku menyukai warna perak karena itu adalah warna perak" sahut Namjoon, lagi lagi Wery tersenyum
"sama seperti mu yang menyukai warna perak karena itu adalah warna perak. dan aku menyukai mu karena kau adalah Kim Namjoon. aku tidak membutuh kan alasan yang panjang agar menyukai mu, itu datang secara tiba tiba." ujar Wery, Wery menikmati udara segar yang masuk melalui jendela yang sengaja ia buka.
"jika orang lain perlu alasan tepat untuk jatuh cinta, maka aku kebalikan nya. aku tidak memerlu kan itu semua, alasan rumit yang hanya terdapat omong kosong yang akhirnya akan menyakiti diri sendiri."
Wery menoleh dan tersenyum manis ke arah Namjoon,
"dulu aku heran mengapa Whein-ssi begitu mengaggumi mu, aku bahkan risih melihat nya. tapi benar kata orang, kita tidak akan tahu bagaimana rasa garam jika kita tak mencampurnya ke dalam masakan. sama seperti ku, aku kini tahu bagaimana rasanya mengaggumi seseorang itu seperti apa."
Namjoon hanya diam dan mendengarkan penuturan Wery, jauh di relung nya ia merasa senang mendengar ucapan gadis ini.
"itu ibaratkan sebuah lukisan yang tidak akan pernah ada penghapusnya, jika pun ada bisakah sebersih kanvas sebelum di warnai? penghapusnya hanya akan menyamar kan sedikit, setelah itu si pelukis akan menimpa nya dengan warna baru"
"sama seperti bila kita mengaggumi dan jatuh cinta pada seseorang. orang baru hanya akan memberi warna baru dan mencoba menghapus orang lama dihati kita. itu mutlak dan kita tak bisa memungkirinya."
"kau dan Whein-ssi. wanita itu tidak bisa menghapus rasa cinta mu pada Min Sun eonnie, namun ia bisa menyamarkan nya dengan memberi kebahagiaan baru untuk mu" Wery tersenyum dan menghela nafas berat, entah mengapa setiap kali ia membahas tentang Whein, dada nya begitu sesak. padahal ia sudah berusaha mengikhlaskan mereka berdua.
apa benar ia sudah ikhlas dan rela jika Namjoon bersama Whein? ia kurang paham makna keduanya.
hening.
mereka berdua tenggelam dalam pikiran masing masing.
"Wery-ssi, dulu kau bilang tak mengenal ku, lalu bagaimana kau bisa tahu jika aku adalah Kim Namjoon? masa lalu Min Sun?" tanya Namjoon, ia menoleh sebentar dan kembali fokus ada jalan di depannya.
"sejak aku mendengar nama mu adalah Kim Namjoon, aku kira itu sebuah kebetulan, karena bisa saja seseorang itu sama namanya.
tapi semakin ke sini, aku semakin yakin kalau kau adalah Namjoon yang Min Sun eonnie sering cerita kan. tapi, Namjoon yang ia maksud tidak mengidap penyakit seperti mu, dan itu meragukan ku."
"setelah aku cari tahu, aku yakin sekali kau adalah Kim Namjoon itu, dan aku tak berani mengatakan kebenarannya. takut jika kau membenci ku dan menambah parah penyakit mu, karena yang ku tahu penyakit mu di sebab kan depresi dan merusak salah satu saraf di otak mu" sahut Wery,
" kau mencari tahu dimana sehingga bisa sedetail itu?" tanya Namjoon,
"ah, maaf. aku mengunjungi dokter yang merawat mu" lirih Wery,
"Jin hyung? kau kesana hanya untuk memastikan ini?" tanya Namjoon tak percaya,
"nee, " Wery mengangguk pelan.
Lalu, apakah itu sebabnya Jin hyung melarang ku mencari keberadaan Min Sun karena akan tahu sia sia? batin Namjoon,
**************
hari ini Jaehyun dan Hanah akan melangsungkan pernikahan mereka, pernikaan sudah direncana kan dari sebulan yang lalu, namun di sembunyikan dan mengejutkan semua orang.
pasalnya, mereka berdua tak seperti orang yang akan menikah, seperti yang tak ada persiapan sama sekali, bahkan Wery tak menyangka sahabatnya akan mengakhiri masa lajang nya 2 jam lagi.
