
Setelah 3 hari berada di Paris, Wery dan Namjoon akhirnya kembali ke Korea. Tidak ada hal yang istimewa terjadi antara keduanya selain pengakuan diri Wery terhadap persaan nya pada Namjoon, dan seperti yang pria itu katakan, ia tidak akan membalas perasaan Wery.
Tentu saja Wery menerima jawaban Namjoon dengan berbesar hati.
Asal Namjoon kembali menemukan kebahagiaannya meskipun tak bersama Wery, itu tak masalah. Wery mengemas baju baju nya, sedangkan Namjoon, entahlah orang kaya selalu ada jalan asal ada uang. sekarang tak berkemas, nanti tiba tiba saja sudah ada di dalam mobil. nyaman sekali punya hidup seperti itu.
drrtt...drrtt...drrt...
ponsel Namjoon yang diatas meja di samping tempat tidur, Wery mengedarkan pandangannya. Kemana Namjoon? Wery menghentikan kegiatannya dan meraih ponsel tersebut.
Jung Whein.
satu nama yang membuat hati Wery sedikit perih, tapi ia harus sadar diri, bukankah ia tidak akan mengharapkan apapun dari Namjoon, meski tidak semudah yang ia bayangkan.
Wery tersenyum masam dan mengalihkan pandangan ke arah pintu. Meski ia pihak yang tersakiti disini, tapi ia harus bersikap dewasa.
"Sajangnim!!, ponsel mu berbunyi" panggil Wery, tak ada jawaban.
"Sajagnim, ada yang menelpon!!!" masih tak ada jawaban.
"haish, benar benar...SAJANGNIM, JUNG WHEIN-SSI MENELEPON MU!!!!" kali ini bukan hanya panggilan, namun teriakan yang keluar dari mulut Wery, tapi tetap tak ada jawaban.
"kemana dia?" monolog Wery, ia pun segera melangkahkan kakinya keluar kamar, ia melihat Namjoon berdiri dibalkon.
"Sajangnim, kenap..."
"bisakah kau tak membahas Whein disini?" ucapan Namjoon membuat Wery terheran.
"memangnya kenapa? dia kan kekasih mu, sudah sewajarnya jika anda membahasnya" sahut Wery,
"sudahlah, kajja kita berangkat, pesawat take off 30 menit lagi, aku tidak mau menunggu penerbangan besok pagi" Namjoon memasang mantel nya dan berjalan meninggalkan Wery.
"aneh sekali" gumam Wery.
-
-
-
-
-
-
Bandara Incheon
"Wery-ya" seorang gadis melambaikan tangannya pada Wery,
"Hanah-ya, mengapa menjemput ku?" tanya Wery, ia menatap bergantian pada Jaehyun dan Hanah.
"ah. aku hanya ingin ikut Jaehyun saja dan ada beberapa hal yang ingin kami sampaikan pada kalian berdua" sahut Hanah,
"kami? berdua?" Wery mengarahkan telunjuk pada dadanya dan pada Namjoon dari jarak jauh," memangnya ada apa?" tanya Wery.
"sudahlah kalian akan tahu nanti, bagaimana jika kita makan malam sebentar, ini sudah pukul 18.47, jadi pas untuk makan malam" ajak Jaehyun dan di angguki oleh Hanah,
"kalian bertiga saja, aku tidak bisa" ujar Namjoon,
"kenapa? ayolah, lagipula sudah lama aku tak makan malam bersama mu lagi" sahut Jaehyun,
"ani..."
"CHAGIYA..." panggilan seseorang menghentikan penuturan Namjoon, dengan sedikit malas Namjoon menoleh ke sumber suara.
"Whein-ah, kenapa kau kesini?" tanya Namjoon, bukannya menjawab perempuan itu menggandeng lengan Namjoon.
"menjemput mu" sahut Whein, ia menyadari ada 3 sosok lain didepannya" wah, kalian seperti nya akan pergi ke suatu tempat" tebak Whein,
"kami akan makan malam bersama Whein-ssi," sahut Hanah,
Namjoon memutar bola matanya malas.
sedangkan Wery diam dan sekaligus geram dengan perlakuan Whein, perempuan ini sekarang menjadi menyebalkan dimata Wery.
