
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
*๐Angin yang bertiup kencang ...
Saat bulan mencapai purnama ...
Di masa itulah ...
Matahari, bumi dan bulan ...
Saling berbenturan ...๐*
---------------------------------------------------------------------
"Siapa, sih yang datang? Liatin keluar, Ga! Papamu, kok lama banget bukain pintunya."
Atas perintah mama, aku pun berjalan ke pintu depan. Aku melihat papa yang masih berdiri di mulut pintu dengan seseorang di hadapannya.
"Tante Clara?!" pekikku.
Sungguh tak disangka-sangka. Seseorang yang paling tidak mungkin menginjakkan kaki di runah kami, saat ini justru berdiri menatapku dengan mata merah dan berair.
"Masuklah, Clara!" kata papa. "Kita akan membicarakannya di dalam."
"Papa, apa-apaan ini?"
"Diam!" sahutnya.
Sebuah tanda tanya yang bergelayut di benakku saat Tante Clara mengikuti langkah papa yang berjalan ke ruangan tempat mama berada.
"Rhesa, kita harus bicara!" kata papa.
"Ada apa, Mas? Siapa tadi yang ... Clara?!"
Aku sudah bisa menebak reaksi yang akan mama berikan ketika melihat Tante Clara muncul di depannya.
"Apa yang dilakukan wanita gila ini di sini?!" teriak mama.
"Rhes, kita bicara!" kata papa.
"Aku tanya, sedang apa dia di rumahku, hah?!" Teriakan mama semakin memekakkan telinga.
Papa diam, begitu pun Tante Clara. Dia terus menundukkan kepalanya tanpa berani membalas mata mama yang nampak berapi-api.
Namun, aku tak menyalahkan jika mama bersikap kasar seperti ini. Melihat seorang wanita yang membuat masa lalunya hancur, pasti tidaklah mudah.
"Suruh dia pergi dari sini, aku tak mau melihatnya!" teriak mama.
"Kita bicara dulu!" pinta papa dengan suara tenang.
"Enggak. Aku nggak sudi melihatnya. Suruh dia pergi, Mas Dirga! Cepat, suruh dia pergi!"
"Rhesa, tenang sebentar!" kata papa.
"Enggak ... enggak ... enggak! Dia harus angkat kaki dari sini, harus!"
"Rhesa, diam! Diam!" bentak papa. "Jika kamu tak bisa diam, kamu saja yang pergi dari sini!"
"Apa katamu?" Mata mama semakin berapi-api menatap dua orang di hadapannya itu. "Kamu menyuruhku pergi demi dia? Demi wanita sialan itu, hah?!"
"Makanya kamu diam dan dengarkan aku dulu!" Papa meremas kedua lengan mama. "Aku mohon, Rhesa tenangkan dirimu! Kita bicara dulu!"
Aku seakan bisa merasakan luka yang begitu dalam di hati wanita yang telah mengandungku itu. Sebuah luka yang susah payah dia obati, kini tersayat dan bertabur garam di atasnya. Perih yang teramat sangat, pasti itu yang dia rasakan saat ini.
Aku, mama dan juga papa, kami duduk berjejer mengamati wanita yang terus menundukkan kepalanya di hadapan kami itu.
"Aku sungguh tak ingin mengusik hidup kalian lagi. Aku bahkan tak pernah ingin ada kaitannya dengan keluarga ini. Rasanya memuakkan jika mengingat masa lalu."
"Akulah yang seharusnya bilang seperti itu, sialan!" geram mama, saat mendengar ucapan Tante Clara.
"Rhes, tenang!" Papa merangkulkan lengannya pada mama.
"Maaf, jika aku telah lancang datang ke sini," ucap Tante Clara dengan air mata yang mulai penuh di pelupuknya. "Akan tetapi, aku tak tahu lagi harus pergi ke mana. Aku ... kurasa, hanya kalian yang bisa menolongku saat ini."
Selembar kertas disodorkan tante Clara ke arahku.
"Apa ini, Tante?" tanyaku, seraya meraih kertas di atas meja itu.
Sebuah hasil tes laboratorium atas nama Luna. Kutelusuri setiap tulisan yang sebagian besar berisi istilah kedokteran itu.
"Leukemia III B? Luna?!" pekikku.
"Apa?!" Mama menyambar kertas itu dari tanganku. "Ya, Tuhan!"
Papa nampak mengangguk ketika mama melempar pandang padanya.
"Dirga, bisakah ... bisakah kalian membantuku untuk menyembuhkannya? Aku tak ingin kehilangan dia."
Dia menangis. Seorang ibu itu tengah menangis dan memohon demi putrinya. Demi seorang anak yang selama ini telah dicampakkannya.
