WILL YOU MARRY ME?

WILL YOU MARRY ME?
Part 9


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=🌵🌵🌵


Tak terbayang ...


Saat oasis telah aku temukan ...


Di tengah gurun ...


Padang pasir yang gersang ...


Berlari ... aku menghampirinya ...


Kuharap ...


Semua ini bukan fatamorgana ...


Yang hilang ... lenyap begitu saja ...


🌵🌵🌵


---------------------------------------------------------------------


Astaga! Pagi ini, badanku tetasa remuk redam. Semalaman kami berurusan dengan mafia-mafia gila di tempat perjudian itu.


Aku benar-benar tak habis pikir. Bagaimana bisa aku berurusan dengan orang-orang kaya tak berotak yang ada di tempat menyeramkan itu?


--------


Aku berjalan menaiki anak tangga. Aku bawa sebaskom air hangat ke kamar Mas Dirga.


"Pagi," sapaku.


"He'em," sahutnya.


Dibukanya kemaja yang menempel di tubuhnya.


Ya, Tuhan! Lebam-lebam nampak di sekujur punggung dan perutnya. Aku jadi merasa ngilu mengingat saat dia ditendangi para premen-preman gila itu kemarin.


"Sakit banget, ya?" tanyaku, sembari mengompreskan handuk hangat ke tubuhnya yang memar.


"Sakit, sih! Tapi untunglah, mereka nggak memukuli wajahku. Ketampananku ini, kan modal utama," candanya.


"Jangan bercanda!" Telapak tanganku pun mendarat di lengannya.


"Aduh ... duh ...! Kok kamu mukul, sih? Sakit tahu!" rengeknya.


"Dasar!" gerutuku.


Mas Dirga nyengir saja melihat muka kesalku.


"Aku penasaran, bagaimana Mas Dirga punya kartu akses untuk masuk ke VVIP STORE?" tanyaku, sambil terus mengompres memarnya.


"Semua orang ternama di kota ini punya."


"Kok gitu?"


"VVIP STORE memberi kami gratis. Mungkin mereka berharap kami akan menghabiskan uang kami di tempat itu," katanya, menjelaskan.


"Kok Karina nggak punya?"


"Kartu akses itu hanya untuk laki-laki. Wanita yang masuk ke dalam sana hanya akan dianggap Lady Escort," jawab Mas Dirga. "Aku nggak nyangka kalau kartu yang aku dapat itu akhirnya ada gunanya juga."


"Maksudnya, Mas Dirga belum pernah ke tempat itu sebelumnya?"


"Tentu saja!" sahutnya. "Mana mungkin aku datang ke tempat seperti itu? Yang benar saja!"


Mas Dirga nampak mengerucutkan ujung bibirnya menahan kesal.


"Tapi kamu cukup mahir bermanin kartu. Aku kira udah sering datang," kataku.


"Ah! Kalau kartu, sih aku sering memainkannya di game komputer, kalau aku lagi senggang," jawabnya. "Lagian, otakku ini kelewat encer untuk sekedar melawan kakek-kakek tua maruk kayak dia."


Aku pun cekikikan mendengar ucapannya.


Mas Dirga merubah posisi duduknya dan menghadap padaku. Dipegangnya tanganku dengan tatapan sayu.


"Syukurlah, semua baik-baik saja," katanya.


"Jantungku hampir berhenti saat si br*ngs*k itu menodongkan pisau padamu. Jika waktu itu dia berbuat gila padamu, aku mungkin akan masuk ke penjara karena menghabisinya."


"Iish ... apaan, sih?! Aku, kan nggak apa-apaa," kataku.


"Berjanjilah padaku!" Digenggamnya kedua tanganku. "Kamu nggak akan lagi bertindak bodoh dengan mengantar dirimu ke dalam bahaya seperti kemarin! Jika ada situasi seperti itu lagi, kamu harus memberitahuku dulu! Kamu mengerti?"


"Iya. Aku janji."


Lagi-lagi seperti ini. Kenapa dia harus memberiku perhatian seperti ini? Bodoh sekali jika aku berpikir saat ini Mas Dirga sedang mengkhawatirkan istrinya.


Kenyataannya, saat ini dia hanya sedang mengkhawatirkan saudaranya.


