
dengan langkah malas Wery masuk ke dalam villa tersebut.
alasan macam apa itu?
saya tidak menyukai penginapan bernama Hotel itu
lalu, ia akan menginap di villa terus menerus setiap kali berpergian, bagaimana jika tidak ada penginapan selain hotel?
sudah sombong, penyakitan, aneh pula,
Wery menggerutu dalam hati, sumpah serapah sudah ia rapal kan.
dengan wajah masam ia duduk di sofa ruang tengah, mengambil remote dan menghidup kan televisi, mengatur volume full.
"yak, apa yang anda lakukan? ingin merusak gendang telinga saya dengan volume full begitu?" tanya Namjoon, ia baru saja keluar dari dapur mengambil air minum.
"tidak, saya hanya sedang menonton" sahut Wery ketus.
"nada bicara macam apa itu barusan? anda menantang saya?" Namjoon memasuk kan sebelah tangan nya ke dalam saku celana nya
"apa terdengar seperti itu Sajangnim?" Wery menoleh ke arah Namjoon.
"haish, menghabis kan waktu saya saja" Namjoon berlalu menuju ke dalam kamar.
Wery meniru gaya ucapan Namjoon tadi di sertai gerakan mulut yang menyebal kan.
"hish, atasan tak tahu diri" Wery menggerutu.
drtt...drtt..drtt...
dering ponsel nya membuat ia menghela nafas pelan.
"nee, Misya, ada apa?" tanya Wery
"eonnie, akhir minggu ini ke rumah ku ya" ujar Misya, terdengar ia seperti bersemangat sekali.
"ada apa memang nya? kau meraya kan kelulusan mu? cepat sekali" tanya Wery
"ani, bukan itu, ish eonnie memang selalu begini, sok tahu sekali" gerutu Misya
"yak, kan eonnie hanya menebak" sahut Wery
"ya, tapi sebaik nya eonnie hilang kan saja hobi menebak mu itu, eonnie. kau tak pernah benar" pungkir Misya
"siapa bilang? eonnie selalu benar" ujar Wery lagi.
"ya, betul sekali ya eonnie, tempo hari siapa yang menebak sangaaat salah, kemudian bersikap sok sekali, seolah olah ia adalah orang yang paling benar di dunia" tukas Misya membuat Wery nyengir
"nee, maaf kan eonnie, jadi apa yang ingin kau bicara kan?" tanya Wery
"hm, aku akan bertunangan eonnie" sahut Misya
"omo, cepat sekali" tanpa sadar Wery berucap cukup keras.
"BERISIK" suara teriakan berasal dari dalam
kamar membuat Wery tersentak.
"NEE SAJANGNIM" balas Wery tak kalah keras nya, ia terkekeh pelan.
"eonnie, bisa tidak eonnie bicara pelan pelan? aku menggunakan headset dan suara eonnie hampir memecah kan gendang telinga ku" Misya bahkan sempat mengumpat tadi.
"hehe, mian, tadi atasan eonnie berteriak, jadi eonnie balas teriak juga" sahut Wery
"atasan? bagaimana bisa eonnie bersama nya jam segini? kalian kerja lembur?" tanya Misya
"begitu rupanya, hm. seperti nya eonnie pasti kelelahan, aku akan memati kan telepon nya nee, " ujar Misya
"nee, semoga mimpi indah" balas Wery
"aku belum mau tidur eonnie, " sahut Misya di seberang sana
"oh, kalau begitu eonnie mengucap kan sekarang, karena nanti eonnie tidak akan menelpon mu jika kau hendak tidur" ujar Wery.
"nee eonnie, eonnie juga, selamat malam"
"nee" Wery meletak kan ponsel nya di atas meja setelah Misya memutus kan sambungan nya.
"oh jadi anda sudah berani berteriak pada saya nona Park?" ucapan tajam Namjoon mengejut kan Wery, gadis itu sontak membalik kan tubuhnya.
"S-Sajangnim, eng, maksud saya bukan begitu, tadi, tadi saya, itu, em... begini, saya tidak bermaksud berteriak pada anda, hanya itu saja" Wery tertawa hambar,
"lalu apa tadi itu 'Nee Sajangnim' " Namjoon meniru kan suara Wery ketika berteriak.
"ah, itu saya reflek Sajangnim, tidak ada maksud lain" Sahut Wery,
"haish, sudah lah, sebaik nya anda membersih kan tubuh lengket anda itu, anda membuat saya ingin muntah" ujar Namjoon.
"nee Sajangnim, tapi di mana kamar saya?" tanya Wery, ia meraih tas tangan nya di atas sofa,
"kamar anda? kamar di sini hanya satu" Namjoon berucap santai dan duduk di atas sofa.
"nee? hanya satu? lalu saya tidur di mana?" tanya Wery, ia mengerut kan dahi nya.
"satu kamar" Lagi lagi Namjoon berucap santai, lain hal nya dengan Wery yang mengenggam tas nya erat saking takut nya.
"nee? anda pasti bercanda, " Wery menelan saliva nya.
"kapan saya pernah bercanda dengan ucapan saya?" tanya Namjoon tajam
"eng, kalau begitu saya tidur di sini saja nanti" ujar Wery kaku
"terserah" Namjoon menekan nekan remote mencari siaran yang cocok dengan nya.
*******************
flashback
sudah dua hari ini aku mencari kemana Min Sun, tapi ia tak pernah muncul, bahkan saat di sekolah pun aku tak menemu kan nya,
sekelebat bayangan bahwa ia pergi meninggal kan ku, muncul di benak ku,
aku menangis dalam diam, aku tidak siap jika pergi meninggal kan ku.
aku tak siap berpisah dengan nya,
aku menyayangi nya,
aku berjalan gontai menuju pantai yang biasa kami kunjungi kala hari menjelang malam, menikmati sang surya yang memberi salam perpisahan bahwa hari ini berakhir dengan meninggal kan kesan yang indah, memberi kan senja sebagai penutup hari dan memperingat kan semua makhluk bahwa ia sudah berganti sift dengan Sang Bulan.
angin laut menerpa wajah ku, membuai ku dengan sejuk nya hawa mereka yang seakan menyuruh ku berbaring sekarang.
bulir bulir yang menetes di pipi ku bergetar di terpa angin, aku memejam kan mata ku,
aku merindu kan Min Sun, merindu kan sosok nya,
"MIN SUN-AH, BOGOSHIPEOYO"
aku berteriak semampu yang ku bisa, berharap mengangkat beban kerinduan di pundak ku.