
Park Wery berjalan lunglai menuju rumah kontrakan nya di salah satu wilayah kumuh di Seoul.
bisik bisik tetangga membuat ia muak dan ingin sekali mencekik tenggorokan ibu ibu rempong yang sangat-sangat- tidak bisa mengontrol mulut tajam mereka.
mereka selalu membicarakan Wery, dimana pun, kapan pun itu. mereka merasa bahwa bergosip tentang Wery adalah hal yang menyenangkan.
"hhh.." Wery menghela nafas berat saat ia berhasil melepas kan sepatunya dan meletakkan di rak sepatu. bergegas ke dapur membuka kulkas dan berakhir dengan segelas air dingin. mendingin kan otak nya yang panas.
Wery duduk di sofa usang kontrakan nya. dia sebenarnya sudah sangat malas berada di daerah ini, ingin sekali ia menyewa sebuah apartemen, namun apalah daya, jangan kan untuk menyewa pekerjaan saja dia belum ada.
Wery sudah melamar ke berbagai perusahaan namun tak satu pun lolos, bukan karena apa, tetapi kehabisan kuota pelamar.
drtt drtt drtt
ponsel nya berdering, dengan enggan Wery meraih dan melihat si penelpon, Choi Hanah.
"ne, yeoboseo" Wery berbicara sambil meselojorkan kakinya.
"wery-ya aku punya kabar baik untuk mu"Hanah terdengar bersemangat.
"ada apa?" Wery mulai tertarik, siapa tahu ini menyangkut pekerjaan.
"dengar, di perusahaan ku membuka lowongan kerja jurusan hubungan internasional dan ini sangat cocok dengan jurusan mu,aku sudah mendaftar kan mu, jadi besok kau datang ke sini dan melakukan wawancara" Hanah menjelaskan sejelas jelasnya pada Wery.
"jinjjaeyo? ah gomawo. aku tahu kau pasyi teman yang terbaik, baik lah aku akan menyiapkan berkas berkas yang akan ku bawa, sampai jumpa, aku mencintai mu" Wery memutuskan telepon nya sepihak.
Wery meloncat loncat kegirangan. dan bernyanyi ria menuju kamarnya.dia membuka laptopnya.
"baik, kita mulai" jari jemarinya dengan lincah menari di atas keyboard.
waktu terus bergulir tak terasa sekarang sudah menunjuk kan pukul 7.
"astaga, sudah malam, haish, aku sampai lupa waktu." Wery bergegas ke kamar mandi.
dia meraih handuk biru di lemari nya dan menuju ke kamar mandi. berdiri di bawah shower mungkin cukup menyenangkan, pikirnya.
ia sebenarnya ingin sekali bisa berendam di bathub, tapi jangan kan bathub,shower pun sudah mau rusak.
dia keluar dengan handuk kecil melilit di tubuhnya, mencepol rambutnya ke atas dan bergegas ke dapur.
Wery memasak ramyeon pedas dan menyeruput nya nikmat. hari ini mood nya sangat bagus karena kabar yang di bawa Hanah
ah Hanah, Wery dan Hanah sudah bersahabat saat mereka masih SMA dan melanjutkan kuliah di kampus yang sama.
Hanah mengambil jurusan Desain dan Marketing, sedang Wery mengambil jurusan Hubungan Internasional karena dia sangat lancar dan pintar dalam bahasa Inggris.
Wery dan Hanah sama sama anak tunggal.
sebenarnya dari segi ekonomi, mereka berdua sangat jauh berbeda.
Hanah adalah anak pengusaha yang cukup di segani di Korea Selatan. ibunya adalah pemilik Butik langganan para gilrband Korea. namun itu tak membuat Hanah menjadi congkak dan angkuh. dia berteman dengan siapa saja termasuk Wery.
sedangkan Wery adalah anak seorang pemilik kedai di Daegu. ayah dan ibunya membuka usaha kedai kecil kecilan dan penghasilan tak seberapa.
dia bersekolah bergantung pada bantuan pemerintah hingga ia menyelsaikan pendidikan nya.
Wery meminun air putih di gelas hingga tandas.
dia mencuci piringnya di wastafel.
dia menganti baju nya dan merebahkan diri berniat mengistirahat kan matanya, besok ia harus bangun awal.