
"selamat datang Daepyonim" Wery membungkuk kan badan nya
"nee, terima kasih, hm, di mana Namjoon hyung? ku kira ia yang akan menjemput ku langsung ke bandara
"Sajangnim ada urusan di kantor nya jadi ia menyuruh saya menjemput anda, ada yang perlu di bawa daepyonim?" tanya Wery,
"ani, biar aku saja, hm, kau mengantar ku ke rumah saja" ucap Taehyung, ia lalu mengeret koper nya menuju mobil.
Wery membuka kan pintu belakang kemudi dan mempersilah kan Taehyung masuk, kemudian ia duduk di sebelah Taehyung.
jaga jarak pasti nya :)
"kau karyawan bagian apa?" tanya Taehyung.
"saya bagian Hubungan Internasional Daepyonin, dan maaf sebelum nya, ini kali pertama saya bertemu anda" sahut Wery.
"eoh? begitu kah? wah, senang bertemu dengan mu, Park Wery?" Taehyung mengeja nama yang tertera pada kartu nama Wery.
"nee daepyonim, " Wery tersenyum tipis.
jika di banding kan, Kim Taehyung jauh berbeda dengan Hyung nya, Kim Namjoon.
Taehyung sedikit lebih ramah dan hangat, tidak seperti Namjoom yang sombong dan dingin, meskipun Namjoon sangat pintar
Taehyung mengeluar kan benda pipih di saku mantel nya dan menekan sebuah nomor.
"aku sudah sampai di korea"Taehyung berbicara pada seseorang lewat sambungan telepon nya,
Wery pastikan orang itu bukan orang sembarangan, bukti nya nada bicara Taehyung jauh berbeda saat mereka berbincang.
"nee, kau sudah makan?" tanya Taehyung
"aku belum, bagaimana dengan mu?"
"aku, masih di perjalanan ke rumah eomma," sahut Taehyung,
Sebagai orang yang menghargai privasi orang lain, Wery memilih mengacuh kan pembicaraan atasan nya dan membuka tablet di tangan nya, mengeser geser jadwal nya hari ini.
"sampai kan salam ku, bilang pada eommonim aku merindu kan nya, apa Namjoon yang menjemput mu?"
"hahaha, akan ku sampai kan, ani, karyawan nya yang menjemput ku ke bandara" ujar Taehyung lagi
"laki laki atau perempuan? jika perempuan jaga mata mu"
"dia perempuan, apa kau tak mempercayai ku? haish" Ucap Taehyung, ia melirik Wery yang sibuk dengan tablet nya, seperti nya tak menghirau kan Taehyung.
"bukan begitu, maksud ku,"
"nee, aku tutup ya, nanti akan ku kabari lagi"
"nee, lagi pula aku juga harus mengisi nama pasien yang akan melakukan operasi hari ini"
Taehyung berdehem dan menyandar kan punggung nya.
sedang kan Wery, ah ia masih sibuk dengan tablet nya.
***************
Whein tersenyum manis ketika Namjoon datang, ia mempersilah kan mantan CEO nya itu duduk, mereka sekarang berada di sebuah restoran mewah yang memang sengaja Whein sewa.
"saya merasa senang anda datang," ujar Whein.
"ya. ada apa kau memanggil ku ke sini, kau tahu bukan masih banyak kerjaan menumpuk di meja ku" suara datar Namjoon menusuk Whein, namun aneh nya wanita ini tak pernah sakit hati pada sikap Namjoon.
"ah, ini aku ingin memberitahu mu bahwa aku sudah membuka sebuah butik tak jauh dari kantor mu" Whein menyodor kan sebuah kartu yang sama jenis nya dengan kartu undangan.
Namjoon menatap lama tak berniat menyentuh kartu tersebut, menyadari hal itu, Whein meletak kan kartu itu di atas meja.
"aku akan sangat senang bila anda mau datang, hitung hitung sebagai tanda permintaan maaf ku" Whein tersenyum, aneh dia akan selalu tersenyum bila bersama Namjoon, tak peduli betapa keras nya pria ini menolak nya.
"baiklah, jika tidak ada lagi aku harus segera pergi" Namjoon mengambil kartu tersebut dan meninggal kan Whein yang menatap kepergian nya sendu.
*************
flashback
"kau menyukai cerita nya Sun-ah?" tanya ku
"ya, alur nya sangat bagus tapi akhir cerita nya membuat ku ingin menangis" sahut Min Sun
"ya, aku sudah membaca nya 3 kali, dan 3 kali pula aku menangis," kata ku,
"wah, kau cengeng sekali, haha" Min Sun mengejek ku dan tertawa terbahak.
"aku tidak cengeng, kau saja ingin menangis membaca cerita nya" tantang ku,
"aku tidak menangis, hanya ingin menangis" Min sun membolak balik buku tersebut.
"Sun-ah, kita akan tetap bersama sampai kapan pun kan?" ujar ku, angin pantai menerpa kulit wajah kami,
"tentu saja, aku tidak akan meninggal kan mu, " Min Sun tersenyum manis
"tapi aku tidak yakin, Sun-ah. bisa saja suatu saat nanti kau pergi meninggal kan ku" ujar ku lagi, aku benar benar tidak bisa jika berpisah dengan nya.
"itu tak akan terjadi, jika memang terjadi maka aku akan selalu mengabari mu setiap saat" Min Sun berucap dengan antusias.
"bisa kah aku dan kau satu rumah kelak?" tanya ku
"tentu saja, kita akan membuat rumah bagus, membeli mobil mahal dan memiliki kolam renang." sahut nya.
aku tersenyum bahagia, sangat bahagia kala ia menyebut kata 'kita', membuat rencana masa depan yang cerah.