------------------------


"Dirgaaa! Kamu nggak apa-apa, Nak?"


Tiba-tiba Tante Dessy menerobos pintu kamar dan menghambur ke sisi Mas Dirga.


"Aduh ... kamu lebam-lebam begini!" Ibu mertuaku itu nampak khawatir. "Papa, cepat hubungi dokter Rudy! Suruh dia cepat ke sini!"


"Aku nggak apa-apa, Ma," kata Mas Dirga.


"Nggak apa-apa gimana? Kamu lebam-lebam gini. Tulangmu? Bagaimana jika tulangmu ada yang patah?" Tante Dessy nampak histeris.


"Aku udah menjalani seluruh pemeriksaan di rumah sakit Jaya Medika. Mereka bilang aku nggak apa-apa. Hanya sedikit memar-memar saja," katanya.


"Sungguh? Kamu sungguh nggak merasa ada keanehan pada dirimu? Gegar otak mungkin?"


"Enggak, Mama ... percayalah! Aku baik-baik saja!"


"Kalian bisa keluar? Aku ingin bicara berdua dengan Dirga!"


------------


"Kamu sadar, kekacauan apa yang sudah kamu perbuat?" tanya Om Mahesa.


Mas Dirga hanya diam tanpa berani menatap mata ayahnya. Dia menyadari kalau sudah membuat masalah besar. Datang ke tempat terkutuk itu saja sudah merupakan masalah. Apalagi sampai membuat keributan di sana.


"Jika sampai media tahu, nilai saham kita pasti akan turun," lanjut Om Mahesa.


"Papa nggak perlu khawatir! Aku sudah menyuruh Sony untuk mengurus semuanya!"


Bayangkan seberapa kesalnya dia! Sudah lihat kondisi anaknya babak belur begitu, yang dipikirkan malah saham.


"Dirga!" Om Mahesa tiba-tiba mengelus lembut ujung kepala putranya itu.


"Papa?!" Mas Dirga nampak kaget. Tak biasanya seperti ini.


"Papa bangga padamu," kata Om Mahesa dengan sunggingan senyum di bibirnya.


"Ya ... setidaknya Papa yang dulu memaksamu untuk ikut bela diri akhirnya ada gunanya."


"Iya. Ini pertama kalinya aku mempraktekkannya!" Mas Dirga nampak tersenyum lega. "Papa nggak marah padaku?"


"Kenapa harus marah? Kamu sudah menjadi lelaki yang bertanggungjawab."


------------


Sementara itu, aku dan Tante Dessy menunggu dengan cemas di ruang tengah.


"Jangan memasang muka khawatir seperti itu, Sayang!" Tante Dessy seakan bisa membaca perasaanku. "Dirga itu anak kesayangan papanya. Nggak bakalan dimarahi, kok."


"Aku merasa bersalah. Aku telah membuat Mas Dirga terseret pada hal-hal berbahaya seperti ini." Aku merutuki diriku sendiri.


"Kenapa berpikir begitu?" Tante Dessy meraih tanganku. "Sudah jadi kewajibannya Dirga untuk melindungimu. Kamu harusnya bangga, dong!"


"Justru karena itulah aku semakin merasa bersalah."


Kutarik tanganku dari gemggaman ibu mertuaku itu.


"Mas Dirga terus saja menjalankan tanggung jawabnya padaku. Sedangkan aku? Bahkan mejalankan kewajibanku sebagai istri pun, aku nggak pernah. Aku malah selalu menyusahkannya."


Wanita 49 tahun itu menatap sayu padaku.


"Tante Dessy ... ah ... maksudku ... Mama ...!" lanjutku. "Mama harus tahu yang sebenarnya, tentang hubungan kami!"


"Baiklah, katakan!"


"Sebenarnya, selama ini aku dan Mas Dirga nggak pernah benar-benar menjadi pasangan suami-istri."


Aku menghela nafas panjang. Aku perlu banyak oksigen untuk mengisi paru-paruku yang terasa berat.


"Kami hidup bersama sebagai orang asing. Kemudian hidup sebagai teman. Dan akhirnya hidup sebagai saudara," kataku. "Kami nggak pernah saling mencintai."


