
Hyunia dengan malas memeriksa data pasien nya hari ini, entah mengapa ia sangat lesu sekali hanya sekedar untuk memeriksa data tersebut,
Taehyung dari tadi pagi belum menghubungi nya menambah kurang nya gairah hidup nya hari ini.
kemana pria Kim itu?
drtt...drt...drrt...
Hyunia mengangkat telepon tersebut dengan malas setelah tahu siapa si penelpon.
"tolong periksa pasien di ruangan 109, saya harus ke ruangan operasi sekarang" perintah seseorang di seberang sana.
"ya, saya ke sana sekarang" sahut Hyunia, ia memati kan telepon dan memakai kembali jas dokter nya.
alih alih ia mengira Taehyung yang menelpon, ternyata direktur rumah sakit ini.
**************
Wery dan Namjoon masuk ke salah satu butik mewah, ternyata Namjoon tak main main dengan ucapan nya semalam.
"woah, Sajangnim, anda akan membeli pakaian juga?" tanya Wery
"anda kira saya ini apa? banci?" ketus Namjoon, ia menatap Wery malas.
"ani, tentu saja anda pria sejati"
huek, serasa ingin muntah saja' Wery tersenyum di paksa kan
"saya harap anda bisa membaca Nona Park" Namjoon menunjuk papan di atas pintu masuk.
Women's specialty boutique
Wery nyengir, seorang pelayan wanita tersenyum ramah, ia tampak terpesona pada Namjoon.
"carikan pakaian kantoran dan baju biasa untuk nya dan sedikit rias wajah nya" ujar Namjoon datar,
"nee, apakah anda hobi menguna kan Hodie Nona?" tanya wanita tersebut,
"nee?" Wery menatap heran pada wanita itu dan menatap sejenak pada Namjoon, tampak pria itu sibuk dengan ponsel nya.
Wery menggeleng pelan.
"saya kira anda pencinta Hodie" senyum geli terbit di bibir wanita itu kala menelisik penampilan Wery.
Wery mengikuti arah pandangan pelayan tersebut,
Wery memaling kan wajah nya ke arah lain, jangan salah kan ia, salah CEO tak berhati di samping nya ini.
"bisa kah kalian berdua tidak bertele tele begitu? saya akan terlambat pertemuan dengan klien saya" ketus Namjoon, membuat pelayan tersebut gelagapan, jangan salah kan Wery juga, siapa suruh pelayan ini menilai penampilan nya.
"ah, maaf, mari Nona" sahut Pelayan tersebut dan di ikuti oleh Wery, mereka menuju ke salah satu ruangan.
15 menit kemudian
Wery keluar dengan baju ala kantoran yang lebih feminim. jika biasa nya ia hanya memakai celana berbahan kain licin hitam panjang dan baju kemeja kebesaran di lapis blazer bergaris dan rambut di ikat hingga seperti hampir mencabut semua anak rambut nya, kini penampilan jauh berbeda.
Wery memakai rok span hitam yang tak terlalu ketat sedikit di atas lutut, baju kemeja cream berukuran sedang yang pas di tubuh nya dengan ujung baju bagian bawah dan masuk dalam.
rambut nya di biar kan di tergerai menggantung di punggung nya.
Namjoon mengalih kan pandangan dari ponsel nya dan menatap Wery lamat.
Namjoon berdiri dan mendekat ke arah Wery.
"hm, kurang satu"ucapan Namjoon membuat Wery dan pelayan yang merias nya mengerut kan kening,
"saya rasa Nona ini sudah sempurna" ujar pelayan tersebut di angguki oleh Wery
Namjoon mengedar kan pandangan nya ke sekililing, dan manik nya tertuju pada sebuah kalung berbuah ikan lumba lumba bergelung, Ia mengambil kalung tersebut dan memasang kan nya pada leher Wery.
"perfect" ucapan Namjoon membuat Wery sedikit tersipu, meskipun Namjoon tak bisa mengenal wajah nya, namun tetap saja ia merasa sedikit tersanjung mendengar perkataan tersebut
****************
Mingyu dan Misya sedang makan di sebuah restoran kala mereka pulang dari sekolah
"setelah ini apa mau berjalan jalan?" tanya Mingyu di sela makan nya,
"hm, ku rasa tidak, bukan kah kau sibuk" sahut Misya
Mingyu menghenti kan makan nya, dan menatap Misya dengan tatapan sulit di arti kan.
menyadari hal itu, Misya pun menghenti kan kegiatan nya dan membalas tatapan Mingyu.
"wae?" tanya Misya, ia menaik kannsebelah alis nya
"apa kau bosan dengan cara kisah kita yang seperti ini? beritahu aku supaya aku menemukan cara lain mencintai mu, dan bisa membuat kita berbunga bunga. jika kamu merasa jenuh dengan keseharian kita yang tak kemana mana, tolong sampai kan pada ku, jangan menunggu nanti dan mencari pelampiasan yang melukai hati, aku bersama mu karena aku yakin kita bisa berkerja sama dengan baik dalam membangun kisah ini, di mana kita tak memerlu kan sosok lain sebagai pemeran pengganti, saat salah satu dari kita merasa lelah, cukup kita saja, aku dan kamu, tanpa siapa siapa, bagaimana? apa kau bersedia? " ujar Mingyu,
Misya kehabisan kata kata mendengar penuturan Mingyu, ia hanya bisa mengangguk dan tersenyum manis menanggapi ucapan Mingyu.