
Misya membuka lembaran demi lembaran buku bacaan tebal di hadapan nya, sekarang ia sedang berada di sebuah cafe sambil membaca buku.
ia mengamati dan mencoba mencerna kutipan kalimat yang terdapat dalam buku tersebut
"kenapa harus takut gelap
bila ada sebuah keindahan
yang dapat terlihat?"
Misya membaca berulang kali hingga ia benar benar mengerti akan makna yang hendak di sampai kan penulis tersebut
terkadang kita takut pada kegelapan, dan beranggapan bahwa kegelapan itu merupa kan sesuatu yang merugi kan, kita hanya memandang sebuah kegelapan dari satu sisi, dan tanpa menilik kedua sisi dari gelap tersebut, ada kala nya kita harus menilai baik dan buruk seseorang, jelek dan bagus nya mereka, dan menerka mengapa kedua nya memiliki kesamaan?
itu mengajar kan bahwa kita tidak hanya melihat sesuatu dari satu sisi, karena setiap sisi memiliki perbedaan, oleh sebab itu kita harus membanding kan kedua sisi tersebut.
sama hal nya dengan kembang api, ia hanya akan terlihat indah pada malam hari, jika kita menghidup kan kembang api di siang hari itu sama saja kita membakar nya secara cuma cuma.
***************
Wery mengikat rambut nya tinggi tinggi, dasar CEO tak berperasaan, bisa bisa nya ia menyuruh Wery menghafal isi dari berkas ini dalam seminggu.
Wery membuka bab pertama,
WTH?
foto foto pria dan wanita dari muda hingga tua, dan dari tampan/cantik hingga yang seperti plastik remuk di makan api.
apa apaan ini?
ternyata Namjoon menyuruh nya bukan hanya menghafal kalimat di sini tetapi juga wajah wajah yang membuat ia hendak mengeluar kan kembali isi lambung nya.
"bagaimana mungkin aku mengingat wajah wajah sebanyak ini?" gerutu Wery
Wery kembali membuka lembaran kedua dan isinya juga sama seperti sebelum nya.
Ia kemudian membuka lembaran lembaran dengan kasar bahkan beberapa lembar nyaris tersobek.
"yak, pria Kim Menyebal kan, kyaaa" Wery mengacak acak rambut yang ia ikat rapi sebelum nya, dan sekarang keadaan rambut sungguh mengenas kan.
"ingin sekali ku kuliti hingga tinggal urat urat dan nadi nya saja yang tertinggal, mencabik wajah sok tampan nya itu, menusuk dimple nya dengan pisau tertajam di dunia, arghh"
dengan malas wery membaring kan diri di atas kasur usang nya, di luar terdengar bergemuruh menanda kan hujan sedang menguyur kota Seoul.
Wery benci hujan ketika rintik rintik nya menyapa permukaan lantai bumi, bukan karena ia takut mendengar suara guruh, atau takut melihat kilatan listrik dari petir, namun ia malas mengambil wadah untuk menampung air hujan yang berhasil masuk ke dalam kontrakan nya melalui celah celah kecil di langit langit rumah hasil kerja keras para tikus penganggu rumah.
"YAKK KENAPA KALIAN DATANG DI SAAT MOOD KU SEPERTI INI, HUJAN SIALAN, PERGI SANA, TIDAK USAH MENGUYUR RUMAH INI HAISH JINJJA" Wery sangat geram, belum lagi hafalan yang sudah melebihi rumus pelajaran fisika, hafalan sejarah, dan hafalan vocabulary bahasa inggris, benar benar menyebal kan.
Wery terus menerus menggerutu sepanjang malam berbaur bersama suara hujan dan cicitan para tikus yang menggoda pendengaran nya, dan pada pagi hari ia terbangun ia akan melihat beberapa potong pakaian nya meninggal menggenas kan.
berlubang bagian dada, sobek bagian lengan, bahkan ada yang hanya tinggal separuh dari seharus nya, sebenar nya para tikus itu tidak memakan nya, remahan pakaian nya akan berserakan memenuhi lemari nya dan akhir nya ia akan membersih kan kekacauan itu serta membuang baju baju hasil maha karya sang tikus yang terhormat.
rip my cloth :)
18.30 KST
Wery masih berkutat dengan berkas tebal-nya, jika saja tidak memikir kan janji nya pada orang tua nya yang akan memberi kan gaji pertama nya pada mereka mungkin Wery sudah mengundur kan diri sekarang.
"Kang Nam Suuk, pimpinan redaksi majalah Vogue, Jung Hongyi direktur utama perusahaan Lotte Shopping, Kim Jeng hun Manajer perusahaan LG Electronics, Cha boo ra ketua utama perusahaan AmorePacific bagian Engineering..." Wery mencoba mengingat nama yang telah berhasil ia baca tadi.
krukk..kruk...
Suara gerendang di lambung nya membuat ia nyegir kuda, Wery belum makan sedari tadi, tanpa pikir panjang ia menyambar jaket rajut nya di lemari dan bergegas ke toko, membeli ramen pedas mungkin nyaman di saat sehabis hujan begini.
Wery menghirup udara malam yang menyegar kan setelah hujan membersih kan debu dan polusi kotor yang merusak nafas Bumi, membuat pohon pohon hijau bersemangat menyerap CO² dan memproduksi oksigen yang menyenang kan paru paru.
Wery melangkah kan kaki nya, hawa dingin malam menerpa kulit wajah nya, bukan nya mengigil, malah membuat Wery tersenyum cerah, menghilang kan penat otak nya dengan santai di taman mungkin di butuh kan sekarang.