What's Wrong With My CEO?

What's Wrong With My CEO?
bag 38


flashback


Namjoon membuka pintu rumahnya dan melihat keadaan rumah yang begitu kacau, banyak pecahan kaca di lantai, bau alkohol yang menyengat dan meja kursi yang menggenaskan.


Dengan langkah pelan Namjoon menuju ke salah satu kursi dan memperbaiki letak nya.


ia menduduk kam diri di atas kursi tersebut,


ada apa ini? kenapa rumah sangat kacau begini? Namjoon bertanya tanya dalam hati, namun ia lebih memilih diam.


"kau sudah tidak dapat dipercaya Kim Hoon, lebih baik aku pergi saja" suara seorang wanita membuyarkan Namjoon, ia menoleh cepat kepada si empu


ibunya.


wanita itu menyeret koper dengan susah payah keluar dari dalam kamar. ibunya mematung sejenak melihat presensi Namjoon.


"Joon-ah, ibu akan pergi, jaga dirimu baik baik, belajar yang benar jangan seperti Appa mu" Ibunya mendekati Namjoon dan memeluk nya lamat dan berlalu dari hadapan nya, kini antensi nya beralih kearah pria yang sedikit kusut, rambut berantakan dan baju yang tak terbentuk.


"Appa, ada apa sebenarnya? kenapa eomma pergi?" tanya Namjoon,


"emma mu selingkuh dari appa. appa menemukan eomma mu sedang menginap di Hotel tadi malam bersama seorang lelaki, dan kau tahu apa yang akan terjadi selanjutnya Joon-ah. kami bercerai" perkataan Ayahnya membuat seluruh sendi sendi di tubuhnya meluruh seketika, ia menggeleng lemah.


"kenapa kalian melakukan ini padaku? kalian egois dan tak memikir kan perasaan ku? kenapa kalian begitu tega padaku? mengapa? apa aku selama ini membangkang pada kalian? ada apa ? mengapa? ha? MENGAPA?!..."


PLAK


tamparan mendarat mulus di pipi kanan Namjoon, Namjoon memegang bekas tamparan ayahnya,


"aku tahu mengapa eomma meningalkan mu. kau adalah pria keras dan egois," Namjoon keluar dari dalam rumah, saat berada di depan pagar rumahnya, Namjoon melihat Ibunya memeluk seorang pria kaya dengan mesra nya, Ibunya menyadari keberadaan Namjoon hanya menoleh sekilas dan pergi masuk ke dalam mobil seolah tak mengenal dirinya.


Namjoon benar benar tak menyangka orang tua nya seperti ini, padahal hari ini adalah hari kelulusan nya, ia ingin memberitahu orang tuanya bahwa ia akan melanjutkan ke perguruan tinggi.


Ibunya bersenang senang dengan pria lain dan ayah nya adalah pria yang keras dan pemabuk berat, apa Namjoon salah punya orang tua begitu?


Namjoon butuh seseorang sekarang, ia berlari menuju panti, ia butuh Min Sun, hanya Min Sun yang ia punya sekarang.


dengan nafas terengah engah Namjoon mengetuk pintu depan Panti.


"Hongyi ahjumma, Min Sun. Dimana Min Sun?" Tanya Namjoon, ia masih berusaha mengatur nafas nya.


bukannya menjawab, Hongyi malah memberi tatapan iba pada Namjoon membuat Namjoon semakin tersulut.


"Dimana Min Sun?" desak Namjoon, perasaan nya mulai terasa tidak enak.


"Hongyi ahjumma!!" bentak Namjoon, ia sudah kehabisan kesabaran, mengapa semua orang menyulitkan nya.


"dia sudah pergi Namjoon-ah, dia tidak di sini" kalimat Hongyi seakan membuat bumi runtuh dihadapan Namjoon, ia merasa tersedot ke dalam dasar lautan terdalam, hingga tak bisa menemukan oksigen barang sehirup saja. Namjoon memundurkan tubuhnya perlahan dan menggeleng lemah.


"andwe,andwe...kau berbohong, katakan padaku semuanya hanya lelucon mu, Min Sun ku tak akan meninggalkan ku" lirih Namjoon, Hongyi menggeleng pelan,


"ia sendiri yang ingin pergi Namjoon, tidak ada yang memaksa nya untuk pergi" sahut Hongyi, ia menepuk pundak Namjoon pelan.


"ia berharap kau baik baik saja Namjoon-ssi, dan jangan terlalu memikir kan nya, ia tidak akan suka" setelah mengatakan hal itu Hongyi menutup kembali pintu dan meninggalkan Namjoon dengan segala kehancuran pada dirinya.


Namjoon berjalan lunglai menuju pondok yang biasa ia dan Min Sun tempati kala mereka pulang sekolah.


Dan tempat ini lah bukti sunyi Min Sun mengatakan bahwa ia tidak akan meninggalkan nya dan bersama hingga akhir tua, merencanakan masa depan yang indah. Tapi apa sekarang? Min Sun malah meninggalkan ia dengan semua yang Min Sun janjikan, membuat ia merasa seakan dunia milik mereka berdua kemudian gadis itu merobek robek lukisan masa depan mereka dan membakarnya yang menguap bersama dengan kepergian nya hari ini.


angin laut menerbangkan helai helai rambutnya mencoba memberikan kenyamanan pada hati rapuh pemuda itu, mencoba memanipulasi realita dan membiarkan pemuda tersebut berselancar pada imajinasi indah nya, membayangkan kehidupan penuh kebahagiaan yang belum pernah manusia rasakan, membuat garis garis lurus menuju kedamaian, menyusuri jalan penuh bunga bersama wanita yang dicintai nya. berharap wanita nya memberi tahu nya bahwa dunia dapat ia dapatkan jika kebahagiaan menyertai hidupnya.


Namun, itu hanyalah buaian angin semata, imajinasi nya semata. buktinya hidupnya jauh dari yang ia bayangkan, ternyata realita memang tak akan pernah seindah ekspetasi, keluarga nya hancur, wanita yang ia sayangi juga turut meninggalkan nya. nasib bahkan menertawakan kerapuhan hatinya, akankah Namjoon dapat bertahan? ditinggalkan oleh semua, dan berdiri sendiri?


Deburan ombak, angin laut, burung burung terbang, perahu perahu nelayan, ikan ikan berenang dalam kedalaman laut dan suara air yang membentur batu karang bersahut sahutan seolah mengejek betapa tidak adilnya sebuah takdir. ia sekarang mengerti apa itu takdir, ia tahu seperti apa takdir hidupnnya, bagaimana benang benang hidupnya terbentuk dan tahu bentuk simpul simpul disana.


Namjoon menyadari jalan hidup nya begitu amat rumit, ia ingin menyerah sekarang, apakah boleh?


Matanya mengamati batu karang di tengah tengah deburan ombak, air laut dengan ganas nya menyerang dan menabrak batu tersebut, namun bukannya ia goyah, melainkan air laut yang menyerang nya menyerah dan melebur menjadi partikel partikel kecil.


Namjoon tersenyum simpul.


bukankah ia harus seperti batu karang?


sekeras apapun ombak menyerang, ia tak kan mampu melawan batu karang.