
"hyung, apa kau gugup?" tanya Mingyu pada Jaehyun,
"entah lah, ku rasa sedikit gugup iya" sahut Jaehyun.
"setiap orang jika mau menikah itu selalu gugup Gyu, tidak ada yang gugup" timpal Taehyung, Taehyung bangkit dari duduk nya dan berdiri di samping Jaehyun
"aku juga penasaran, bagaimana rasanya gugup ketika akan mengucapkan janji suci begini, hahah" ledek Taehyung,
"kalau begitu, segera lah menikah, tunggu apa lagi? usia mu dan Hyunia sudah cukup matang untuk membina rumah tangga, " sahut Jaehyun,
"jangan seperti Namjoon, yang baru sekarang memiliki kekasih, lalu nikah nya kapan" sindir Jaehyun dan di sertai gelak tawa Mingyu juga Taehyung.
"nee, kau kapan hyung? ku rasa Whein nuna sangat mengharapkan pernikahan kalian berdua" timpal Mingyu.
"entahlah, aku bahkan kepikiran ingin mengakhiri hubungan kami berdua dalam waktu dekat" ucapan Namjoon membuat ketiga pria tersebut membelalak kaget
"kau mau mengakhiri nya? cepat sekali" ujar Jaehyun,
"entah lah, aku merasa kami tidak memiliki kecocokkan satu sama lain" sahut Namjoon,
"ya itu benar juga sih, percuma juga jika nanti nya marahan terus, ujung ujung nya sakit hati sendiri" timpal Mingyu,
"sepertinya sebentar lagi akan di mulai, kajja kita bertiga duduk di kursi tamu di sana, " ajak Taehyung. mereka bertiga duduk di kursi tamu sebelah kanan,
para tamu pun sudah mulai mengisi tempat duduk yang tersedia, Hyunia, Misya dan Whein segera menduduk kan diri.
Whein duduk di sebelah Namjoon, namun Namjoon seperti sedang mencari seseorang.
"hyung, kau mencari siapa?" tanya Taehyung, ia heran melihat Namjoon yang celingak celinguk.
"nee, bukankah kau tak bisa mengenali wajah orang lain," timpal Whein,
"ani, sudah lah lupakan saja" Namjoon menghela nafas pelan.
tak lama kemudian, mempelai wanita masuk ke dalam ruangan. Jaehyun tak berkedip melihat Hanah berjalan anggun, di samping kirinya ada Wery yang menggandeng tangan Hanah, dan di sisi kanan ada ayah Hanah,
"Taehyung-ah, itu Wery-ssi ya yang di samping kiri?" tanya Namjoon, mendengar hal itu sontak membuat Taehyung dan Whein kaget.
"hyung bisa mengenal wajahnya?" tanya Taehyung memastikan,
"nee, aku sangat kenal sekali wajah nya," shaut Namjoon santai,
"lalu, apakah kau sudah sembuh? dan bisa kah kau mengenali wajah ku?" tanya Whein penuh harap.
"maaf, tapi aku hanya mengenali wajah Wery-ssi saja, aku tidak kenal wajah mu" ucapan Namjoon membuat hati Whein memanas.
"kenapa harus Wery-ssi? kenapa bukan aku? seharusnya kau mengenali wajah ku bukan dia, aku kekasih mu Namjoon-ah" tegas Whein, ia memalingkan wajahnya ke tempat lain, Namjoon hanya mengedik kan bahu mendengar perkataan Whein.
-
-
-
-
-
setelah acara selesai, Whein langsung meminta Namjoon mengantar nya pulang. ia benar benar sakit hati, selama acara berlangsung, Namjoon tak mengalihkan pandangan nya dari Wery, padahal Whein berada di sebelah Namjoon.
"Whein-ssi" Namjoon akhirnya bersuara setelah mereka berdua cukup lama terdiam
"hm" hanya deheman yang menyapa telinga Namjoon.
"ku rasa aku ingin kita berhenti sekarang" ucapan Namjoon membuat Whein langsung menoleh ke arah nya.