"ya, ayo" jawaban Namjoon membuat semua orang mengangguk senang, terkecuali Wery.
-
-
-
-
-
tuk...
suara gelas yang dihempaskan secara kasar keatas meja
"ahhh..." rasa pahit dan menyengat menyentuh tenggorokan Wery, namun ia tak berhenti, ia menuangkan lagi isi botol alkohol tersebut hingga beberapa terpaksa keluar dari gelas karena terlalu penuh.
"Wery-ah, kau sudah terlalu banyak minum, berhentilah" tegur Hanah, ia menoleh sekejap pada Jaehyun lalu memegang kedua bahu Wery.
bukannya berhenti meneguk habis isi gelas"ahh..."Wery mengelap bibirnya nya dengan punggung tangannya, ia menatap Hanah dengan tatapan sendu dan terkekeh tak jelas.
"kau...Sebentar lagi, akan menikah dengan Jaehyun, senang sekali ya jika aku punya hidup seperti itu" Wery tekekeh di sela racauannya.
"Nona Park, sebaiknya anda pulang saja, saya dan Hanah akan mengantar mu"ujar Jaehyun
"nee, kau sudah mabuk" timpal Hanah,
Hanah hendak membantu Wery berdiri namun tangannya ditahan seseorang,
"biar aku saja yang mengantarnya" ucap orang tersebut
"cepat sekali kau mengantar Nona Jung pulang, kau ngebut ya" tebak Jaehyun,
"haish, bukan urusan mu" Namjoon memapah Wery dan mengiringnya keluar.
"ck, tidak bisa minum, masih saja memaksakan diri" gerutu Namjoon, ia membuka pintu mobil dan menuntun agar Wery duduk dengan benar.
"merepotkan sekali" Namjoon memasang sabuk pada tubuh Wery, sedangkan gadis itu hanya bergumam tak jelas.
-
-
-
-
sepanjang perjalanan Wery terus menerus meracau tak jelas, membuat Namjoon sakit kepala.
"haish, kau bisa diam tidak?" tegas Namjoon,
"aku?...aku, tidak bisa, aku ingin bertanya padamu" Wery menunjuk nunjuk wajah Namjoon dari samping "mengapa kau malah memilih Whein-ssi? kau tahu, eonnie sudah menyuruh ku agar membuatmu jatuh cinta padaku," Wery tertawa hambar, namun sedetik kemudian ia terisak"tapi aku gagal Namjoon-ah, aku gagal. jangankan membuat mu jatuh cinta, membuat mu melirik ku saja aku tak bisa, hiks..." Wery menyadarkan punggungnya, "Min Sun eonnie, akan sedih melihat ini, hiks...eonnie, hiks..." mendengar nama Min Sun disebut, Namjoon sontak menghentikan mobilnya, ia menatap tajam ke arah Wery.
"apa hubungan mu dan Min Sun? kau mengenalnya?" Nada suara Namjoon tajam dan dingin, membuat Wery tersentak.
"Min Sun eonnie? dia kakak angkat ku!! kau tega Namjoon-ssi, saat ia menghilang mengapa kau tak mencarinya?!! jika sekarang kau hendak mencarinya kau akan sia sia, tapi aku tahu dimana ia berada sekarang" Wery berujar sepenuhnya diluar kendalinya, ia tertawa hambar di tengah tengah kalimatnya
"dimana dia sekarang? kenapa kau tak memberitahu ku ha!!" bentak Namjoon, ia benar benar emosi sekarang
"untuk apa aku memberitahu pria yang sekarang bersenang senang dengan wanita lain, kau...kau..." Wery tak sempat menyelsaikan kalimatnya, pusing dikepalanya semakin menjadi hingga membawanya ke alam mimpi.
Namjoon menatap heran dan emosi bersamaan melihat Wery yang tertidur seenaknya saja, jika ia tak megingat gadis ini sedang mabuk, sudah Namjoon tanya bertubi tubi.
"haish...apa hubungan mereka sebenarnya" monolog Namjoon, ia memutar balikkan arah menuju tempat lain.