***
Cahaya bulan kian redup saat menunggu pagi datang. Angin dingin mulai menyergap tubuhku yang terduduk tanpa tenaga di beranda kamar.
Entah sudah berapa jam, aku hanya diam sambil memandangi selembar kertas dari rumah sakit itu.
Aku ingin sedikit memejamkan mata, tapi tak bisa. Aku ingin tertidur sebentar dan bangun di pagi yang cerah. Aku ingin bangun dan menyadari bahwa semua ini hanya mimpi buruk saja.
Tapi mataku perih, begitu panas sampai tak bisa aku pejamkan. Aku semakin dan semakin takut kalau semua ini adalah kenyataan.
"Luna ... Luna ... Lunaaaaaaaaaa!"
Tumbuh menjadi dewasa benar-benar penuh dengan kepedihan. Berbagai rintangan sulit yang terus bertumpuk, hingga mengalirkan deras air mata. Aku sungguh merasa takut untuk menjadi dewasa.
--------------
---------------------
"Arga, sarapan dulu!" panggil mama. "Arga ... Argaaaaa! Mas ... Mas Dirgaaaaa!"
Aku bisa mendengar suara mama yang terus berteriak dan langkah kaki papa yang tengah berlari ke arahku.
-----------
"Kamu semalaman ada di luar kamar? Apa yang sudah kamu lakukan, hah?"
Aku hanya diam, tak merespon ucapan papa.
"Minum teh hangatnya!" kata mama. "Jangan seperti ini, Arga! Kamu membuat mama khawatir. Badanmu panas sekali. Kamu hampir pingsan tadi."
"Arga, kamu kepikiran soal Luna?" tanya papa.
"Papa, dia harus sembuh! Harus!"
Kedua orang tuaku itu hanya saling menatap dengan nanar. Tak sedikit pun mereka memberi harapan padaku, meski hanya sebuah harapan semu.
***
KAMPUS
Sebuah tempat yang selalu didatanginya saat dia ingin belajar tanpa ada yang mengganggu. Sebuah taman belakang kampus yang jarang didatangi oleh para mahasiswa lainnya, di sinilah dia selalu menyembunyikan keberadaannya.
Aku pandangi dia dari jauh. Dia yang duduk sambil membaca buku tebalnya dengan sebuah jus jambu merah ada di tangan kanannya.
Dia terlihat kurus dan kian kurus. Hatiku amat sangat nyeri saat menatapnya dari kejauhan. Dia yang terlihat ringkih dengan terus berpura-pura tegar.
--------------------
"Hoeeek ... hah ... hah ...!"
Aku bersandar di luar tembok toilet wanita, saat aku mengikutinya diam-diam.
Itu efek kemoterapinya. Sebuah rasa mual yang teramat menyiksa akan terus menyergapnya.
"Arga?"
Matanya terlihat dalam. Sebuah lingkaran hitam menghiasi wajah pucatnya.
"Kamu kecil sekali." Aku meraihnya ke dalam pelukanku.
"Arga? Apa yang---"
"Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Aku sangat dan sangat mencintaimu. Aku tak ingin kehilanganmu, Luna."
Aku merasa begitu hina sekarang, tapi aku tak peduli. Jika aku harus menyerahkan segalanya untuk menukar takdirku, akan aku lakukan, asal dia tetap ada di sisiku. Asal dia tetap ada bersamaku.
***
RUMAH VIONA
"Kok, kalian ke sini nggak menghubungi aku dulu? Ayo masuk!" kata tante Cindy. "Papa, Viona, ada tamu ini."
Dokter Vian dan Viona bergantian menyalami kami. Calon istriku itu nampak tersenyum senang sambil melingkarkan tangannya di lenganku.
"Ada apa? Apa yang membawa kalian malam-malam datang ke sini?" tanya tante Cindy.
"Cindy, ada yang ingin dikatakan oleh Arga pada kalian dan juga Viona," kata papa.
"Oh, ya? Apa yang ingin dikatakan menantuku yang ganteng ini? Ayo bilang!" kata tante Cindy.
Mungkin kelemahanku ini bersumber dari ketidak berdayaanku melawan takdir dan hatiku. Jika kehinaan akan menghempasku dari posisi tinggi ini, maka aku akan merelakannya.
Aku pandangi Viona yang terus melempar senyum padaku. Aku pandangi wajah kedua calon mertua yang selalu membanggakanku itu. Aku kumpulkan segala bentuk keberanian untuk mengungkapkan ganjalan besar dalam hatiku.
"Tante, saya ingin menikahi ... Luna."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=