What's Wrong With My CEO?

What's Wrong With My CEO?
Bag 12


Misya memutar mutar botol air mineral di tangan nya, sesekali ia meneguk isi botol tersebut.


sekarang ia dan Mingyu berada di halaman rumah nya, Mingyu bilang ada yang ingin dia katakan pada Misya.


"aku akan di tugas kan ke China" ujar Mingyu gamblang


"nee? bukan kah abeonim tidak ada kantor di China?" tanya Misya, yang ia tahu perusahaan Ayah Mingyu hanya ada di Korea Selatan dan Thailand.


"nee, aku tidak bekerja di perusahaan Appa, aku bekerja di perusahaan Jaehyun hyung" sahut Maingyu.


"mwo? bagaimana bisa? lalu perusahaan abeonim?" Misya heran, bagaimana bisa Mingyu meninggal kan perusahaan nya di Korea.


"ah, itu akan ku beri kan pada Yeonjun, lagi pula aku juga ingin berkerja tanpa ada kaitan nya dengan mereka appa dan eomma" jelas mingyu


"begitu ya, " ujar Misya sendu, berarti ia harus berpisah dengan calon suami nya ini.


"tidak usah khawatir, aku akan mengajak mu ke sana, jadi lebih tepat nya, kita akan di tugas kan di China" senyum manis Mingyu membuat Misya meleleh sesaat, setelah itu ia buru buru memaling kan wajah nya


"nee, tapi kan aku masih harus sekolah, " ujar Misya, kerutan halus tergaris di kening nya.


"aku akan menunggu dan akan mengata kan pada Jaehyun hyung agar sedikit menunda tanggal penugasan ku" Mingyu berujar dan menoleh ke arah Misya.


"nee, gomawo"


***************


Hyunia memeriksa salah satu pasien di Rumah sakit tersebut, pasien ini adalah korban tabrak lari dan mendapat benturan di bagian kepala nya.


"Yoi, anda hanya harus beristirahat dan jangan terlalu banyak pikiran" ( Yoi:baik.bhs Jepang)


"domo arigatozaimashita"(terima kasih banyak). sahut pasien tersebut.


"hai, doitashimashite"(ya sama sama).


Hyunia berlalu dari ruangan tersebut, ia berjalan di lorong rumah sakit, namun langkah nya terhenti saat melihat seseorang di ujung lorong sedang memain kan ponsel nya.


orang itu bersandar di dinding rumah sakit, kemeja tanpa dasi, lengan kemeja yang di lipat sesiku, dan jas yang menggantung di lengan kiri nya. dengan senyum cerah Hyunia menghampiri orang itu.


"jadi, apa yang anda lakukan di sini tuan?" tanya Hyunia, ia bersedekap di dada dan berdiri di samping pria tersebut.


"eoh? kau sudah datang?, mian aku terlalu asik dengan ponsel ku" sahut pria itu dan menghirau kan pertanyaan Hyunia.


"Yak, Taehyung-ssi, aku bertanya, kenapa kau malah mengalih kan begitu" Hyunia mencebik,


"ah, nee, mian, aku di sini ingin mengajak mu makan siang bersama, kajja" Taehyung berdiri tegak dan hendak berjalan, namun ia merasa tidak ada pergerakan dari Hyunia.


"wae?" tanya Taehyung heran kala melihat Hyunia masih berdiri di tempat.


"aku masih ada pasien Tae, masih ada 3 orang lagi yang harus aku periksa sebelum jam makan siang" kata Hyunia, dia memasuk kan kedua tangan nya di saku jas dokter nya.


"berapa lama?" tanya Taehyung.


"ada 3 orang Tae, ya aku usahakan selesai sebelum jam makan siang mu habis" ujar Hyunia.


"nee, aku tunggu di sini" Taehyung duduk di kursi tunggu di lorong tersebut.


"nee, tidak lama" Hyunia berlalu dan menuju ke salah satu ruangan untuk memeriksa pasien selanjut nya


*************


Wery memandang berkas tebal yang terongok begitu saja lamat lamat.


'menghafal isi berkas sebanyak ini?' Wery menelan saliva nya sendiri.


"em, maksud anda semua nya Sajangnim?" tanya Wery memastikan, siapa tahu Namjoon salah bicara, sebenar nya ia ingin bilang hafal bagian pembuka nya saja.


"apa perkataan saya kurang jelas?" sarkas Namjoon,


Wery mengutuk dan mengumpat dalam hati, ingin sekali rasa nya melipat lipat tubuh tinggi Namjoon, membiar kan pria itu mencium bokong nya sendiri dan menendang lipatan lipatan tak berbentuk itu ke luar galaksi, biar mati di makan alien, namun...


'sabar Wery, bagaimana pun juga ia adalah CEO di sini' batin Wery.


"nee Sajangnim," Wery sedikit menunduk kan kepala nya.


tok...tok...tok


suara ketukan di pintu menghentikan percakapan mereka berdua,


"masuk" Namjoon menoleh sebentar dan kembali ke layar monitor nya.


Jung Whein.


Wery menoleh ke arah Whein, di tangan nya ada secangkir kopi yang membuat Wery meleleh dan ingin sekali menyambar cangkir tersebut meneguk habis isi nya bila perlu cangkir nya juga.


"Sajangnim, ku pikir anda perlu kopi untuk menyegar kan pikiran anda" Whein, dia meletak kan cangkir tersebut di meja kerja Namjoon.


"nama" ujar Namjoon


"Jung Whein, Sajangnim" Whein sedikit membungkuk


Namjoon melirik sebentar, mengambil cangkir tersebut dan menyesap isi nya sedikit.


ada binar kegembiraan di bola mata Whein,


"terima kasih" ucap Namjoon datar, Whein hanya tersenyum manis menanggapi nya.


'andai saja itu aku, kopi seharum ini akan ku habis kan saja di ruangan ku sambil menonton film kesukaan ku, dari pada memberi**kan nya pada atasan sombong dan dingin begini, cih' Wery mencibir dalam hati.


Whein berjalan mendekat ke arah Namjoon, pria itu diam saja membiar kan Whein melakukan apa yang ia mau.


"saya tahu anda tidak bisa memasang dasi sendiri Sajangnim, biar saya saja yang melakukan nya" Whein menuntun Namjoon agar berdiri, Namjoon hanya menurut saja, toh ia memang tidak bisa memasang dasinya sendiri.


Whein memasang dasi biru navy ke kerah kemeja Namjoon, membuat simpul simpul yang saling berkaitan.


Wery serasa ingin muntah saja, melihat betapa peduli nya Whein dan tersenyum penuh cinta, sedang Namjoon menatap kosong pada Whein, miris sekali.


namun, mungkin yang lebih miris di sini ialah Wery, dia bagai orang bodoh dengan berkas di dekapan nya memandang dua orang, ralat, satu wanita yang sedang berbunga bunga cinta yang bermekaran dan seorang pria yang akan selalu siap memberi racun serangga hingga bunga bunga tersebut layu kemudian mati, hu, kisah yang sadis bukan.


"eng...maaf menganggu kalian berdua, apa lagi keperluan anda dengan saya Sajangnim? jika tidak ada saya mohon diri" ujar Wery, dia membungkuk sebentar .


"silah kan" ucapan Namjoon membuat hati nya menari nari kegirangan, bebas sudah.