Akhirnya aku mengucapkannya. Kata-kata yang selama ini tersangkut di tenggorokannku. Hingga aku sulit bernafas.


Kulempar pandanganku pada wanita cantik itu. Aneh sekali! Reaksi Tante Dessy begitu tenang. Dia nampak tak terkejut sama sekali dengan pengakuanku.


"Jika bukan karena permintaan orang tuaku yang menyerahkan aku pada keluarga Mahesa, Mas Dirga pasti akan hidup bahagia bersama orang yang bemar-benar dicintainya.


Dia tak harus merasa bertanggung jawab dan merasa terbebani olehku. Aku semakin merasa bersalah. Jika dia terus saja memberikan banyak kebaikan padaku."


"Rhesa." Tante Dessy membuka suara.


"Apakah kamu ingin bercerai ... dari Dirga?"


"Apa?!"


Lho! Kenapa aku harus terkejut dengan pertanyaan ini? Bukankah aku harusnya langsung meng-iya-kannya? Bukankah ini yang selama ini aku harapkan? Mengakhiri pernikahan ini, bukankah sama dengan mengangkat semua bebanku?


Tapi kenapa pertanyaan Tante Dessy membuat jantungku serasa diremas?


Rasanya begitu menyesakkan!


"Rhesa, aku akan menceritakan satu hal padamu," kata Tante Dessy. "Setelah kamu dengar cerita ini, kamu boleh memutuskan, kamu akan tetap melanjutkan pernikahan ini atau tetap ingin bercerai dari Dirga. Apapun keputusanmu nanti, kami nggak akan mencampurinya."


Beberapa kali kulihat Tante Dessy menghela nafas. Seperti sadang mengumpulkan keberanian untuk mengatakan apa yang ingin dia sampaikan padaku.


"Saat ibumu divonis dokter usianya tinggal beberapa bulan lagi, dia memintaku dan suamiku untuk mengadopsimu." Tante Dessy mulai bercerita.


"Tentu saja aku langsung menyetujuinya karena aku sangat ingin punya anak lagi. Kamu tahu? Sejak melahirkan Dirga, aku mengalami masalah dengan rahimku. Dokter bilang, aku nggak bisa hamil lagi."


Wajah Tante Dessy memperlihatkan guratan-guratan kesedihan yang tiba-tiba menyembul dari hatinya.


"Suamiku pun yang selalu ingin punya anak perempuan, sangat senang bisa mengadopsimu. Kami pun segera mengurus surat-surat untuk adopsi. Dan ketika kami akan mengesahkannya, tiba-tiba Dirga datang menemui kami, juga Erika."


Tante Dessy menyeruput kopinya yang mulai dingin. Dia nampak mulai ragu-ragu untuk melanjutkan ceritanya.


"Saat itu, Dirga memohon pada kami untuk menghentikan proses adopsimu. Ya, aku pikir Dirga nggak ingin kami membagi kasih sayang kami pada orang lain. Karena dia terbiasa dimanjakan dan hidup tanpa saudara selama ini. Kami terus berusaha meyakinkan Dirga bahwa kami akan bersikap adil pada kalian berdua. Dirga tetap saja bersikeras untuk menghentikan proses adopsinya.


Rhesa, kamu tahu apa yang Dirga katakan?"


Tante Dessy meraih tanganku dan menatap lekat padaku.


"Dirga bilang, dia tak ingin kamu menjadi adiknya, tak ingin kalian menjadi saudara.


Dia ingin ... kamu menjadi istrinya."


Aku terperanjat mendengar ucapan Tante Dessy. Seluruh isi dunia seakan runtuh di atas kepalaku, hingga aku tak bisa berpikir lagi.


"Rhesa, Dirga itu ... dia sangat mencintaimu.


Bukan sebagai orang asing. Atau pun sebagai saudara. Dia mencintaimu, Nak. Mencintaimu sebagai istrinya."


"A--apa yang Tante katakan? Jangan membuatku bingung, Tante!" Seluruh air mataku seakan sudah siap untuk tumpah.


"Rhesa, pernikahan ini bukan sebuah perjanjian keluarga. Pernikahan ini adalah ... permintaan Dirga."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=