
Namjoon terbangun dan terlonjak heran.
dimana ini? kenapa lusuh sekali?
Namjoon pun segera tersadar, semalam ia bermalam dirumah Wery karena hujan yang tak kunjung reda.
Namjoon mencium aroma masakan masuk ke penciumannya, ia mengendus bau yang tak asing baginya, ia pernah mencium aroma ini dulu sekali.
sup rumput laut.
Dulu Min Sun gemar sekali memasak sup rumput laut
Namjoon segera bergegas menuju dapur, ia melihat seorang gadis yang berkutat dengan masakan nya, Menyadari ada orang lain, sang Gadis pun membalik dan tersenyum tipis
"Sajangnim, anda sudah bangun? ah, saya sudah memasak silahkan tunggu, sebentar lagi masakan nya matang" ujar Wery, ia kembali sibuk pada sup rumput lautnya, sedangkan Namjoon duduk diam menunggu di meja makan, di benak nya berputar berbagai macam pikiran tentang Wery.
Wery meletakkan masakan nya di atas meja dan mengambil sesendok sayur sup rumput laut kedalam mangkuk nya dan juga Namjoon.
"kau gemar memasak sup rumput laut?" tanya Namjoon, ia memasukkan sesuap sup kedalam mulutnya.
"nee, karena masakan ini yang paling saya kuasai" sahut Wery, Namjoon mengangguk anggukkan kepalanya.
"aku..." Namjoon menghentikan makannya dan menatap wajah Wery" tidak asing dengan rasa sup ini, ini masakan Min Sun, kau belajar memasak darimana?" tanya Namjoon,
"Sajangnim, bukankah jika rasa sebuah masakan bisa saja sama, dan sekarang sup rumput lautkan memang masakan yang banyak digemari" sahut Wery,
"ani, aku sering merasakan sup rumput laut, dan ini berbeda. kau memasukkan perasan jeruk kedalamnya hingga rasanya sedikit asam, darimana kau belajar memasak ini?" Namjoon semakin mendesak Wery,
Wery terkesiap. Namjoon bahkan seteliti itu pada rasa masakannya. tidak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya
"Sajangnim, ini resep ibu saya, saya belajar darinya" jawab Wery, ia menunduk tak berani menatap wajah Namjoon.
"siapa nama ibumu?" Wery mendongak dan menaikkan alisnya sebelah.
"Park Sooki" sahut Wery "kenapa Sajangnim begitu penasarannya dengan saya?" tanya Wery,
"lupakan, saya harus pergi. Terimakasih sarapannya" saat Namjoon hendak pergi, Wery menahan pergelangan pria tersebut.
"apa anda akan menghadiri acara pembukaan Butik Whein-ssi?" pertanyaan Wery membuat Namjoon mengerutkan keningnya,
"ah, maksud saya, apa anda sudah tahu?..." Wery melihat cekalannya pada tangan Namjoon segera melepasnya "jeosonghamnida" Wery mengapit lidahnya diantara giginya,
Namjoon menghela nafas malas dan melengang pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata.
setelah memastikan Namjoon benar benar pergi, Wery mengusap wajahnya kasar.
"aku harus menjaga sikapku jika berada didekat pria ini" gumam Wery.
***************
Whein tersenyum cerah melihat Namjoon berjalan masuk kedalam Butiknya, ia merapikan rambutnya sedikit dan menghampiri Namjoon.
"kau datangnya juga, ku kira kau tak datang tadi"ujar Whein, ia tersenyum manis
Namjoon menyipitkan matanya.
"nee, tentu saja aku datang, ramai juga tamu mu" sahut Namjoon ia mengedarkan pandangannya.
"nee, Wery-ssi juga datang, ia datang bersama teman ku, Min Yoongi. mereka disana" Whein menunjuk ke arah Yoongi dan Wery yang sedang melihat salah satu baju dengan desain unik.
Namjoon mengerutkan dahi dan menyipit kan matanya, sia sia ia tak bisa mengenali gadis disana.
tak sengaja, Yoongi melihat keberadaan Namjoon segera menarik Wery dan menghampiri Namjoon dan Whein.
"hai tuan Kim, bagaimana kabarmu? " Yoongi tersenyum kecut.
"baik" sahut Namjoon singkat, Yoongi menaikkan alis dan tersenyum simpul
Namjoon menatap presensi Wery, ada sedikit rasa kesal melihat Wery bersama dengan Yoongi, entahlah. tapi ia sangat tidak ingin melihat karyawan nya berhubungan dengan pria Min ini, hanya itu saja.
"tentu saja," ucapan Namjoon membuat kedua wanita di hadapannya itu mengeluarkan ekspresi yang berbeda.
Wery membelalak mendengar penuturan Namjoon. apa itu berarti ia juga akan membalas perasaan Whein? ia menatap Namjoon dan Whein bergantian.
Whein tersenyum senang mendengar jawaban Namjoon, tak sia sia perjuangan nya selama ini.
-
-
-
-
-
Yoongi melajukan mobilnya membelah jalanan Seoul, sedangkan Wery diam sibuk dengan pikirannya.
Namjoon juga menyukai Whein?
dari perkataannya tadi sepertinya iya. apa salah jika aku juga menaruh sedikit harapan pada pria Kim itu?
Wery tak tahu sejak kapan ia mulai menaruh perasaan pada Namjoon,
hari pertama bertemu?
hari kedua? ketiga? bahkan hingga sekarang?
apa karena sifat datar dan dinginnya?
Tidak. Wery menyukai Namjoon karena Namjoon adalah Namjoon.ia menyukai apapun dari pria itu kini, walaupun dulu amat sangat membenci Namjoon.
"Wery-ssi?" pertanyaan Yoongi membuat Wery sontak menoleh ke arahnya.
"hm?" sahut Wery,
"kau melamun, ada apa?" tanya Yoongi, ia menurunkan kecepatan mobilnya.
"ani, aku hanya sedikit lelah saja" elak Wery, tidak mungkin jika ia bilang ia sedikit kesal dengan jawaban Namjon tadi.
Hening.
Yoongi tampak terdiam, sesekali terdengar helaan nafas berat.
"Wery-ah,..." panggil Yoongi,
"hm?" sahut Wery
"jika aku mengatakan aku menyukai mu sekarang, apa kau mau mendengarnya?" ucapan Yoongi membuat Wery berkedip cepat
"maksud anda?" tanya Wery.
"apa kau akan menerima jika aku memang menyukai mu?" bukan nya menjawab, Yoongi bertanya balik.
"eng...aku tidak bisa" Wery menunduk kan kepalanya dan memainkan jemarinya
"apa itu berarti aku di tolak?" Yoongi tertawa hambar, ia tak percaya pada apa yang didengar nya barusan.
"jeosonghamnida, tapi sudah ada orang lain, aku takut menyakiti hati mu" lirih Wery, mendengar hal itu Yoongi tersenyum kecut.
"setidaknya kita bisa berteman bukan" bukan pertanyaan melain permintaan yang dimaksud Yoongi,
Wery menoleh cepat dan mengangguk.