What's Wrong With My CEO?

What's Wrong With My CEO?
bag 23


Wery berjalan gontai menuju lobi kantor nya, wajah nya tertekuk sedih.


"Nona Park, anda kenapa?" tanya seorang laki laki berjas di lobi kantor tempat kerja nya


"jangan ganggu aku, aku sedang dalam mood yang buruk" Wery berucap tanpa mendongak kan wajah nya, ia berlalu melewati 'beberapa' pria berjas tadi


"apa yang membuat anda begitu? " tanya pria itu lagi.


"yak, apa lagi jika bukan karena berkas si-...OMO, jeosonghamnida Jaehyun daepyonim, sa-saya tidak tahu" Wery membungkuk kan badan nya berkali kali.


'haish, mati aku untung aku tidak bicara terlalu banyak' Wery merutuki diri nya dalam hati.


"hahah, tidak apa apa Nona Park, saya paham anda pasti sedang memiliki masalah, tapi saya saran kan anda lebih profesional Nona Park" Jaehyun berujar sembari tersenyum, membuat pikiran Wery semakin campur aduk.


"nee, Jeosonghamnida" Wery membungkuk kan badan lagi.


"sudah lah, hm seperti nya anda memang tidak menyadari kehadiran kami tadi ya,kami sudah menunggu anda lebih dari 15 menit" ujar Jaehyun.


"nee? " selama itu kah ia berjalan dari halte ke tempat kerja nya? biasa nya 5 menit sudah sampai.


"ya, ku harap anda tidak melupa kan nya Nona Park" timpal Jaehyun.


"eng, saya tidak paham maksud anda daepyonim" Wery tidak tahu apa yang di bicara kan Jaehyun,


'ku harap anda tak melupa kan nya' apa maksud nya.


"ah, lebih jelas nya kita ke sana saja Nona Park" Jaehyun menunjuk sekumpulan orang orang tampan berjas tak jauh dari tempat mereka berdua.


"nee daepyonim" Wery berjalan di belakang Jaehyun.


"selamat pagi Sajangnim, Taehyung daepyonim" Wery membungkuk kan badan nya


"nee Nona Park, anda sedikit terlambat seperti nya" ujar Taehyung, bola mata nya mengerling ke arah Namjoon.


"nee?" Wery merasa bermain tebak tebakan sekarang, tidak Jaehyun tidak Taehyung sama sama membuat ia harus memutar otak agar mencerna maksud kedua nya


"anda kira waktu saya hanya untuk di habis kan menunggu orang seperti anda Nona Park" suara dingin itu menyapa indra pendengaran Wery.


Wery menunduk kan kepala nya, ia tahu ia salah, toh yang membuat kesalahan awal nya adalah Namjoon, tapi pria ini malah sok seperti ini, membuat Wery semakin ingin segera membunuh pria ini.


"jeosonghamnida Sajangnim" lirih Wery, ia membungkuk kan badan nya lagi, sudah berapa kali ia memberi hormat pada mereka pagi ini.


"jadi menurut anda semua kekacauan yang anda buat akan berubah setelah anda mengucap kan kata maaf? itu tak berarti apa apa" Namjoon melihat jam tangan Rolex nya.


Wery semakin menekuk wajah nya, jika bisa jangan terangkat lagi, ia begitu malu sekarang.


"Tae, seperti yang sudah ku kata kan pada mu semalam, kau urus sementara di sini, aku Jaehyun dan karyawan tak tahu diri ini akan berangkat sekarang" ujar Namjoon,


Wery membelalak sempurna,


*wait?


"eng, Sajangnim kita berangkat pagi ini?" tanya Wery ragu ragu


"lalu anda pikir kapan? nanti malam? oh pantas saja anda datang sesuka hati anda" sarkas Namjoon tajam, membuat Wery tak berkutik sedikit pun.


"sudah lah hyung, apa kau tidak kasian melihat nya? lagipula ia sudah meminta maaf, lebih baik kalian pergi sekarang" Taehyung mengkode Jaehyun agar mereka segera pergi.


"nee, sebaik nya kita harus pergi sekarang Namjoon-ah, Nona Park anda satu mobil dengan Namjoon, dan saya akan menyusul sebentar lagi" ujar Jaehyun.


"m-mwo?!" suara pekikan dari Wery membuat ketiga pria di hadapan nya menoleh heran,


"jika anda merasa keberatan anda boleh keluar dari kantor saya dan ajukan surat pengunduran diri anda sekarang Nona park" Namjoon berucap dingin dan menusuk


"n-nee Sajangnim, jeosonghamnida" Wery menunduk dalam, ia merutuki diri nya sendiri yang tak bisa menjaga sikap nya.


Jaehyun menelpon seseorang dan tak lama kemudian sebuah sedan hitam berhenti tepat di depan mereka.


seorang pria membuka pintu di belakang kemudi dan mempersilah kan Namjoon masuk, sedang kan Wery menjadi salah tingkah sendiri.


ia duduk di mana? di belakang? ah, tidak tidak, mana mungkin ia duduk bersebelahan dengan CEO perusahaan nya sendiri, mungkin duduk di depan lebih baik' pikir Wery, ia hendak membuka pintu mobil bagian depan, dan ternyata sudah ada satu pria lagi duduk manis di situ.


Namjoon menyadari tingkah Wery, ia memutar bola mata jengah


"anda duduk di samping saya Nona Park, jangan seperti orang susah, saya tidak akan memakan anda" perkataan Namjoon membuat Wery nyengir tak jelas.


"nee Sajangnim" Wery duduk di samping Namjoon.


**************


"hahaha..." Hanah tak bisa berhenti tertawa, menurut nya cerita yang Jaehyun kata kan tadi sangat lucu.


"hahaha, bagaimana bisa Wery sedungu itu, padahal ia adalah anak yang berprestasi, hahah" suara tawa Hanah memenuhi ruang kerja nya


"sudah lah, aku malah merasa kasian pada Nona Park tadi pagi, lagi pula menurut ku Namjoon juga salah, " Ujar Jaehyun.


"ani, tapi itu sangat lucu, pfft" Hanah mencoba menahan tawa nya.


"aku juga akan ke Daegu hari ini, jadi aku akan berpamitan dengan mu, sebenar nya besok aku akan kembali ke Seoul" ucap Jaehyun


"lalu, kenapa harus berpamitan kalau begitu, kan tidak lama" sanggah Hanah masih terdengar kekehan halus dari mulut nya.


"bukan kah kita sudah sepakat bahwa kita harus berterus terang, jika aku tak berpamitan bukan kah itu sama saja aku menyembunyi kan sesuatu dari mu walaupun aku hanya pergi sebentar saja?" ucap Jaehyun lagi.


"Kan beda permasalahan nya, kau kan bisa menghubungi ku jika sudah sampai" lirih Hanah


"siapa bilang? lagi pula apa susah nya berpamitan langsung? bagi ku apapun yang menyangkut kejujuran tidak ada yang nama nya berbeda, jika seperti itu pikiran nya, maka akan banyak orang akan melakukan kebohongan. karena mereka berpikir bahwa 'ini' berbeda dengan 'itu'. 'ini' harus di cerita kan, dan 'itu' tidak perlu karena berbeda permasalahn nya."


"sebuah kejujuran tidak pernah mengukur yang nama nya perbedaan, karena pikiran yang membeda beda kan itu, sebuah kebohongan tak akan berakhir. jadi, aku tak akan menutupi sesuatu dari mu, apapun itu ku harap kau melakukan hal yang sama" ujar Jaehyun.


"nee, mian, dan gomawo sudah menasihati ku" Hanah berucap dengan seulas senyum.