Wery memainkan rambut Misya, mereka berdua melihat Hanah yang sedang di rias di kamar.
"Misya, kau kapan menikah?" tanya Wery,
"entahlah, tunggu Mingyu lah eonnie, memangnya aku bisa nikah sendiri begitu" tukas Misya,
"kya, maksud ku ajak Mingyu juga, " balas Wery,
"eonnie kapan nikah?" Misya menoleh ke belakang memperhatikan Wery,
"memangnya aku bisa nikah sendiri tanpa mempelai pria?" sahut Wery membuat Misya terkekeh.
srieet
pintu dibuka seseorang, semua yang di kamar tersebut menoleh ke arah pintu,
Kim Hyunia dan Jung Whein.
"eonnie, ku kira kau tak datang ke Korea" ujar Wery, ia segera beranjak memeluk Hyunia.
"bagaimana mungkin aku tak datang, Jaehyun itu sudah ku anggap kakak ku sama seperti Namjoon," Hyunia membalas pelukan Wery.
Wery mengintip presensi Whein dari balik tubuh Hyunia sejenak kemudian ia menarik tangan Misya mendekat.
"eonnie, dia adalah Kim Misya, istri dari mingyu Daepyonim, direktur perusahaan Namjoon di China" Wery mengenalkan misya pada Hyunia,
"Kim Misya imnida, senang bertemu dengan mu eonnie" Misya membungkukkan badannya.
"nee, aku juga, Kim Hyunia imnida" Hyunia juga balas membungkuk kan badannya.
"dan, eonnie tahu bukan siapa yang sedang dirias itu siapa tanpa perlu aku mengenalkannya" ujar Wery,
"nee, eonnie mau menyapa calon kakak ipar dulu" Hyunia berjalan pelan ke arah Hanah.
"hai, chukae" Hyunia menjabat tangan Hanah yang bebas,
"oh, nee, " balas Hanah,
"aku Hyunia, kekasih Taehyung, kau tahu kan" Hyunia mengenalkan diri dengan ramah,
"nee, Taehyung-ssi seumuran dengan ku, senang bertemu dengan mu" sahut Hanah,
"ya, aku juga. biar aku membantu merias nya juga ya" ujar Hyunia pada MUA yang sedang merias Hanah.
"nee, silah kan" sahut MUA tersebut membuat Hyunia tersenyum senang.
-
-
-
-
-
-
satu jam berlalu, Hyunia masih sibuk membantu merias Hanah, dan sesekali terdengar gurauan mereka berdua.
Wery dan best friend nya, Kim Misya tetap duduk di salah satu kursi tak jauh dari mereka.
di depan mereka berdua, Whein duduk dengan manis tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, gadis cantik tersebut hanya tersenyum sedari tadi.
"eonnie, apa ia tidak cape senyum begitu terus dari tadi?" bisik Misya,
"ia sudah berlatih sejak kemarin, tenang saja" sahut Wery berbisik juga.
"memangnya kalau senyum juga perlu latihan juga?" tanya Misya, matanya sibuk mengamati Whein,
"tentu saja, orang yang menikah seperti Hanah sekarang juga harus berlatih karena akan tersenyum pada tamu sepanjang hari" jawab Wery,
"tahu darimana?" Misya memalingkan wajah kearah Wery.
"hanya menebak" Wery membalas menatap ke arah Misya,
"kya, Eonnie sudah kubilang tebakan mu tak pernah benar" pekik Misya membuat seisi ruangan terkejut dan menoleh ke arah mereka berdua.
"tadi kami menebak kira kira berapa anak Hanah dan Jaehyun, ya kan Misya?" tanya Wery pada Misya,
Misya hanya menepuk keningnya, eonnienya ini memang sedikit tergeser otaknya.