
"dia orang yang sangat istimewa bagiku"
DEG
"kami saling menyayangi, entah lah, atau hanya aku saja yang mencintai nya. ia meninggalkan ku tepat pada hari dimana pengumuman kelulusan ku, dan hari dimana orang tua ku bercerai."
"aku sangat terpukul dan merasa sendirian waktu itu, aku hampir saja berniat mengakhiri semuanya, namun aku mengurungkan niat ku.aku mengalami masa masa terendah dalam hidupku dan membuat ku depresi itulah sebabnya aku mengalami penyakit Prosogpagnosia" Namjoon tersenyun getir, ia memandang wajah Wery yang menatapnya dengan iba.
"tak perlu merasa kasihan padaku" ketus Namjoon membuat Wery mengerucutkan bibirnya.
Bagi banyak orang, jika kita tahu latar belakang hidup seseorang adalah sebuah kebanggaan tersendiri dan beranggapan bahwa kita adalah orang terpercaya juga terdekat dengan orang tersebut, apalagi orang tersebut adalah Kim Namjoon. namun itu tidak bagi Wery, ia melihat dari sisi yang berbeda, ia malah merasa bersalah dan seakan ikut merasakan apa yang orang lain rasakan.
Wery merasakan kesakitan dan kesepian yang Namjoon rasakan, walaupun Namjoon memiliki segalanya, kekayaan dan kesuksesan, namun ia merasa sangat rapuh.
jika ada seorang saja menyenggol dinding rapuhnya, Namjoon akan runtuh dan hancur berkeping keping.
Wery merasa bahwa Namjoon selama ini sangat tertekan, namun ia berusaha menutupi nya dengan segala sikap dingin dan datar nya, berniat menghapus betapa rapuh nya dirinya, agar orang lain yang menilai dirinya adalah orang yang paling sempurna.
"aku tidak merasa kasihan pada anda, aku merasakan apa yang anda rasakan, betapa sakit dan pedih nya ketika sesuatu yang berharga bagi kita diambil paksa bahkan sebelum kita sempat merasakan apa itu kebahagiaan. kesepian? kerapuhan? bahkan hal itu adalah teman terbaik dan menjadi tameng agar kita tetap bertahan" Wery tertawa hambar, ia menatap lekat wajah Namjoon,berusaha menelisik kesakitan ynag teramat sangat yang dirasakan pria itu.
malam ini Wery seakan melihat sosok lain dari sisi yang berbeda Namjoon, Namjoon tak menunjukkan keangkuhan, kesombongan dan dinginnya dirinya, mengatakan bahwa semua itu hanyalah semu. Namjoon di depan Wery sekarang menunjukkan realita siapa Namjoon sebenarnya selama ini. Namjoon yang begitu rapuh.
*******************
flashback
Min Sun mengendong ransel di puggungnya, ia tersenyum penuh minat pada tempatnya sekarang, berharap ia menemukan kebahagiaan baru di tempat baru ini.
Daegu, kota metropolitan yang hampir sama padatnya dengan Seoul, jauh berbeda dengan tempat tinggal nya dulu, kota Jeju.
Min Sun diadopsi oleh sepasang suami istri bermarga Park. suami istri tersebut mempunyai kedai yang cukup ramai pengunjung di sudut kota.
ia menyimpan barang barang nya di dalam kamar.
"Sun-ah, bersih kan dirimu, eomma akan memasak." ujar nyonya Park.
tanpa diperintah airmatanya mengalir.
ia sakit hati, ia sebenarnya tak ingin meninggalkan Jeju. ia tak ingin meninggalkan masa kecilnya. ia tak ingin meninggalkan teman temannya. ia tak ingin meninggalkan rumahnya, dan ia tak ingin meninggalkan cinta pertamanya.
Min Sun merasa bahwa ia adalah orang terjahat yang pernah ada, ia bahkan mengatakan kata kata manis yang ternyata adalah sebuah kebohongan semata.
ia telah menyakiti perasaan seseorang yang begitu tulus padanya, memberi harapan palsu bahwa mereka akan bersama hingga tua, membangun masa depan cerah, namun kenyataan nya ia menghancurkan segalanya, ia menghancurkan masa depan orang lain.
Min Sun membuka box yang penuh dengan foto ia dan Namjoon, senyum bahagia terukir di bibir mereka berdua. betapa ia sangat senang kala melihat Namjoon tertawa, apalagi karenanya, mengelus surai pemuda itu di pondok bibir pantai hingga pemuda tersebut tertidur, mendengar betapa inginnya Namjoon merayakan hari kelulusan nya bersama Min Sun.
Min Sun mengambil salah satu foto dimana Namjoon sedang tertawa lepas. ia memeluk foto tersebut seakan ia memeluk si empunya, Min Sun semakin sesak, ia terisak. berharap dengan keluar nya airmata nya bisa menghapus rasa bersalah nya pada Namjoon.
Min Sun Flashback
aku berjalan dengan senyum cerah menghampiri rumah Namjoon, hari ini adalah hari ulang tahunnya, 13 September. Aku sudah membawa kue pai buatan ku dan di bantu Hongyi ahjumma.
"Namjoon-ah" panggilku, aku mengetuk pintu rumah mereka.
seorang wanita membuka pintu dan menatap ku dengan tatapan sinis, ia bersedekap di dada.
"apa kau Min Sun anak panti asuhan itu?" tanya wanita tersebut dengan nada tak bersahabat.
"nee, apa Namjoon ada? aku ingin merayakan ulang tahun nya bersama" sahut ku, aku mencoba tersenyum sesopan mungkin.
"kau kira kami tidak mampu merayakan ulang tahun putra kami sendiri? sebaiknya kau pergi saja jauh jauh dari kehidupan Namjoon, kau hanya mengacaukan masa depannya, bahkan ia mengatakan akan menikahi mu, tentu saja aku tidak setuju, Namjoon harus menikah dengan gadis yang jelas asal usul nya, bukan gadis yatim piatu seperti mu" ucapan ibu Namjoon seakan mengoyak perasaan ku, aku dan Namjoon bahkan belum mempunyai hubungan yang pasti namun respon ibunya sudah seperti ini, bagaimana nanti jika kami memang benar benar sudah ke jenjang yang lebih serius?
apakah benar yang dikatakan ibu Namjoon bahwa aku harus menjauh agar Namjoon bisa menikahi wanita yang baik tidak sepertinya.
Min Sun flasback off
Min Sun masih terisak memeluk foto Namjoon.
"hiks...mian,...semua ku lakukan agar kau bisa bahagia seperti perkataan ibumu, karena aku mencintai mu Namjoon-ah"