"kenapa? bukan kah selama ini kita baik baik saja?" tanya Whein,
"jadi menurut mu selama ini aku membuat mu terpaksa mencintai ku begitu? bukankah kau sadar sekarang kau juga menyakiti hati ku" ujar Whein,
"aku tahu, aku minta maaf, itu sebab nya aku mengatakan sekarang, aku tidak mau menyakiti mu lebih jauh, ku mohon mengerti lah" sahut Namjoon, Whein tersenyum hanbar.
"apa ini karena Wery-ssi,? cih, sejak awal aku memang menduga nya,"cibir Whein" ah ataukah kau sengaja menjadikan ku pelampiasan agar menyakiti hati Wery-ssi? kau menyedih kan," Namjoon menghentikan mobil di depan rumah Whein,
"kau tidak tahu apa pun, terserah apa anggapan mu, kita sudah sampai" sahut Namjoon dingin, dengan wajah tertekuk Whein keluar dan segera masuk ke dalam rumah.
"arghh..." Namjoon memukul pelan stir mobil nya dan berlalu.
-
-
-
-
-
Wery mengetuk ngetuk kan ujung heels nya pada tanah dengan pelan, ia sedang menunggu bus di halte.
tadi Misya dan Mingyu menawarkan pulang bersama, tapi ia harus pergi ke toko buku sebentar membeli buku yang Misya ceritkan padanya dulu.
tin...tin...tin
klakson mobil di depan nya mengejut kan Wery, ia segera mendongak dan melihat siapa pelakunya.
"saj..." ucapan Wery terhenti kala Namjoon tiba tiba saja memeluk erat tubuh nya, jantung nya berdetak sama cepat nya dengan milik Wery. Wery diam dan tak membalas pelukan Namjoon,
"ada apa?" tanya Wery pelan,
kaget? tentu saja ia kaget, Namjoon datang tiba tiba dan memeluknya begini.
"sepertinya aku nyaman bersama mu" Namjoon melepas pelukannya dan menatap kedalam mata Wery.
"nee? aku tak..." lagi lagi, belum selesai ucapan nya, Namjoon langsung memeluk nya.
"apa kau masih menyukai ku?" tanya Namjoon,
"tentu saja, bahkan aku mencintai mu" jawab Wery,
"aku juga" ujar Namjoon,
"nee? Sajangnim, kau bicara apa?" tanya Wery,
"kau tahu, aku dulu saat kecil gemar mencari pelangi bahkan sanggup menunggu hingga hujan tiba, aku tidak tahu bahwa aku bisa membuat pelangi ku sendiri meski tak sebesar dan seindah yang di langit, tapi itu cukup membuat ku tersenyum senang" ujar Namjoon, ia masih tetap memeluk Wery,
"aku tak paham kemana arah bicara mu" lirih Wery,
"saat aku dewasa sekarang pun aku sering kali begitu, mencari kesenangan dengan hal hal besar, padahal bahagia itu sangat sederhana, aku hanya terlalu menyulit kan diriku" Wery mengerjap cepat, ia masih tak paham
"aku nyaman bersama mu dan menyangkal nya bahwa aku tak menyukai mu dan mencoba mencari kenyamanan dengan orang lain dna ternyata aku tak menemukan itu semua" Namjoon melepas pelukan nya dan meneliti setiap inci wajah Wery,
"aku juga menyukai mu dan bahkan aku sudah masuk fase mencintai mu. aku ingin kau membantu ku mencari kebahagiaan yang di maksud Min Sun, jangan pergi dan tetap tinggal" Namjoon mengelus lembut wajah Wery,
"maksud mu..." Wery menelan salivanya susah" kau membalas perasaan ku" bukan pertanyaan namun pernyataan yang Wery ucapkan
"nee, maukah?" Namjoon mengenggam lembut jemari Wery,
Senyum cerah terbit di wajah Wery, ia pun mengangguk cepat.
melihat hal itu, Namjoon kembali memeluk Wery erat dan mengucapkan kata cinta berulang kali seolah ia tak akan pernah bosan mengatakan hal itu.