What's Wrong With My CEO?

What's Wrong With My CEO?
bag 35


flashback


kicauan burung dan deburan ombak bersahut sahutan di bibir pantai, angin laut yang berdesir membuai setiap makhluk yang mendengar nya, tak terkecuali dua insan yang sedang bersantai di salah satu pondok kecil di tepi pantai saling menaut kan jari jemari mereka.


"Namjoon-ah" panggil si gadis, orang yang di panggil pun menoleh ke arah sumber suara


"hm, " Sahut Namjoon,


"kau percaya pada yang nama nya takdir?" tanya Min sun.


"aku bahkan tak mengerti apa itu takdir" Jawab Namjoon,


"memang nya kau mengerti apa itu takdir?" tanya Namjoon balik, gadis di samping nya ini adalah gadis yang sangat istimewa bagi nya, satu kalimat keluar dari mulut Min Sun dapat membuat hati nya bergetar.


"hm, aku juga tidak begitu paham apa itu takdir menurut para ahli ataupun menurut penulis yang terkenal, tapi menurut ku takdir itu bagai sebuah benang tipis yang saling berhubungan dan berkaitan, benang itu juga terkadang membentuk simpul simpul rumit yang membuat kita harus menyusuri benang tersebut hingga kita tahu bagaimana ujung dari benang itu" Min Sun berucap dengan tatapan menerawang, ia mengeluar kan semua yang ada dalam isi hatinya,


tentang takdir hidupnya, tentang garis dan tali hidupnya, terkadang Min Sun berpikir jika saja ia bisa berbalik, maka Min Sun akan berulang kali berbalik dan memperhatikan bahwa ia tak salah mengikuti alur hidupnya.


ingin sekali rasa nya Min Sun mempunyai garis hidup seperti orang lain, simpul simpul dari benang mereka tak serumit milik nya, bahkan mereka dapat dengan mudahnya menemukan ujung benang dan mulai mempersiap kan menyusuri benang lain.


namun, Min Sun sadar bahwa semua yang ia perhatikan dari benang orang lain bukan keseluruhan bagaimana benang itu berbentuk, mereka hanya menampakkan wujud dari benang benang yang tidak terlalu rumit sehingga orang orang termasuk dirinya akan beranggapan bahwa hidup mereka baik baik saja, itu adalah salah satu cara manusia menutupi kerapuhan dan kerumitan benang tersebut.


terkadang kita hanya melihat hasil tanpa melihat proses yang terjadi, kita dengan mudah saja mencemooh orang lain, memberi asumsi padahal kita tak tahu bagaimana perjalanan seseorang hingga ia bisa mencapai puncak tertinggi dalam hidup nya.


pernahkah kita belajar untuk menghargai sebuah jerih payah orang lain? sebelum kita mencemooh kerja keras orang lain, belajar lah membuat sebuah perjuangan diri kita, setelah kita tahu apa makna kerja keras dan perjuangan maka kita tak akan mencela kerja keras orang lain.


"hei, kau melamun" suara Namjoon menyadar kan Min Sun, ia terlalu asik dengan pikiran nya,


"nee, ah aku hanya memikir kan sesuatu" sahut Min Sun, Senyum manis terbit di bibir nya,


"memikir kan apa?" tanya Namjoon, ia memain kan jambul rambut nya yang tak terlalu panjang,


"ani, sebaik nya kita pulang, kita sudah cukup lama berada di sini" ajak Min Sun, ia menarik tangan Namjoon,


"kajja, tapi mampir ke rumah ku nee, aku ingin mengenal kan mu pada appa dan eomma" ujar Namjoon, ia dengan mudah memutar tangan nya dan menyelipkan jemari nya diantara jemari Min Sun.


"Namjoon-ah, aku tidak bisa" Min Sun melepas kan pilinan jemari mereka dan mengusap lengan atas nya,


"wae? " Namjoon memandang Min Sun dengan tatapan bingung,


"lain kali saja nee, aku harus membantu Hongyi Ahjumma mengurus adik adik ku, " Min Sun kembali tersenyum sangat berbanding terbalik dengan hatinya.


tersenyum memang sesuatu yang manjur menutupi perasaan dan seolah olah berkata


*******************


hari ini Namjoon dan Wery kembali ke Seoul, mereka menggunakan jalur udara kali ini.


sejak kejadian sore itu, Wery tak banyak bicara, begitu pun Namjoon. namun, kadang kadang Wery risih dengan tatapan Namjoon yang seolah menyelidiki sesuatu dari nya dan itu membuat ia sangat terngganggu.


seperti sekarang, Namjoon memperhatikan Wery yang sedang memakan sarapan mereka.


Bahkan Namjoon memang terang terangan menatap nya dan belum menyentuh sarapan nya.


"Sajangnim, apa ada yang salah dengan saya?" tanya Wery, ia merasa sangat tak fokus jika di perhati kan terus menerus.


Bayang kan saja jika kita di perhatikan orang lain, kita terkadang merasa bahwa mereka melucuti kita hanya dengan tatapan saja,


"aku tidak tahu dari mana asal mu, apakah kau lahir di Seoul?" tanya Namjoon, pertanyaan yang sangat tidak bermutu menurut Wery, apa peduli nya tentang tempat lahir Wery?


"saya lahir di Daegu, Sajangnim" sahut Wery, ia membawa sumpit yang menjepit sepotong daging ke dalam mulutnya.


"kau lahir tahun berapa?" kali ini Wery hampir tersedak mendengar pertanyaan Namjoon,


"Eng, Sajangnim saya, em, maksud saya itu kan adalah privasi saya, jadi-"


"kalau begitu, berapa umur mu?" belum selesai Wery dengan ucapan nya, pertanyaan lain langsung menyerbu indera pendengaran nya.


"itu juga privasi saya" cicit Wery, ia merasa heran dengan Namjoon hari ini, ah tidak dari semalam.


"kenapa semua nya privasi mu, aku adalah CEO mu, jadi saya berhak tahu" Ujar Namjoon kesal, ia beranjak dari duduk nya meninggal kan Wery yang terbengong di tempat.


Wery menghela nafas pelan


"karena itu hidup ku Namjoon-ah, cukup sudah, jangan lagi" gumam Wery sangat pelan, saking pelannya nyaris tak bersuara.


Pesawat yang mereka gunakan sudah take off 10 menit yang lalu, perjalanan antara Daegu ke Seoul tak terlalu lama, hanya 30 menit tanpa transit.


Namjoon sudah tertidur sebelum pesawat take off, ia tampak tenang saat tidur mengingatkan Wery pada seseorang.


Wery tersenyum memandangi wajah tenang Namjoon, guratan halus menghias kening indah nya, mata sipit nya yang terpejam rapat dan dimple menawan itu.


Wery memindah kan pucuk kepala Namjoon menyandar di pundak nya, Namjoon nampak nya tak terganggu dengan gerakan lembut yang di lakukan Wery.


"kau memang tampan Namjoon-ah, tapi aku tak menyangka rupa mu ternyata seperti ini sekarang" Wery ikut memejam kan kelopak nya, berharap ia dapat memimpi kan sesuatu yang indah.